1. MAKNA SEBUAH UJIAN BAGI SEORANG MUSLIM.
Allah menguji
hamba-Nya dengan dua bentuk ujian,berupa NIKMAT (kesenangan) dan BENCANA
(keburukan) .Banyak orang yang bisa tabah di saat menghadapi ujian
berupa kesulitan ,tetapi banyak yang terlena dan lalai saat di uji
dengan kesenangan.
Oleh karenanya BERSABAR dan BERSYUKUR adalah KUNCI segala galanya.
Alangkah indahnya bila kita dapat memahami hakekat sebuah ujian yang datang kepada kita semua.
UJIAN AKAN MENGHAPUS DOSA-DOSA KITA
Sabda Rasululloh shalallahu'alaihi wa sallam : Tidaklah sesuatu yang menimpa seorang muslim,baik itu penyakit biasa maupun penyakit menahun ,kegundahan dan kesedihan,atau hanya duri duri yang menusuknya,kecuali Allah akan menghapus semua kesalahannya dengan semua penderitaan yang telah ia alami.
(HR.Bukhari)
UJIAN AKAN MENGANGKAT DERAJAT
Rasulullah bersabda :
" Jika Allah menginginkan atas diri hamba-Nya suatu kebaikan,maka Allah akan mempercepat baginya cobaan di dunia.Dan jika Allah menginginkan atas diri hamba-Nya keburukan,maka DIA akan menahan cobaan tersebut dengan semua dosanya hingga dia menebusnya pada hari kiamat."
(HR.Tirmidzi).
Sungguh Allah telah menjanjikan sesuatu yang agung bagi mereka yang mampu bersabar atas ujian yang menimpanya.
" Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang sabar yaitu orang orang yang apabila di timpa musibah,mereka berkata (innalillahi wa inna illaihi rojiun).Mereka itulah orang yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan nya,dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk."
(QS.Al-Baqarah : 155-157).
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
Aamiin ya Robbal'alamiin...
4. Doa Agar Rumah Terhindar dari Syetan Hingga Pagi
Diriwayatkan oleh Ad-Darami dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’aib dari Ibnu Mas’ud r.a bahwa dia berkata:
“Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat Al-Baqarah di permulaan siang, maka ia tidak didekati syetan sampai sore. Dan jika ia membacanya sore hari, maka ia tidak akan didekati oleh syetan sampai pagi hari dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibenci keluarganya dan hartanya”
(HR. Ad-Darami dan Al-Baihaqi).
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Hakim dalam shahih-nya, dari Ibnu Mas’ud r.a, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:
“Barangsiapa membaca sepuluh ayat: empat ayat dari surat Al-Baqarah, ayat kursi, dan dua ayat sesudahnya, serta ayat-ayat terakhir dari Al-Baqarah tersebut, maka rumahnya tidak akan dimasuki oleh syetan sampai pagi”.
(HR. Ath-Thabrani).
Adapun keagungan dari surah Al Baqarah lainnya:
1. Rumah terbebas dari datangnya Syaitan.
Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Muslim dan An-Nasa’i meriwayatkan dari Suhail bin shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:
“Janganlah kamu menjadikan rumah kamu sebagai kuburan, sesungguhnya rumah yang di bacakan Surah Al-Baqarah tidak akan dimasuki syaitan“
2. Malaikat senang dengan bacaan surah Al-Baqarah.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Al-Laits, dari Yazid bin Al-Haad, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Usaid bin Hudhair:
“Pada suatu malam dia membaca surah Al-Baqarah sementara kudanya ditambat berhampiran dengannya. Tiba-tiba kudanya itu pun berputar-putar. Ketika Usaid berhenti membaca, kudanya itu pun kembali tenang. Kemudian Usaid membacanya kembali dan kudanya itu pun kembali bergerak dan berputar-putar. Tatkala dia berhenti membaca, kudanya kembali diam. Kemudian dia membacanya lagi, kudanya itu pun bergerak dan berputar-putar. Maka dia pun berhenti membacanya sedangkan puteranya Yahya berada berhampiran kuda tersebut. Oleh karena merasa bimbang dan kasihan jika kuda itu akan memijak anaknya, dia pun mengambil anaknya seraya penglihatannya mengadap ke langit dan dia melihat satu bayangan putih (berkelip-kelip ) sampai dia tidak melihatnya lagi”
Ketika pagi menjelang, dia pun menceritakan perihal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam.
