MERAIH DERAJAT IHSAN
Bismillahirrahmannirahim,
DERAJAT IHSAN merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba.
Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba
الله yang khusus saja yang bisa mencapai derajat m
ulia ini. Oleh
karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu
meraihnya. Semoga الله ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di
dalamnya.
ANTARA ISLAM, IMAN DAN IHSAN
Suatu
ketika Malaikat Jibril عليه السلام datang di majelis Rasulullah صلی الله
علیﻪ و سلم dan para sahabatnya dalam rupa manusia, kemudian menanyakan
kepada Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم beberapa pertanyaan. Di antara
pertanyaannya adalah tentang makna Islam, Iman, dan IHSAN. Kemudian
Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم menjawabnya dan dibenarkan oleh Jibril.
Berdasarkan hadist riwayat Muslim , para ulama membagi agama Islam
menjadi tiga tingkatan yaitu islam, iman, dan IHSAN.
Tingkatan agama yang paling tinggi adalah IHSAN, kemudian iman, dan
paling rendah adalah islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki
sifat IHSAN) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba الله yang shalih.
Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika IHSAN sudah terwujud
berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba.
Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun
tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak
setiap mukmin itu mencapai derajat muhsin. Pelaku IHSAN adalah hamba
pilihan dari hamba-hamba الله yang shalih. Oleh karena itu, di dalam
الْقُرْآنَ disebutkan hak-hak mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak
yang lainnya.
MAKNA IHSAN
Kata IHSAN
(berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat buruk),
yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf dan
menahan diri dari dosa. Dia mendermakan kebaikan kepada hamba الله yang
lainnya baik melalui hartanya, kehormatannya, ilmunya, maupun raganya.
Adapun yang dimaksud IHSAN bila dinisbatkan kepada peribadatan kepada
الله adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululluah صلی الله علیﻪ و
سلم dalam hadist Jibril :
“’Wahai Rasulullah, apakah IHSAN
itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah الله seakan-akan kamu
melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia
melihatmu.” (H.R. Muslim 102)
Dalam hadits Jibril, tingkatan
Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun. Nabi صلی الله علیﻪ و سلم
menjelaskan mengenai IHSAN yaitu ‘Engkau beribadah kepada الله
seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya,
الله akan melihatmu.’ Itulah pengertian IHSAN dan rukunnya.
Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di menjelaskan bahwa IHSAN mencakup dua
macam, yakni IHSAN dalam beribadah kepada الله dan IHSAN dalam
menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada الله
maknanya beribadah kepada الله seolah-olah melihat-Nya atau merasa
diawasi oleh-Nya. Sedangkan IHSAN dalam hak makhluk adalah dengan
menunaikan hak-hak mereka. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu
yang wajib dan sunnah. Yang hukumnya wajib misalnya berbakti kepada
orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah
misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar
kewajiban seseorang. Salah satu bentuk IHSAN yang paling utama adalah
berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada kita, baik dengan
ucapan atau perbuatannya.
TINGKATAN IHSAN
Syaikh Sholeh Alu Syaikh hafidzahullah memberikan penjelasan bahwa inti
yang dimaksud dengan IHSAN adalah membaguskan amal. Batasan minimal
seseorang dapat dikatakan telah melakukan IHSAN di dalam beribadah
kepada الله yaitu apabila di dalam memperbagus amalannya niatnya ikhlas
yaitu semata-mata mengharap pahala-Nya dan sesuai dengan sunnah Nabi صلی
الله علیﻪ و سلم . Inilah kadar IHSAN yang wajib yang harus ditunaikan
oleh setiap muslim yang akan membuat keislamannya menjadi sah. Adapun
kadar IHSAN yang mustahab (dianjurkan) di dalam beribadah kepada الله
memiliki dua tingkatan, yaitu :
PERTAMA - TINGKATAN MUROQOBAH
Yakni seseorang yang beramal senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan
oleh الله dalam setiap aktivitasnya. Ini berdasarkan sabda Nabi صلی
الله علیﻪ و سلم
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
(jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu)
Tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu memperhatikan
sifat-sifat الله, dia yakin bahwa الله melihatnya. Tingkatan inilah yang
dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat,
dia merasa الله memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus
shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana الله firmankan dalam surat
Yunus ,
وَمَاتَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَاتَتْلُوا مِنْهُ مِنْ
قُرْءَانٍ وَلاَتَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا
إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ …{61}
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu
pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…” (Yunus: 61)
KEDUA - TINGKATAN MUSYAHADAH
Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, yaitu seseorang
senantiasa memeperhatikan sifat-sifat الله dan mengaitkan seluruh
aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut. Inilah realisasi dari sabda
Nabi صلی الله علیﻪ و سلم:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاه
(‘Kamu menyembah الله seakan-akan kamu melihat-Nya’)
Pada tingkatan ini seseorang beribadah kepada الله, seakan-akan dia
melihat-Nya. Yang dimaksud adalah memperhatikan sifat-sifat الله, yakni
dengan memperhatikan pengaruh sifat-sifat الله bagi makhluk. Apabila
seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap
sifat-sifat الله, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan الله pada
nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam
derajat IHSAN.
