Marilah kita Menyimak dan MERENUNGKAN
dengan keterangan tulisan dibawah ini.
Dari Ibnu Mas’ud
radliyallaahu ’anhu bahwasannya ia pernah berkata suatu saat ketika
sedang duduk : إنكم في ممرِّ الليل والنهار في اجال منقوصة، وأعمال
محفوظة، والموتُ يأتي بغتة، من زرع خيراًَ يُوشكُ أن يَحصُدَ رغبة، ومن زرع
شرًَّا يُوشكُ أن يحصد ندامةًَ، ولكل زارع مثل ما زرع، ولا يسبق بطيءٌ
بحظه، ولا يُدرك ُ حريص ما لم يُقدَّرْ له، فمن أُعطيَ خيرًا، فاللهُ
أَعطاه، ومن وُقي شرًَّا، فاللهُ وقاه، المتقون سادة، والفقهاءُ قادة،
ومجالستهم زيادة ”Sesungguhnya kalian berada di tengah perjalanan malam
dan siang, dalam ajal/usia yang selalu berkurang, dalam amal-amal yang
selalu dalam penjagaan (Allah). Sedangkan maut senantiasa datang dengan
tiba-tiba. Barangsiapa yang menanam kebaikan, niscaya ia akan menuai
kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menanam kejelekan, niscaya ia akan
menuai penyesalan. Setiap orang yang menanam akan menuai hasil
sebagaimana yang ia tanam. Seorang yang lambat tidaklah mendahului
(orang lain) dengan keberuntungannya. Begitu juga seorang yang tamak
tidaklah mendapatkan apa-apa yang tidak ditetapkan baginya. Barangsiapa
yang diberikan kebaikan, maka Allah lah yang memberikan (kebaikan itu)
kepadanya. Dan barangsiapa yang dijauhkan dari kejelekan, maka Allah lah
yang menjauhkan (kejelekan ) itu darinya. Orang-orang yang bertaqwa itu
adalah orang-orang yang mulia, dan para fuqahaa (ahli fiqh) para
pembimbung umat. Adapun duduk bermajelis dengan mereka semua adalah
keutamaan” [Siyaru A’lamin-Nubalaa’ 1/497]
Begitu besar
penciptaan langit dan bumi beserta isinya, memberi pengertian kepada
kita bahwa Allah menciptakannya bukan sekedar bermain-main.
Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main- main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada
Kami?” (QS. al-Mukminun: 115)
أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” ( QS. al-Qiyamah: 36)
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui”. ( QS. al-Ankabut: 64)
Sekiranya kehidupan yang
penuh keseimbangan ini tidak diciptakan untuk bersenda gurau, lalu untuk
apa Allah ciptakan?! Apa tugas manusia ? Apakah mereka hanya sekedar
makan, minum, menikah dan memiiki keluarga dan mempererat suku saja?!
Atau Ia hidup dalam tidak bertujuan sebagaimana Ia mati tidak
bertujuan?! tanah terakhir yang diletakkan oleh orang pada kuburannya,
itu pula akhir dan cerita kehidupannya?!
Bagaimana yang kaya
dengan kezhalimannya, bagaimana yang berkuasa dengan kediktatorannya?!
Apakah mereka dibiarkan begitu saja?! Bagaimana pula si miskin dengan
kefakirannya atau rakyat jelata dengan penderitaan mereka?! Kapan mereka
dapat kebahagiaan pula?! Bagaimana pula dengan para nabi dan rasul,
para ulama dan ahli ibadah yang terusir dan belum memperoleh
kebahagiaan?!
Sekiranya dunia ini diciptakan dengan keadilan
Sang Pencipta, tentu balasan baik atau buruk dengan keadilanNya juga?!
Sekiranya dunia ini mampu Dia ciptakan dari asal yang tidak ada, berarti
Dia pula mampu untuk membalas kebaikan dengan kebaikan dan keburukan
dengan keburukan.
Rasanya semua orang sepakat dengan tujuan
hidup yaitu mencari dan menggapai kebahagiaan. Semua manusia ingin
hidupnya bahagia, dan semua tahu bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu
perlu pengorbanan. Hanya saja, manusia banyak salah mencari jalan
kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang Ia sangka di
sana ada pantai kebahagiaan, padahal itu adalah jurang kebinasaan, itu
hanya sebatas fatamorgana kebahagiaan, bukan kebahagiaan yang hakiki.
Celakanya lagi, semakin dilalui jalan fatamorgana tersebut semakin jauh
pula Ia dari jalan kebahagiaán hakiki, kecuali Ia surut kembali ke
pangkal jalan.