Rasulullah bersabda: “Tahukah engkau apa itu ?”.
“Tidak“ Jawab Usaid.
Beliau pun bersabda: “Itulah malaikat yang mendekatimu untuk mendengar suara bacaanmu. Seandainya kamu terus membacanya (sampai pagi), niscaya pagi ini manusia akan dapat melihatnya tanpa terhalang”
(HR. Bukhari).
3. Mendapatkan Syafaat di Padang Mahsyar.
Surah Al baqarah dan surah Ali-Imran dipanggil surah Az-Zahrawain yang apabila dibaca akan mendapat syafaat di padang mahsyar kelak.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata:
“Aku pernah memdengar Rasulullah bersabda: “Bacalah Al-Quran karena Al-Quran itu akan memberi syafaat kepada pembacanya di Akhirat kelak. Dan bacalah Az-Zahrawain yaitu Surah Al-Baqarah dan Ali’-Imran, karena kedua surah itu akan datang pada hari kiamat, seolah-olah keduanya bagai tumpukan awan, atau 2 bentuk payung yang menaungi, atau dua kelompok burung yang mengembangkan sayapnya. Keduanya akan berdalih untuk membela pambacanya di hari kiamat“
(HR. Ahmad).
4. Terkabulnya Doa.
Ibnu Abbas r.a bercerita:
“Pada suatu ketika Malaikat Jibril berada disisi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam, tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini sebuah pintu dilangit, pada hari ini dibuka dan turun seorang malaikat memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, yaitu: FATIHUL KITAB dan akhir SURAH AL-BAQARAH. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya melainkan pasti permintaanmu diberi”
(HR. Muslim).
Source: Al-Qur’an.
Al Ma’tsurat Hasan Al Banna.
Tafsir Ibnu Katsir.
5. Keajaiban Sebuah Kelembutan
Kelembutan memberikan pengaruh besar dalam sebuah rumah tangga. Anugrah Allah yang satu ini, yang biasanya menjadi hak milik para istri, akan selalunya memberikan sebuah kebahagiaan. Kelembutan berarti berarti bersabar memahami orang lain, Kelembutan berarti ikhlas dalam senyum menerima apapun yang terjadi dan mewujudkannya dalam sikap yang terbaik, kelembutan berarti membalas betapapun sakitnya perlakuan orang lain dengan sebuah pembalasan yang justru dapat membahagiakannya. Kelembutan juga berarti menegur kesalahan dan menyatakan kesalahan orang lain tanpa harus menyakiti.
Absennya sikap ini membuat semuanya seringkali kacau, betapa tidak, walaupun seseorang mempunyai niat baik yang besar sekalipun dalam memulai sesuatu, namun jika hal tersebut disampaikan dengan cara yang kasar, maka akhirnya akan pasti tidak membahagiakan.
Ingatkah kita kisah tentang Rosululloh SAW yang selalu diludahi oleh seorang yahudi, yang mana Rosululloh SAW tidak pernah membalasnya dengan tindakan yang sama, malahan ketika si yahudi jatuh sakit, beliau SAW membalasnya dengan menjenguk si yahudi ke rumahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ternyata keluhuran dan kelembutan akhlak Rosululloh telah meruntuhkan segala kedengkian dan kerasnya hati si yahudi dan memberikan kesan dihatinya, sehingga tanpa diminta dan dipaksa, si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rosululloh SAW. Subhanallah…
Kehidupan yang tidak lepas dari sebuah masalah dan ujian, biasanya melahirkan suasana getir dan tegang yang menyebabkan hati menjadi sedikit keras. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Betapa bahagianya jika para suami memiliki pendamping yang menyejukkan hati dalam bersikap dan berkata.