KEUTAMAAN IHSAN
الله سبحانا وتعاﱃ berfirman,
إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ {128}
“Sesungguhnya الله beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat IHSAN.” (An Nahl: 128)
Dalam ayat ini الله menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang bertakwa
kepada الله, yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi segala
yang haram. Kebersamaan الله dalam ayat ini adalah kebersamaan yang
khusus. Kebersamaan khusus yakni dalam bentuk pertolongan, dukungan, dan
petunjuk jalan yang lurus sebagai tambahan dari kebersamaan الله yang
umum (yakni pengilmuan الله). Makna dari firman الله وَالَّذِينَ هُم
مُّحْسِنُونَ ( dan orang-orang yang berbuat IHSAN) adalah yang mentaati
Rabbnya, yakni dengan mengikhlaskan niat dan tujuan dalam beribadah
serta melaksankanan syariat الله dengan petunjuk yang telah dijelasakan
oleh Rasulullah صلی ﷲ علیﻪ و سلم .
Dalam ayat lain الله berfirman,
وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى
التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {195}
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan الله, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
karena sesungguhnya الله menyukai orang-orang yang berbuat IHSAN.” (Al
Baqarah:195)
Ketika menafsirkan ayat ini Syaikh As Sa’di
menjelaskan bahwa IHSAN pada ayat ini mecakup seluruh jenis IHSAN. Hal
ini karena tidak ada pembatasan pada ayat ini. Maka termasuk di dalamnya
IHSAN dengan harta, kemuliaan, pertolongan, perbuatan memerintahkan
yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengajarkan ilmu yang
bermanfaat, dan perbuatan IHSAN lain yng diperintahkan oleh الله.
Termasuk di dalamnya juga adalah IHSAN dalam beribadah kepada الله. Hal
ini sebagaimnan sabda Nabi ‘Kamu menyembah الله seakan-akan kamu
melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia
melihatmu ..’ Barangsiapa yang memiliki sifat IHSAN tersebut, maka dia
tergolong orang-orang yang الله terangkan dalam firman-Nya (artinya):
“Bagi orang-orang yang berbuat IHSAN, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya (melihat wajah الله سبحانا وتعاﱃ)” (QS Yunus: 26) الله
akan bersamanya, memberinya petunjuk, membimbingnya, serta menolongnya
dalam setiap urusannya.
الله سبحانا وتعاﱃ juga berfirman (artinya),
“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) الله dan Rasulnya-Nya
serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya الله menyediakan
bagi siapa yang berbuat IHSAN (kebaikan) diantaramu pahala yang besar.”
(Al Ahzab: 29)
PENERAPAN MAKNA IHSAN DALAM KEHIDUPAN
Pembaca yang dirahmati الله, sikap IHSAN ini harus berusaha kita
terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita berbuat amalan kataatan,
maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk الله. Sebaliknya jika
terbesit niat di hati kita untuk berbuat keburukan, maka kita TIDAK
mengerjakannya karena sikap IHSAN yang kita miliki. Seseorang yang sikap
IHSANNYA kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat
senang الله yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat
kejahatan karena dia selalu yakin الله melihat perbuatannya. IHSAN
adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba.
Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan
berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada
tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, di mata الله
tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah
naik ke tingkat IHSAN dalam seluruh amalannya. Kalau kita cermati
pembahasan di atas, untuk meraih derajat IHSAN, sangat erat kaitannya
dengan benarnya pengilmuan seseorang tentang nama-nama dan sifat-sifat
الله.
Semoga Allah memberi kita karunia IHSAN dan
mewujudkan IHSAN dalam diri kita, sebelum الله mengambil ruh ini dari
jasad kita. Semoga bermanfaat. Allahul musta’an ..
