MEMBAHAS BAHAYANYA UCAPAN YANG TIDAK TERJAGA. bagian 2
Kemampuan berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan
kepada manusia, untuk berkomunikasi dan menyampaikan
keinginan-keinginannya dengan sesama manusia. Ungkapan yang keluar dari
mulut manusia bisa berupa ucapan baik, buruk, keji, dsb.
Agar kemampuan berbicara yang menjadi salah satu ciri manusia ini
menjadi bermakna dan bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia
untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Allah SWT berfirman :
“Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku. “Hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syaitan itu menimbulkan
perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh
yang nyata bagi manusia.” QS. 17: 53
”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” QS. 16:125
Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. Muttafaq alaih
“ Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punya maka dengan ucapan yang baik “ Muttafaq alaih
“Ucapan yang baik adalah sedekah” HR. Muslim.
KEUTAMAAN DIAM
Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dan tidak
ada yang dapat menahannya kecuali diam. Oleh karena itu dalam agama kita
dapatkan anjuran diam dan perintah pengendalian bicara. Sabda Nabi:
“ Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya
(kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk sorga”
HR. Al Bukhariy
“Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya.
Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya” HR
Ahmad
Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk
surga, Rasul menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan
ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab : “dua
lubang, yaitu mulut dan kemaluan” HR. At Tirmidziy
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang bisa menjaga mulutnya, Allah akan tutupi keburukannya” HR. Abu Nuaim.
Ibnu Mas’ud berkata : “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan dari pada mulutku sendiri”
Abu Darda berkata : “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif.
Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih
banyak mendengar dari pada berbicara.
MACAM-MACAM AFATUL-LISAN, PENYEBAB DAN TERAPINYA
Ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan dalam empat
kelompok : murni membahayakan, ada bahaya dan manfaat, tidak
membahayakan dan tidak menguntungkan, dan murni menguntungkan.
Ucapan yang murni membahayakan maka harus dijauhi, begitu juga yang
mengandung bahaya dan manfaat. Sedangkan ucapan yang tidak ada untung
ruginya maka itu adalah tindakan sia-sia, merugikan. Tinggallah yang
keempat yaitu ucapan yang menguntungkan.
Berikut ini akan kita bahas afatul lisan dari yang paling tersembunyi
sampai yang paling berbahaya. Ada dua puluh macam bahaya lisan, yaitu :
1. Berbicara sesuatu yang tidak perlu
Rasulullah SAW bersabda : “Di antara ciri kesempurnaan Islam
seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia
perlukan” HR At Tirmidziy
Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya anda diam
tidak berdosa, dan tidak akan membahayakan diri maupun orang lain.
Seperti menanyakan sesuatu yang tidak diperlukan. Contoh pertanyaan ke
orang lain “apakah anda puasa, jika dijawab YA, membuat orang itu riya,
jika dijawab TIDAK padahal ia puasa, maka dusta, jika diam tidak
dijawab, dianggap tidak menghormati penanya. Jika menghindari pertanyaan
itu dengan mengalihkan pembicaraan maka menyusahkan orang lain mencari –
cari bahan, dst.
Penyakit ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala
sesuatu. Atau basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau
sekedar mengisi waktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Perbuatan
ini termasuk dalam perbuatan tercela.
Terapinya adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang
paling berharga. Jika tidak dipergunakan secara efektif maka akan
merugikan diri sendiri. selanjutnya menyadari bahwa setiap kata yang
keluar dari mulut akan dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang
keluar bisa menjadi tangga ke sorga atau jaring jebakan ke neraka.
Secara aplikatif kita coba melatih diri senantiasa diam dari hal-hal
yang tidak diperlukan.
2. Fudhulul-Kalam ( Berlebihan dalam berbicara)
Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup
pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun
melebihi kebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup dikatakan
dengan satu kata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang
kedua ini “fudhul” (kelebihan). Firman Allah : “Tidak ada kebaikan pada
kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang
yang menyuruh bersedekah, berbuat ma’ruf, atau perdamaian di antara
manusia” QS.4:114.
Rasulullah SAW bersabda : “Beruntunglah orang yang dapat menahan
kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan hartanya “ HR. Al
Baghawiy.