Betapa damainya seorang suami yang memiliki istri yang tidak pernah memakai kata “aku ingin..” sebagai pencerminan dari egonya, kecuali pada kalimat: aku ingin semua orang yang ada di sekitarku bahagia.
~ Ya, ternyata tidak perlu menjadi sangat cantik,untuk disayang suami, karena dengan bersikap lembut, para istri telah memiliki kecantikan yang tak terbatas. Hal ini juga menjadikannya layak untuk disayang, bukan hanya suami, namun dengan semua orang disekitarnya, bahkan benda mati sekalipun.~
Kelembutan seorang wanita bukan berarti sosok yang lemah ataupun gampang menangis, justru dengan adanya kelembutan itulah seorang wanita sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa.
Kekuatan itu sendiri adalah, bahwa kelembutan seorang wanita bisa meluluhkan hati laki-laki yang keras sekalipun. Betapa bahagianya seorang suami yang mendapati partner hidupnya tersebut menegurnya dengan cara yang lembut, dan elegan.
Karena sudah menjadi sebuah kemakluman bagi semua istri bahwa biasanya seorang suami memiliki sebuah “gengsi” yang tidak mau di otak atik oleh siapapun. Ya itulah laki-laki, para suami kita.
Dan sekali lagi, semua itu akan tertaklukkan bukan justru dengan sebuah sikap kasar apalagi kekerasan, sifat lemah lembut mampu membawa mereka yang sedang terlupa untuk kembali kepada aturan dan jalan Allah subhanahu wata’ala.
~ Kelembutan berarti meluruskan dengan tanpa mematahkannya, dan memperbaiki dengan tanpa merusak satupun dari sisi-sisinya.~
Kelembutan juga berarti sinergi antara akal dan hati dan hal ini selalu berakhir dengan kebahagiaan.
Kelembutan tidak usah membeli dan rasa sayang sudah ada pada setiap diri.
Dan tergantung pada kemauan kita masing masing- masing untuk mau melaksanakannya atau tidak.
Sungguh, kedengaran berat sepertinya.
Tapi itulah contoh teladan yang diwariskan oleh orang-orang pilihan terdahulu kepada kita.
Dan dengan menjadikan diri kita bersemangat dan berusaha melatih diri agar senantiasa mampu bersikap lembut dan peka rasa ketika berinteraksi dengan siapapun, terutama dengan sang suami, maka insyaallah kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang menyejukkan (Syahidah)
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
6. Rahasia Gerakan Sholat
Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, “Sahabatku, engkau tadi belum shalat ”
Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat “gaya” shalat seperti itu.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, “Sahabatku,tolong ulangi lagi shalatmu, Engkau tadi belum shalat.”
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti “biasanya”, Rasulullah SAW menyuruh orang tersebut mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku ”
“Sahabatku,” kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu.”
Kisah dari Mahmud bin Rabi’ Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar “benar” gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, dan khusyuk.
Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal. Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna.
Hikmah Gerakan Shalat
Sebelum menyentuh makna bacaan shalat yang luar biasa, termasuk juga aspek “olah rohani” yang dapat melahirkan ketenangan jiwa, atau “jalinan komunikasi” antara hamba dengan Tuhannya, secara fisik shalat pun mengandung banyak keajaiban.
Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akan hikmah dan bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar, tumaninah serta istiqamah (konsisten dilakukan).
Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat, diungkapkan bahwa gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf dan mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh. Selain itu juga membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negatif dari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal.
“Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah.”
Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar). Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk.
Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
“Rukuklah dengan tenang (tumaninah).” Ketika rukuk, Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash). Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharap ke tempat sujud.
“Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak.” Apa maknanya? Saat berdiri dari dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.
“Selepas itu, sujudlah dengan tenang.” Apa maknanya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.
“Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang.” Apa maknanya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki. Subhanallah!