Aamiin yaa Robbal alamin ..
Wallahua'lam bishawab,
Abu ‘Athifah Adika Mianoki
DOA SAAT MEMASUKI USIA 40 TAHUN
Bismillahirrahmannirahim,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan
salam atas hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi
Wasallam , keluarga dan para sahabatnya.
رَبِّ أَوْزِعْنِي
أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ
وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي
تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Ya Tuhanku,
tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang
saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau
dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS.
Al-Ahqaf: 15)
Keistimewaan Umur 40 Tahun
Sebagian
orang menyebut, umur empat puluh tahun penuh teka-teki dan penuh
misteri. Sehingga terbit sebuah buku berjudul, "Misteri Umur 40 tahun"
yang diterbitkan pustaka al-tibyan – Solo, diterjemahkan dari buku
berbahasa Arab, Ya Ibna al-Arba'in, oleh Ali bin Sa'id bin Da'jam.
Seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun berarti akalnya sudah
sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai
kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak
akan berubah kondisi seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun.
Al-Tsa'labi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Allah menyebutkan umur
40 tahun karena ini sebagai batasan bagi manusia dalam keberhasilan
maupun keselamatannya."
Ibrahim al-Nakhai rahimahullah berkata,
"Mereka berkata bahwa jika seseorang sudah mencapai umur 40 tahun dan
berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah
hingga datang kematiannya." (Lihat: al-Thabaqat al-Kubra: 6/277)
Allah Ta'ala telah mengangkat para nabi dan Rasul-Nya, kebanyakan, pada
usia 40 tahun, seperti kenabian dan kerasulan Muhammad, Nabi Musa, dan
lainnya 'alaihim al-Shalatu wa al-Sallam. Meskipun ada pengecualian
sebagian dari mereka.
Imam al-Syaukani rahimahullah berkata,
"Para ahli tafsir berkata bahwa Allah Ta'ala tidak mengutus seorang Nabi
kecuali jika telah mencapai umur 40 tahun." (Tafsir Fathul Qadir: 5/18)
Dengan demikian, usia 40 tahun memiliki kekhususan tersendiri. Pada
umumnya, usia 40 tahun adalah usia yang tidak dianggap biasa, tetapi
memiliki nilai lebih dan khusus.
Dihikayatkan, al-Khalil
bin Ahmad al-Farahidi adalah seorang laki-laki yang shalih, cerdas,
sabar, murah hati, berwibawa dan terhormat. Ia berkata, "manusia yang
paling sempurna akal dan pikirannya adalah apabila telah mencapai usia
40 tahun. Itu adalah usia, di mana pada usia tersebut Allah Ta'ala
mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan pikiran manusia
akan sangat jernih pada waktu sahur." (Lihat: al-Wafyat A'yan, Ibnu
Khalkan: 2/245)
Disebutkan tentang biografi al-Hafidz
Jalaluddin al-Suyuthi, "Bahwa ketika mencapai umur 40 tahun ia
berkonsentrasi untuk beribadah dan memutuskan diri dari hubungan dengan
manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, dan ia berpaling
dari semua urusan dunia dan umat manusia, seakan-akan ia tidak pernah
kenal seorangpun dari mereka. Dan ia terus menyusun karya-karya
tulisnya. . ." (Syadzratu al-Dzahab: 8/51)
Al-Qur'an Menyebut Umur 40 Tahun
Cukuplah Al-Qur'an yang telah menyebutkan umur 40 tahun dengan tegas
itu menjadi perhatian. Sehingga kita lihat, saat memasuki usia ini para
ulama mencapai kebaikan amal mereka dan menjadikannya sebagai hari-hari
terbaik dalam hidupnya.