Banyak orang menyangka kebahagiaan ada pada
harta, karenanya ia berupaya mencari sumber sumbernya dengan berletih
dan berpeluh. Setelah Ia peroleh harta tersebut, hatinya tetap gundah
dan perasaan masih gelisah!! Ada saja yang membuat hati itu gelisah,
kadang-kadang munculnya dari anak-anaknya, kadang-kadang dari istrinya
atau tidak jarang juga datang dari usaha itu sendiri.
Banyak
pula yang nenyangka bahwa pangkat dan kekuasaan adalah kebahagiaan.
Ketika dilihat mereka yang berkuasa dan bertahta, secara lahir mereka
begitu tampak bahagia hidupnya! Pergi dijemput pulang diantar, ketika ia
berkehendak tinggal memesan, perintahnya tidak ada yang menghalangi!!
Akan tetapi setelah diselidiki lebih mendalam, kita masuk menembus
dinding istananya, akan terdengar keluh kesahnya, dalam harta yang
banyak itu terdapat jiwa yang rapuh.
Jadi apa kebahagiaan yang
sebenarnya ? Apa kebahagiaan sejati yang seharusnya dicari oleh manusia ?
Siapa yang sebenarnya orang yang berbahagia ? Apa sarana untuk
mencapainya?
Manusia diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla ,
bukan mereka yang menciptakan diri mereka, tentu yang paling tahu
tentang seluk-beluk manusia termasuk tentang sebab bahagia atau sebab
sengsara adalah Dia Allah subhanahu wa ta ‘ala bukan manusia. Sama
halnya dengan sebuah produk, sekiranya hendak mengetahui hakikat produk
tersebut tentu ditanyakan kepada pembuatnya, bukan kepada produk itu
sendiri. Allah berfirman;
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan
atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS.
al-Mulk:14 )
Ketika Al-Qur’an ditadabburi dan syariat Islam
dikaji, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kebahagiaan yang hakiki
adalah dengan mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah Azza Wa
Jalla .
Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil
menjadi hamba Allah Azza Wa Jalla . .Sarana kebahagiaan adalah semua
sarana yang telah disediakan olehNya dalam meniti jalan penghambaan diri
kepada Allah .
Karena penghambaan diri inilah sebab
diciptakannya manusia dan jin..karena ubudiah kepada Allah ditegakkannya
langit dan dibentangkannya bumi… karena penghambaan inilah
diturunkannya kitab dan diutusnya rasul…
Allah berfirman;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu”. (QS.az-Zariat: 56)
Orang yang berpaling dari penghambaan diri ini dialah orang yang sengsara, Allah berfirman;
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada
hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha:124)
لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا
“Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dan barang-siapa yang berpaling
dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang
amat berat”. (QS. al-Jin:17)
Allah Subhanahu wa ta’ala telah
menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir
selainNya. Allah Azza Wa Jalla tentukan kebaikan dan keburukan,
kebahagiaan dan kesengsaraan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan.
Manusia tidak bisa melawannya, sekiranya Allah telah menentukan
kemiskinan pada seseorang, maka tidak ada yang mengkayakannya, ketika
Allah telah menentukan kepadanya kesengsaraan, maka tidak ada satupun
yang dapat membahagiakannya.
Kalaulah begitu, kemana manusia
hendak lari?! Kemana manusia hendak berteduh dan bernaung dari taqdir
yang Ia tidak memiliki daya dan upaya untuk merubahnya kecuali atas
izinNya?! Kemana manusia hendak bersandar dari sesuatu urusan yang tidak
di tangannya?!
Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada
Zat yang telah mentaqdirkan segala sesuatu, dalam naungan-Nya Ia akan
merasakan ketenangan, dalam menyandarkan diri kepadaNya , akan ia
peroleh kebahagiaan, dalam ke-pasrahan diri kepadaNya akan sirna segala
kecemasan dan kesedihan.
Dikutip dari Buku “ Untukmu yang berjiwa Hanif “ oleh Ustadz Armen Halim Naro Lc, Rohimahullah ta'ala
Banyak Beristighfar untuk Mencegah Datangnya Penyakit -
Telah jelas bahwa kemaksiatan kepada Allah adalah biang datangnya
berbagai musibah dan wabah penyakit, maka dapat dipahami bahwa istighfar
dan mohon ampunan kepada-Nya adalah penangkal dan penawar berbagai
wabah dan penyakit. Bukan hanya menangkal penyakit, akan tetapi
istighfar juga akan mendatangkan kedamaian, kebahagiaan, keberkahan dan
kemudahan dalam hidup.