Masih ada gerakan-gerakan shalat lainnya yang pasti memiliki segudang keutamaan, termasuk keutamaan wudhu. Semua ini memperlihatkan bahwa shalat adalah anugerah terindah dari Allah SWT bagi hambanya yang beriman.
copi dari artikel islam smg bermanfat
Alangkah indahnya bila kita dapat memahami hakekat sebuah ujian yang datang kepada kita semua.
UJIAN AKAN MENGHAPUS DOSA-DOSA KITA
Sabda Rasululloh shalallahu'alaihi wa sallam : Tidaklah sesuatu yang menimpa seorang muslim,baik itu penyakit biasa maupun penyakit menahun ,kegundahan dan kesedihan,atau hanya duri duri yang menusuknya,kecuali Allah akan menghapus semua kesalahannya dengan semua penderitaan yang telah ia alami.
(HR.Bukhari)
UJIAN AKAN MENGANGKAT DERAJAT
Rasulullah bersabda :
" Jika Allah menginginkan atas diri hamba-Nya suatu kebaikan,maka Allah akan mempercepat baginya cobaan di dunia.Dan jika Allah menginginkan atas diri hamba-Nya keburukan,maka DIA akan menahan cobaan tersebut dengan semua dosanya hingga dia menebusnya pada hari kiamat."
(HR.Tirmidzi).
Sungguh Allah telah menjanjikan sesuatu yang agung bagi mereka yang mampu bersabar atas ujian yang menimpanya.
" Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang sabar yaitu orang orang yang apabila di timpa musibah,mereka berkata (innalillahi wa inna illaihi rojiun).Mereka itulah orang yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan nya,dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk."
(QS.Al-Baqarah : 155-157).
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
Aamiin ya Robbal'alamiin...
4. Doa Agar Rumah Terhindar dari Syetan Hingga Pagi
Diriwayatkan oleh Ad-Darami dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’aib dari Ibnu Mas’ud r.a bahwa dia berkata:
“Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat Al-Baqarah di permulaan siang, maka ia tidak didekati syetan sampai sore. Dan jika ia membacanya sore hari, maka ia tidak akan didekati oleh syetan sampai pagi hari dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibenci keluarganya dan hartanya”
(HR. Ad-Darami dan Al-Baihaqi).
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Hakim dalam shahih-nya, dari Ibnu Mas’ud r.a, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:
“Barangsiapa membaca sepuluh ayat: empat ayat dari surat Al-Baqarah, ayat kursi, dan dua ayat sesudahnya, serta ayat-ayat terakhir dari Al-Baqarah tersebut, maka rumahnya tidak akan dimasuki oleh syetan sampai pagi”.
(HR. Ath-Thabrani).
Adapun keagungan dari surah Al Baqarah lainnya:
1. Rumah terbebas dari datangnya Syaitan.
Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Muslim dan An-Nasa’i meriwayatkan dari Suhail bin shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:
“Janganlah kamu menjadikan rumah kamu sebagai kuburan, sesungguhnya rumah yang di bacakan Surah Al-Baqarah tidak akan dimasuki syaitan“
2. Malaikat senang dengan bacaan surah Al-Baqarah.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Al-Laits, dari Yazid bin Al-Haad, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Usaid bin Hudhair:
“Pada suatu malam dia membaca surah Al-Baqarah sementara kudanya ditambat berhampiran dengannya. Tiba-tiba kudanya itu pun berputar-putar. Ketika Usaid berhenti membaca, kudanya itu pun kembali tenang. Kemudian Usaid membacanya kembali dan kudanya itu pun kembali bergerak dan berputar-putar. Tatkala dia berhenti membaca, kudanya kembali diam. Kemudian dia membacanya lagi, kudanya itu pun bergerak dan berputar-putar. Maka dia pun berhenti membacanya sedangkan puteranya Yahya berada berhampiran kuda tersebut. Oleh karena merasa bimbang dan kasihan jika kuda itu akan memijak anaknya, dia pun mengambil anaknya seraya penglihatannya mengadap ke langit dan dia melihat satu bayangan putih (berkelip-kelip ) sampai dia tidak melihatnya lagi”
Ketika pagi menjelang, dia pun menceritakan perihal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam.