Ibrahim At Taymiy berkata : Seorang mukmin ketika hendak berbicara,
ia berfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan, dan jika tidak maka
tidak diucapkan. Sedangkan orang fajir (durhaka) sesungguhnya lisannya
mengalir saja”
Berkata Yazid ibn Abi Hubaib :”Di antara fitnah orang alim adalah
ketika ia lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Jika orang lain
sudah cukup berbicara, maka mendengarkan adalah keselamatan, dan dalam
berbicara ada polesan, tambahan dan pengurangan.
3. Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)
Pembicaraan yang batil adalah pembicaraan ma’siyat, seperti
menceritakan tentang perempuan, perkumpulan selebritis, dsb, yang tidak
terbilang jumlahnya. Pembicaraan seperti ini adalah perbuatan haram,
yang akan membuat pelakunya binasa. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan ucapan yang Allah
murkai, ia tidak menduga akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka
Allah hingga hari kiamat” HR Ibn Majah.
“ Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang
paling banyak terlibat dalam pembicaraan batil” HR Ibnu Abiddunya.
Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya,
mereka menjawab: “ …dan adalah kami membicarakan yang batil bersama
dengan orang-orang yang membicarakannya” QS. 74:45
Terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan Al Qur’an, Allah SWT
memperingatkan orang-orang beriman :”…maka janganlah kamu duduk beserta
mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena
sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan
mereka.” QS. 4:140
4. Al Jidal (Berbantahan dan Perdebatan
Perdebatan yang tercela adalah usaha menjatuhkan orang lain dengan
menyerang dan mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak
akurat. Biasanya orang yang diserang merasa tidak suka, dan penyerang
ingin menunjukkan kesalahan orang lain agar terlihat kelebihan dirinya.
Hal ini biasanya disebabkan oleh taraffu’ (rasa tinggi hati) karena
kelebihan dan ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan tersesat suatu kaum setelah
mereka mendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan”
HR. At Tirmidziy
Imam Malik bin Anas berkata : “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan”
5. Al Khusumah (pertengkaran)
Jika orang yang berdebat menyerang pendapat orang lain untuk
menjatuhkan lawan dan mengangkat kelebihan dirinya. Maka al khusumah
adalah sikap ingin menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperoleh hak
atau harta orang lain, yang bukan haknya. Sikap ini bisa merupakan
reaksi atas orang lain, bisa juga dilakukan dari awal berbicara.
Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang
paling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar”
HR. Al Bukhariy
6. Taqa’ur fil-kalam (menekan ucapan)
Taqa’ur fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan
mamaksakan diri bersyaja’ dan menekan-nekan suara, atau penggunaan
kata-kata asing. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di
hari kiamat, adalah orang-orang yang buruk akhlaknya di antara kamu,
yaitu orang yang banyak bicara, menekan-nekan suara, dan
menfasih-fasihkan kata”. HR. Ahmad
Tidak termasuk dalam hal ini adalah ungkapan para khatib dalam
memberikan nasehat, selama tidak berlebihan atau penggunaan kata-kata
asing yang membuat pendengar tidak memahaminya. Sebab tujuan utama dari
khutbah adalah menggugah hati, dan merangsang pendengar untuk sadar. Di
sinilah dibutuhkan bentuk-bentuk kata yang menyentuh.
7. Berkata keji, jorok dan caci maki
Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap
jorok/tabu dengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengn
seksual, dsb. Hal ini termasuk perbuatan tercela yang dilarang agama.
Nabi bersabda :
“Jauhilah perbuatan keji. Karena sesungguhnya Allah tidak suka
sesuatu yang keji dan perbuatan keji” dalam riwayat lain :”Surga itu
haram bagi setiap orang yang keji”. HR. Ibnu Hibban
“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan jorok” HR. At Tirmidziy.
Ada seorang A’rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi : Sabda
Nabi : “Bertaqwalah kepada Allah, jika ada orang yang mencela
kekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka
dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci
maki siapapun. Kata A’rabiy tadi : “Sejak itu saya tidak pernah lagi
mencaci maki orang”. HR. Ahmad.