Allah Ta'ala berfirman,
حَتَّى
إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ
أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى
وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي
ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun
ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau
yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku
dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan
kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku
bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri"." (QS. Al-Ahqaf: 15)
Umur 40 Tahun dan Syukur
Ayat di atas mengisyaratkan, saat sudah menginjak usia 40 tahun
hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah juga
kepada orang tuanya. Ia memohon kepada-Nya, agar diberi hidayah, taufik,
dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan kesyukuran ini. Karena
segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan
izin-Nya, sehingga ia meminta hal itu kepada-Nya. Ini sebagaimana doa
yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Mu'adz bin Jabal
Radhiyallahu 'Anhu, "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, Janganlah
engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِك ، وَشُكْرِك وَحُسْنِ عِبَادَتِك
"Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir, beryukur, dan memperbaiki
ibadah kepada-Mu." (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai dengan sanad yang
kuat)
Karena sesungguhnya seorang hamba pasti sangat butuh
kepada pertolongan Tuhannya dalam menjalankan perintah, menjauhi
larangan, dan sabar atas ketetapan-ketetapan takdir-Nya. (Dinukil dari
Subulus Salam, Imam al-Shan'ani)
Sebenarnya bersyukur itu
sepanjang umur. Dan dikhususkan pada umur 40 tahun ini karena pada saat
usia ini seseorang benar-benar harus sudah mengetahui segala nikmat
Allah yang ada padanya dan pada orang tuanya, lalu ia mensyukurinya.
Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata, "Allah Ta'ala
menyebutkan orang yang sudah mencapai umur 40 tahun, maka sesungguhnya
telah tiba baginya untuk
mengetahui nikmat Allah Ta'ala yang ada padanya dan kepada kedua orang tuanya, kemudian mensyukurinya."
Sesungguhnya hakikat syukur itu mencakup tiga komponen; hati, lisan,
dan anggota badan. Hati dengan mengakui bahwa semua nikmat itu berasal
dari pemberian Allah. Lisan dengan menyebut-nyebut dan menyandarkan
nikmat itu kepada-Nya serta memuji-Nya. Sementara anggota badan adalah
dengan menggunakan nikmat itu untuk taat kepada-Nya, yakni untuk
menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karenanya,
disebutkan dalam ayat, "Dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh
yang Engkau ridai."
Ditekankan Bersyukur Kepada Orang Tua
Saat seseorang berumur 40 tahun, maka ia memiliki tanggungjawab di
tengah keluarga dan masyarakat yang lebih besar. Anak-anak memerlukan
biaya yang lebih untuk pendidikan dan lainnya. Sementara orang tuanya,
pastinya sudah renta dan sangat memerlukan bantuan dari anak-anaknya. Di
sinilah sering seseorang melupakan orang tuanya karena konsentrasinya
yang lebih terhadap keluarga dan anak-anaknya. Padahal seharusnya dengan
bertambahnya umur semakin membuat ia sadar akan jasa-jasa orang tuanya
kepada dirinya. Sehingga disebutkan dalam hadits, "Merugilah seseorang,
merugilah seseorang, merugilah seseorang yang mendapatkan kedua orang
tuanya, salah seorang atau kedua-duanya, tapi tidak bisa masuk surga
(dengan itu)." Dalam riwayat lain, "Tapi keduanya tidak bisa
memasukkannya ke dalam surga." (HR. Ahmad dan lainnya)
Ayat
tentang kewajiban berbuat ihsan kepada orang tua di atas diawali dengan
perintah untuk mentahidkan Allah, ikhlas ibadah kepada-Nya, dan
istiqamah di atasnya. Seolah menunjukkan, saat Allah perintahkan untuk
mentauhidkan-Nya ada di antara hamba yang menyambut dan ada pula yang
menentang. Sama juga dengan perintah berbakti kepada orang tua, ada
manusia yang berbakti kepada orang tuanya dan ada pula yang malah
durhaka.
Juga mengisyaratkan, agar tidak membedakan dan
membentukan berbuat ihsan kepada orang tua dengan mentauhidkan Allah.
Sesungguhnya berbuat ihsan kepada kedua orang tua itu bagian dari ibadah
kepada Allah. Sehingga tidak boleh dalam berbuat ihsan tersebut
melanggar nilai-nilai ketauhidan. Walau besar hak orang tua atas anak,
tidak boleh mentaati keduanya dalam maksiat kepada Allah. Karena
tetaplah nikmat yang orang tua dapatkan itu berasal dari Allah juga.
Bentuk berbuat ihsan kepada orang tua yang diperintahkan dalam ayat
tersebut mencakup segala bentuk berbuat baik seperti memenuhi nafkah
orang tua, memnuhi kebutuhannya, mentaati perintahnya yang ma'ruf,
menghidarkan dari bahaya, mengobatkannya jika sakit, menghiburnya jika
sedih, dan memohonkan ampun dan doa untuk kedunya, serta yang lainnya.