Rasulullah bersabda: “Tahukah engkau apa itu ?”.
“Tidak“ Jawab Usaid.
Beliau pun bersabda: “Itulah malaikat yang mendekatimu untuk mendengar suara bacaanmu. Seandainya kamu terus membacanya (sampai pagi), niscaya pagi ini manusia akan dapat melihatnya tanpa terhalang”
(HR. Bukhari).
3. Mendapatkan Syafaat di Padang Mahsyar.
Surah Al baqarah dan surah Ali-Imran dipanggil surah Az-Zahrawain yang apabila dibaca akan mendapat syafaat di padang mahsyar kelak.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata:
“Aku pernah memdengar Rasulullah bersabda: “Bacalah Al-Quran karena Al-Quran itu akan memberi syafaat kepada pembacanya di Akhirat kelak. Dan bacalah Az-Zahrawain yaitu Surah Al-Baqarah dan Ali’-Imran, karena kedua surah itu akan datang pada hari kiamat, seolah-olah keduanya bagai tumpukan awan, atau 2 bentuk payung yang menaungi, atau dua kelompok burung yang mengembangkan sayapnya. Keduanya akan berdalih untuk membela pambacanya di hari kiamat“
(HR. Ahmad).
4. Terkabulnya Doa.
Ibnu Abbas r.a bercerita:
“Pada suatu ketika Malaikat Jibril berada disisi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam, tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini sebuah pintu dilangit, pada hari ini dibuka dan turun seorang malaikat memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, yaitu: FATIHUL KITAB dan akhir SURAH AL-BAQARAH. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya melainkan pasti permintaanmu diberi”
(HR. Muslim).
Source: Al-Qur’an.
Al Ma’tsurat Hasan Al Banna.
Tafsir Ibnu Katsir.
5. Keajaiban Sebuah Kelembutan
Kelembutan memberikan pengaruh besar dalam sebuah rumah tangga. Anugrah Allah yang satu ini, yang biasanya menjadi hak milik para istri, akan selalunya memberikan sebuah kebahagiaan. Kelembutan berarti berarti bersabar memahami orang lain, Kelembutan berarti ikhlas dalam senyum menerima apapun yang terjadi dan mewujudkannya dalam sikap yang terbaik, kelembutan berarti membalas betapapun sakitnya perlakuan orang lain dengan sebuah pembalasan yang justru dapat membahagiakannya. Kelembutan juga berarti menegur kesalahan dan menyatakan kesalahan orang lain tanpa harus menyakiti.
Absennya sikap ini membuat semuanya seringkali kacau, betapa tidak, walaupun seseorang mempunyai niat baik yang besar sekalipun dalam memulai sesuatu, namun jika hal tersebut disampaikan dengan cara yang kasar, maka akhirnya akan pasti tidak membahagiakan.
Ingatkah kita kisah tentang Rosululloh SAW yang selalu diludahi oleh seorang yahudi, yang mana Rosululloh SAW tidak pernah membalasnya dengan tindakan yang sama, malahan ketika si yahudi jatuh sakit, beliau SAW membalasnya dengan menjenguk si yahudi ke rumahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ternyata keluhuran dan kelembutan akhlak Rosululloh telah meruntuhkan segala kedengkian dan kerasnya hati si yahudi dan memberikan kesan dihatinya, sehingga tanpa diminta dan dipaksa, si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rosululloh SAW. Subhanallah…
Kehidupan yang tidak lepas dari sebuah masalah dan ujian, biasanya melahirkan suasana getir dan tegang yang menyebabkan hati menjadi sedikit keras. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Betapa bahagianya jika para suami memiliki pendamping yang menyejukkan hati dalam bersikap dan berkata.
Betapa damainya seorang suami yang memiliki istri yang tidak pernah memakai kata “aku ingin..” sebagai pencerminan dari egonya, kecuali pada kalimat: aku ingin semua orang yang ada di sekitarku bahagia.