“Termasuk dalam dosa besar adalah mencaci maki orang tua sendiri”
Para sahabat bertanya : “Bagaimana seseorang mencaci maki orang tua
sendiri ? Jawab Nabi: “Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang
itu berbalik mencaci maki orang tuanya”. HR. Ahmad.
Perkataan keji dan jorok disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor,
yang menyakiti orang lain, atau karena kebiasaan diri akibat pergaulan
dengan orang-orang fasik (penuh dosa) atau orang-orang durhaka lainnya.
8. La’nat (kutukan
Penyebab munculnya kutukan pada sesama manusia biasanya adalah satu
dari tiga sifat berikut ini, yaitu : kufur, bid’ah dan fasik. Dan
tingkatan kutukannya adalah sebagai berikut :
a. Kutukan dengan menggunakan sifat umum, seperti : semoga Allah mengutuk orang kafir, ahli bid’ah dan orang-orang fasik.
b. Kutukan dengan sifat yang lebih khusus, seperti: semoga
kutukan Allah ditimpakan kepada kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi, dsb.
c. Kutukan kepada orang tertentu, seperti : si fulan
la’natullah. Hal ini sangat berbahaya kecuali kepada orang-orang
tertentu yang telah Allah berikan kutukan seperti Fir’aun, Abu Lahab,
dsb. Dan orang-orang selain yang Allah tentukan itu masih memiliki
kemungkinan lain
Kutukan yang ditujukan kepada binatang, benda mati , atau orang
tertentu yang tidak Allah tentukan kutukannya, maka itu adalah perbuatan
tercela yang haus dijauhi. Sabda Nabi :
“ Orang beriman bukanlah orang yang suka mengutuk” HR At Tirmidziy
“Janganlah kamu saling mengutuk dengan kutukan Allah, murka-Nya maupun jahanam” HR. At Tirmidziy.
“Sesungguhnya orang-orang yang saling mengutuk tidak akan mendapatkan syafaat dan menjadi saksi di hari kiamat” HR. Muslim
9. Ghina’ (nyanyian) dan Syi’r (syair)
Syair adalah ungkapan yang jika baik isinya maka baik nilainya, dan
jika buruk isinya buruk pula nilainya. Hanya saja tajarrud ( menfokuskan
diri) untuk hanya bersyair adalah perbuatan tercela. Rasulullah SAW
bersabda :
“Sesungguhnya memenuhi rongga dengan nanah, lebih baik dari pada
memenuhinya dengan syair” HR Muslim. Said Hawa mengarahkan hadits ini
pada syair-syair yang bermuatan buruk.
Bersyair secara umum bukanlah perbuatan terlarang jika di dalamnya
tidak terdapat ungkapan yang buruk. Buktinya Rasulullah pernah
memerintahkan Hassan bin Tsabit untuk bersyair melawan syairnya orang
kafir.
10. Al Mazah (Sendau gurau)
Secara umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama,
kecuali sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan
sering kali terdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang
diperbolehkan adalah gurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak
menyakiti orang lain, tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan.
Seperti gurauan Nabi dengan istri dan para sahabatnya.
Kebiasaan bergurau akan membawa seseorang pada perbuatan yang kurang
berguna. Disamping itu kebiasaan ini akan menurunkan kewibawaan.
Umar bin Khatthab berkata : “Barang siapa yang banyak bercanda, maka ia akan diremehkan/dianggap hina”.
Said ibn al Ash berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, janganlah
bercanda dengan orang mulia, maka ia akan dendam kepadamu, jangan pula
bercanda dengan bawahan maka nanti akan melawanmu”
11. As Sukhriyyah (Ejekan) dan Istihza’( cemoohan)
Sukhriyyah berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkan
aib/kekurangannya untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan atau
peragaan di hadapannya. Jika dilakukan tidak di hadapan orang yang
bersangkutan disebut ghibah (bergunjing).
Perbuatan ini terlarang dalam agama. Firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang
lain (karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka
yang mengolok-olok dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olok
wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok itu lebih
baik dari yang mengolok-olok “ QS. 49:11
Muadz bin Jabal ra. berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Barang
siapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia tidak
akan mati sebelum melakukannya” HR. At Tirmidziy
12. Menyebarkan rahasia
Menyebarkan rahasia adalah perbuatan terlarang. Karena ia akan
mengecewakan orang lain, meremehkan hak sahabat dan orang yang dikenali.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat,
adalah orang laki-laki yang telah menggauli istrinya, kemudian ia
ceritakan rahasianya”. HR. Muslim
13. Janji palsu
Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan
memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda
kemunafikan seseorang.