Mempersiapkan keturunan yang kuat , baik dalam Iman maupun pengetahuan dunia
Sesudah seorang muslim diperintah berbuat baik kepada orang yang di
atasnya dan mengerjakan amal shalih untuk dirinya, janganlah ia lupa
terhadap anak keturunanya. Ia juga wajib memperhatikan pendidikan dan
pengarahan mereka, agar menjadi orang yang taat kepada Allah Ta'ala.
Karena mereka adalah amanat yang harus diarahkan untuk taat kepada
Tuhan-Nya.
Dan sesungguhnya di antara balasan baik dari amal
shalih mereka adalah diperbaiki keturunan mereka. Baiknya orang tua akan
berefek kepada perbaikan anak. Ini juga menjadi pelajaran, dalam
melakukan pendidikan kepada anak haruslah orang tua memulai dari
menshalihkan diri mereka dengan ilmu dan amal. Di samping supaya bisa
menjadi teladan, baiknya anak keturunan juga menjadi balasan bagi
dirinya.
Syaikh al-Sa'di berkata dalam menafsirkan ayat di
atas, "Sesungguhnya baiknya orang tua dengan ilmu dan amal termasuk
sebab yang besar untuk baiknya anak-anak mereka."
Selain itu,
berdoa sebagai bagian dari tawakkal kepada Allah dalam usaha tidak boleh
dianggap ringan. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari dari
jemari Allah Ta'ala yang diarahkan kepada Dia kehendaki. Oleh sebab
itu, kita dapatkan doa dari para Nabi dan orang-orang shalih untuk
keshalihan anak-anak mereka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Hatim, ada seorang lelaki yang mengadikan tentang anaknya kepada Thalhah
bin Musharrif Radhiyallahu 'Anhu, maka Thalhah berkata kepadanya,
"Minta tolonglah dalam masalah anakmu dengan ayat,
رَبِّ
أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى
وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي
ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat
berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku
dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat
kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah
diri." (QS. Al-Ahqaf: 15)
Memperbaharui Taubat
Usia 40 tahun haruslah menjadi titik tolak dan perbaharuan taubat
penyesalan seseorang atas dosa-dosa dan kufur nikmat selama hidupnya.
Karena pada usia ini benar-benar telah merasakan banyaknya nikmat dan
tidak sebandingnya rasa syukur terhadapnya. Maka pengakuan dosa pasti
akan mengalir dari orang yang mau merenungkan masa lampaunya, sehingga
dari itu lahir penyesalan, tumbuh istighfar dan taubat kepada Allah.
" Wahai Allah , Tuhan kami , tunjukilah kami untuk mensyukuri nikmat
yang telah Engkau berikan kepada kami dan kepada ibu bapak kami dan
karuniakan kami untuk dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai
.. berilah kebaikan kepada kami dan anak cucu kami .. Sesungguhnya kami
bertobat kepada MU dan sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang
berserah diri."
" Wahai Allah, Tuhan kami , bantulah kami untuk berdzikir, bersyukur ..., dan memperbaiki ibadah2 kami kepada-Mu."
Aamiin yaa Robbal alamin ..
(Doa ini tidak dikhususkan untuk usia 40 tahun saja, semuanya bisa
mengamalkan doa ini sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan agar
istiqomah dalam ketaatan)
KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN
(Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat)
Bismillahirahmanirrahim ,
Sahabat yang dimuliakan Allah, marilah sejenak kita membayangkan
masa-masa kelak , akhir dari kehidupan dunia kita ... menuju pada alam
kehidupan yang sebenarnya. Semoga perenungan ini bermanfaat sebagai
penguat keimanan bagi kita bersama . Aamiin.
Setelah meninggal , kita akan mengalami tahapan sbb :
1.Alam Barzakh
Para ulama bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di
alam kubur (barzakh) . Pertanyaan kubur itu berlaku terhadap ruh dan
jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir.
Dalam sebuah
hadits shahih disebutkan Rasulullah shallahu alaihiwasalam selalu
berlindung kepada Allah Subhana wa Ta'ala dari siksa kubur. Rasulullah
SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab
kubur, kemudian di akhir hayatnya belum sempat bertaubat , belum
membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak
masuk surga karena hutangnya) dan orang yang enggan bersuci dari buang
air kecil, sehingga masih bernajis
Adapun yang dapat
menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum,
zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung silaturahim,
segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , juga
berlindung kepada Allah Subhana wa Ta'ala dari adzab kubur.