~ Ya, ternyata tidak perlu menjadi sangat cantik,untuk disayang suami, karena dengan bersikap lembut, para istri telah memiliki kecantikan yang tak terbatas. Hal ini juga menjadikannya layak untuk disayang, bukan hanya suami, namun dengan semua orang disekitarnya, bahkan benda mati sekalipun.~
Kelembutan seorang wanita bukan berarti sosok yang lemah ataupun gampang menangis, justru dengan adanya kelembutan itulah seorang wanita sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa.
Kekuatan itu sendiri adalah, bahwa kelembutan seorang wanita bisa meluluhkan hati laki-laki yang keras sekalipun. Betapa bahagianya seorang suami yang mendapati partner hidupnya tersebut menegurnya dengan cara yang lembut, dan elegan.
Karena sudah menjadi sebuah kemakluman bagi semua istri bahwa biasanya seorang suami memiliki sebuah “gengsi” yang tidak mau di otak atik oleh siapapun. Ya itulah laki-laki, para suami kita.
Dan sekali lagi, semua itu akan tertaklukkan bukan justru dengan sebuah sikap kasar apalagi kekerasan, sifat lemah lembut mampu membawa mereka yang sedang terlupa untuk kembali kepada aturan dan jalan Allah subhanahu wata’ala.
~ Kelembutan berarti meluruskan dengan tanpa mematahkannya, dan memperbaiki dengan tanpa merusak satupun dari sisi-sisinya.~
Kelembutan juga berarti sinergi antara akal dan hati dan hal ini selalu berakhir dengan kebahagiaan.
Kelembutan tidak usah membeli dan rasa sayang sudah ada pada setiap diri.
Dan tergantung pada kemauan kita masing masing- masing untuk mau melaksanakannya atau tidak.
Sungguh, kedengaran berat sepertinya.
Tapi itulah contoh teladan yang diwariskan oleh orang-orang pilihan terdahulu kepada kita.
Dan dengan menjadikan diri kita bersemangat dan berusaha melatih diri agar senantiasa mampu bersikap lembut dan peka rasa ketika berinteraksi dengan siapapun, terutama dengan sang suami, maka insyaallah kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang menyejukkan (Syahidah)
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
6. Rahasia Gerakan Sholat
Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, “Sahabatku, engkau tadi belum shalat ”
Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat “gaya” shalat seperti itu.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, “Sahabatku,tolong ulangi lagi shalatmu, Engkau tadi belum shalat.”
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti “biasanya”, Rasulullah SAW menyuruh orang tersebut mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku ”
“Sahabatku,” kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu.”
Kisah dari Mahmud bin Rabi’ Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar “benar” gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, dan khusyuk.
Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal. Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna.
Hikmah Gerakan Shalat
Sebelum menyentuh makna bacaan shalat yang luar biasa, termasuk juga aspek “olah rohani” yang dapat melahirkan ketenangan jiwa, atau “jalinan komunikasi” antara hamba dengan Tuhannya, secara fisik shalat pun mengandung banyak keajaiban.
Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akan hikmah dan bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar, tumaninah serta istiqamah (konsisten dilakukan).
Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat, diungkapkan bahwa gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf dan mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh. Selain itu juga membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negatif dari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal.
“Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah.”
Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar). Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk.
Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
“Rukuklah dengan tenang (tumaninah).” Ketika rukuk, Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash). Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharap ke tempat sujud.
“Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak.” Apa maknanya? Saat berdiri dari dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.
“Selepas itu, sujudlah dengan tenang.” Apa maknanya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.
“Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang.” Apa maknanya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki. Subhanallah!
Masih ada gerakan-gerakan shalat lainnya yang pasti memiliki segudang keutamaan, termasuk keutamaan wudhu. Semua ini memperlihatkan bahwa shalat adalah anugerah terindah dari Allah SWT bagi hambanya yang beriman.
copi dari artikel islam smg bermanfat


0 komentar:
Posting Komentar