Firman Allah : “Wahai orang-orang beriman tepatilah janji…” QS 5:1
Pujian Allah SWT pada Nabi Ismail as: “Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya..” QS 19:54
Rasulullah SAW bersabda : “ada tiga hal yang jika ada pada seseorang
maka dia adalah munafiq, meskipun puasa, shalat, dan mengaku muslim.
Jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khiyanat”
Muttafaq alaih dari Abu Hurairah
14. Bohong dalam berbicara dan bersumpah
Berbohong dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan cacat yang paling busuk. Rasulullah SAW bersabda
“Sesungguhnya berbohong akan menyeret orang untuk curang. Dan
kecurangan akan menyeret orang ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang
yang berbohong akan terus berbohong hingga ia dicatat di sisi Allah
sebagai pembohong” Muttafaq alaih.
“Ada tiga golongan yang Allah tidak akan menegur dan memandangnya di
hari kiamat, yaitu : orang yang membangkit-bangkit pemberian, orang yang
menjual dagangannya dengan sumpah palsu, dan orang yang memanjangkan
kain sarungnya” HR Muslim.
“Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang, celaka dia, celaka dia” HR Abu Dawud dan At Tirmidziy
15. Ghibah (Bergunjing)
Ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama. Rasulullah
pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para
sahabat: ”Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi:
“ghibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia
mendengarnya ia tidak menyukainya.” Para sahabat bertanya : “Jika yang
diceritakan itu memang ada? Jawab Nabi : ”Jika memang ada itulah ghibah,
jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada” HR Muslim.
Al Qur’an menyebut perbuatan ini sebagai memakan daging saudara sendiri (QS. 49:12)
Ghibah bisa terjadi dengan berbagai macam cara, tidak hanya ucapan, bisa juga tulisan, peragaan. dsb.
Hal-hal yang mendorong terjadinya ghibah adalah hal-hal berikut ini :
1. Melampiaskan kekesalan/kemarahan
2. Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita
3. Merasa akan dikritik atau dcela orang lain, sehingga orang yang dianggap hendak mencela itu jatuh lebih dahulu.
4. Membersihkan diri dari keterikatan tertentu
5. Keinginan untuk bergaya dan berbangga, dengan mencela lainnya
6. Hasad/iri dengan orang lain
7. Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu
8. Menghina dan meremehkan orang lain
Terapi ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlak lainnya yaitu dengan ilmu dan amal.
Secara umum ilmu yang menyadarkan bahwa ghibah itu berhadapan dengan
murka Allah. Kemudian mencari sebab apa yang mendorongnya melakukan itu.
Sebab pada umumnya penyakit itu akan mudah sembuh dengan meotong
penyebabnya.
Menceritakan kekurangan orang lain dapat dibenarkan jika terdapat alasan berikut ini:
1. Mengadukan kezaliman orang lain kepada qadhi
2. Meminta bantuan untuk merubah kemunkaran
3. Meminta fatwa,seperti yang dilakukan istri Abu Sufyan pada Nabi.
4. Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan seseorang
5. Orang yang dikenali dengan julukan buruknya, seperti al a’raj (pincang), dst.
6. Orang yang diceritakan aibnya, melakukan itu dengan terang-terangan (mujahir)
Hal-hal penting yang harus dilakukan seseorang yang telah berbuat ghibah adalah :
1. Menyesali perbuatan ghibahnya itu
2. Bertaubat, tidak akan mengualnginya lagi
3. Meminta maaf/dihalalkan dari orang yang digunjingkan.
16. Namimah (adu domba)
Namimah adalah menyampaika pembicaraan seseorang kepada orang lain
17. Perkataan yang berlidah dua
18. Menyanjung
19. Kurang cermat dalam berbicara (asal bunyi)
20. Melibatkan diri secara bodoh pada beberapa pengetahuan dan pertanyaan yang menyulitkan
sumber,Jalan akhirat