2. Peniupan Sangkakala
Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang
menunggu kapan diperintahkan Allah Subhana wa Ta'ala . Tiupan yang
pertama akan mengejutkan manusia dan membinasakan mereka dengan kehendak
Allah Subhana wa Ta'ala, seperti dijelaskan pada Al Qur’an :
“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi,
kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”( QS. Az Zumar :68 ).
Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras
dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia
akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan
digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta.
Setelah I tu keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.
Allah Subhana wa Ta'ala menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya :
>> “ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya
kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar
(dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu,
lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya
dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia
dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi
adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).
Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ;
>> “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar
dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.(QS. Yaa Siin :
51).
Rasulullah Shallahu alaihi wasalam bersabda,
“Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali
semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah Subhana wa Ta'ala menurunkan hujan
seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia.Kemudian
sangkakala yang kedua ditiup kembali, dan manusia pun bermunculan
(bangkit) dan berdiri”.(HR. Muslim).
3. Hari Berbangkit
“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu
diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah
mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah
melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al
Mujadilah : 6).
4. Padang Mahsyar
“(Yaitu) pada
hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula)
langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke
hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48).
Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap
dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari
yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman:
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4).
Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.
Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka,
(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di
dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. (QS.Yunus:45).
“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang
berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja”
(QS. ArRuum:55).
Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.
Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin
seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan
anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang
melindunginya ketika di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya,
kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa ’arij:11-14).
5. Syafaat
Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat
syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang
musyrik, kafir dan munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.
Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah Subhana wa Ta'ala)
6. Hisab
Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka
perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi
dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqamahan atau kekafiran
Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap
umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu
kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al
Jatsiah:28).
Umat yang pertama kali dihisab adalah umat
Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang
pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah
Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah
urusan darah.
Allah Subhana wa Ta'ala mengatakan kepada orang
kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi
saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota
badan juga akan menjadi saksi.
Allah bertanya kepada hamba-Nya
tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami
pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan
dahulu”.(Al Hijr:92-93).
Seorang hamba akan ditanya tentang hal
: umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang
nikmat yang ia nikmati.
7. Pembagian catatan amal
Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.
Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah Subhana wa Ta'ala.
Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan
menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, seperti pada firman Allah berikut ini:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .
"Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:"wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku" (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya", kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala".(QS. Al Haqqah:25 31).
8. Mizan
Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”.(QS. Al Anbiya:47)
Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.
Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga
9. Telaga
Umat Muhammad shallahu alaihiwasalam akan mendatangi air pada telaga tersebut . Barang siapa minum dari telaga tersebut maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah shallahu alaihiwasalam lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :
Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak (HR. Bukhari Muslim).
Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).
10. Ujian Keimanan Seseorang
Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.
Allah Subhana wa Ta'ala berfirman,
>> ”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13).
Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.
11. Shirat
Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).
Beberapa Hadits tentang Shirath
Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata :
Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)
“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)
“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angin, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)
Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad shallahu alaihiwasalam dan para pemimpin umat beliau. Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul, dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.(HR. Bukhari).
Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan
12. Jembatan
Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.
Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia. Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”. (HR. Bukhari).
Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.
****
Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu..., apa yang akan kita alami di hari akhir nanti..., tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini….
Semoga Allah Subhana wa Ta'ala memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai Ridha dan Cinta Nya.
Ya Allah…, bimbinglah, sayangilah dan kuatkanlah kami .. agar sampai kepada MU dengan selamat .. atas pertolongan dan Rahmat Mu .. Wahai Allah yang Maha Penyayang dan Maha Menguasai ... Aamiin yaa Robbal alaamiin.
Wallahu a'lam bishawab.
Salam Ukhuwah & Istiqomah
Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.
Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah Subhana wa Ta'ala.
Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan
menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, seperti pada firman Allah berikut ini:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .
"Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:"wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku" (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya", kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala".(QS. Al Haqqah:25 31).
8. Mizan
Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”.(QS. Al Anbiya:47)
Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.
Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga
9. Telaga
Umat Muhammad shallahu alaihiwasalam akan mendatangi air pada telaga tersebut . Barang siapa minum dari telaga tersebut maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah shallahu alaihiwasalam lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :
Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak (HR. Bukhari Muslim).
Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).
10. Ujian Keimanan Seseorang
Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.
Allah Subhana wa Ta'ala berfirman,
>> ”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13).
Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.
11. Shirat
Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).
Beberapa Hadits tentang Shirath
Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata :
Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)
“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)
“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angin, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)
Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad shallahu alaihiwasalam dan para pemimpin umat beliau. Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul, dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.(HR. Bukhari).
Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan
12. Jembatan
Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.
Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia. Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”. (HR. Bukhari).
Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.
****
Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu..., apa yang akan kita alami di hari akhir nanti..., tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini….
Semoga Allah Subhana wa Ta'ala memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai Ridha dan Cinta Nya.
Ya Allah…, bimbinglah, sayangilah dan kuatkanlah kami .. agar sampai kepada MU dengan selamat .. atas pertolongan dan Rahmat Mu .. Wahai Allah yang Maha Penyayang dan Maha Menguasai ... Aamiin yaa Robbal alaamiin.
Wallahu a'lam bishawab.
Salam Ukhuwah & Istiqomah
DOA DAN TADHARRU' (PERNYATAAN KEHINAAN DIRI DIHADAPAN ALLAH)
Maha Suci Engkau ya Allah ..
Wahai Dzat yang Maha Besar,
Wahai Dzat yang Maha Menyayangi,
Wahai Dzat yang Maha Merahmati,
Puji yang tak berbatas untuk Mu ..
sebanyak bilangan makhluk Mu ..
sebanyak bilangan Keridhaan-Mu ..
sebanyak timbangan ‘Arsy-Mu
sebanyak bilangan kalimat- Mu ...
Segala Puji bagi MU ..
Pujian atas Kebesaran dan Kemuliaan MU ...
Pujian yg berdiri dgn Kebesaran dan kemuliaan Wajah-MU ..
dan Keagungan Kekuasaan-MU..
Ya Allah,
Tak ada satupun urusan kami tersembunyi bagiMu
Dan kami adalah orang yang sangat berhajat
Yang memohon perlindunganMu
yang senantiasa dalam keterbutuhan
akan Rahmat MU ...
Ya Rabbi ..
Ampunilah kami ..
Tertatih-tatih kami menggapai Cinta MU ..
Ijinkan kami bersimpuh kepada MU
Dengan segenap ketidakmampuan kami
untuk bersyukur atas segenap nikmat MU ..
Wahai Allah yang Maha Pemurah,
Janganlah Kau jadikan kami
Orang yang malang dan celaka dalam berdoa kepada Engkau
Sayangi kami dengan segenap Naungan MU ..
Peliharalah Agama kami ..
Peliharalah dunia tempat kami bernaung ..
Peliharalah akhirat tempat kami kembali ..
Wahai Allah Sebaik-baik Dzat Pemberi Karunia ...
Kami mohon kepada MU
dengan simpulan simpulan kebesaran dari 'Arasy MU
dengan kunci kunci rahmatMU
Lembutkanlah terhadap kami, keluarga kami ,
serta seluruh kaum Muslimin dimanapun berada
dengan karunia dan kemurahan MU ...
Wahai Allah Yang dekat dan Tidak Jauh
Wahai Allah Yang Hadir selalu dalam hati ..
Ya Allah, Ya Samii', Ya Bashir
Cukuplah Engkau bagi kami ..
Tiada Ilah selain MU ..
Subhanallah ..walhamdulillah .. walaa 'ilaahailallah
Allahu Akbar ..
Aamin Allahu ya Karim ..
Wahai Allah yang Maha Pemurah,
Janganlah Kau jadikan kami
Orang yang malang dan celaka dalam berdoa kepada Engkau
Sayangi kami dengan segenap Naungan MU ..
Peliharalah Agama kami ..
Peliharalah dunia tempat kami bernaung ..
Peliharalah akhirat tempat kami kembali ..
Wahai Allah Sebaik-baik Dzat Pemberi Karunia ...
Kami mohon kepada MU
dengan simpulan simpulan kebesaran dari 'Arasy MU
dengan kunci kunci rahmatMU
Lembutkanlah terhadap kami, keluarga kami ,
serta seluruh kaum Muslimin dimanapun berada
dengan karunia dan kemurahan MU ...
Wahai Allah Yang dekat dan Tidak Jauh
Wahai Allah Yang Hadir selalu dalam hati ..
Ya Allah, Ya Samii', Ya Bashir
Cukuplah Engkau bagi kami ..
Tiada Ilah selain MU ..
Subhanallah ..walhamdulillah .. walaa 'ilaahailallah
Allahu Akbar ..
Aamin Allahu ya Karim ..



0 komentar:
Posting Komentar