Allah Ta’ala berfirman kepada umat Nabi Muhammad:
“Dan hendaknya kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat
kepada-Nya (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Allah akan
memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai pada waktu
yang telah ditentukan.” (QS. Huud: 3)
Syaikh Muhammad Amin
as-Syinqithi menafsirkan ayat ini dengan berkata, “Pendapat yang paling
kuat tentang maksud kenikmatan yang baik ialah: rizki yang melimpah,
hidup yang lapang, dan keselamatan di dunia dan yang dimaksud dengan
(waktu yang telah ditentukan) adalah kematian.” 1
Allah Ta’ala
mengisahkan perihal Nabi Hud bersama kaum ‘Aad. Dikisahkan, kaum ‘Aad
adalah satu kaum yang terkenal memiliki kekuatan yang luar biasa.
“Kaum ‘Aad berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari
kami” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang
menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka dan
adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (QS. Fusshilat:
15)
Walau demikian, andai mereka beriman kepada Allah dan
mensucikan jiwa mereka dari berbagai noda kemaksiatan dengan
beristighfar, niscaya kekuatan mereka menjadi berlipat ganda:
“Wahai kaumku, beristighfar kamu kepada Tuhanmu, lalu bertaubatlah
(kembalilah) kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan hujan yang sangat
lebat dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu.” (QS. Huud: 52)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abul Bilaad merasa keheranan tatkala membaca firman Allah Ta’ala:
“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.” (QS. As-Syura:30)
Ia bertanya-tanya, bagaimana penerapan ayat ini kepada dirinya, yang
telah menderita buta mata sejak ia dilahirkan. Karena rasa herannya
inilah ia bertanya kepada Al-A’la bin Badr, “Bagaimana penafsiran firman
Allah Ta’ala:
“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.”
Padahal aku ditimpa kebutaan sejak aku masih bayi? Maka Al-A’la menjawab: “Itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu.” 2
Inilah imunisasi syari’at sejati yang sepantasnya digalakkan sejak
dini, agar kita menjadi bangsa yang perkasa dan berjaya. Dan
selanjutnya, generasi penerut kita tidak turut merasakan sebagian dari
kesialan berbagai amal kemaksiatan kita.
Renungkan dan pikirkan
baik-baik saudaraku! Apakah anda sampai hati untuk mewariskan kesialan
amal maksiat anda kepada putra-putri anda?
Saya yakin anda
adalah orang tua yang penyayang, sehingga andapun pasti terpanggil untuk
menjauhkan warisan sial ini dari putra-putri anda. Tidak heran bila
andapun banyak beristighfar dan berjuang sekuat tenaga untuk mensucikan
diri anda dan keluarga anda dari kesialan amal maksiat. Selamat
berjuang, semoga Allah Ta’ala memberkahi dan memudahkan perjuangan anda.
Disadur dari buku Imunisasi Syari’at oleh Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA.
Catatan Kaki:
1 Adwaul Bayan 3/12
2 Tafsir Ibnu Abi Hatim 10/3279 & Tafsirr Al-Baghawi 7/355.
Tujuh Biji Kurma Ajwah
Tindakan sesuai syari’at Islam untuk mencegah datangnya berbagai
penyakit yang disalin dari buku Imunisasi Syari’at oleh Dr. Muhammad
Arifin bin Badri, MA yang akan dipaparkan kali ini adalah dengan
mengonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di
waktu pagi. Mengonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota
Madinah di waktu pagi, dapat mencegah serangan pengaruh sihir dan racun.
Yang demikian ini berdasarkan sabda Nabi,
“Barangsiapa
yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwah, niscaya pada
hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir.” (HR. Muttafaqun
‘alaih)
Pada riwayat lain:
“Barangsiapa pada pagi
hari, makan tujuh biji kurma yang dihasilkan di antara kedua hamparan
Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh racun hingga sore hari.”
(HR. Muslim)
Dengan jelas Nabi menyebutkan bahwa manfaat
mengonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah pada
pagi hari adalah untuk menangkal pengaruh sihir dan racun. Sehingga
manfaat kurma ajwah ini sama halnya dengan manfaat yang diperoleh dari
imunisasi.
Berikut dinukilkan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang hal ini:
Pertanyaan: Apa hukumnya berobat dengan imunisasi sebelum datangnya penyakit?
Jawaban: Tidak mengapa berobat dengan imunisasi bila khawatir terkena
suatu penyakit, disebabkan adanya wabah, atau sebab lainnya yang
dikhawatirkan menjadi penyebab datangnya penyakit. Sehingga tidak
mengapa, anda minum obat guna menangkal penyakit yang dikhawatirkan. Hal
ini berdasarkan sabda Nabi pada suatu hadits yang shahih:
“Barangsiapa yang pada waktu pagi makan tujuh biji kurma Madinah,
niscaya ia tidak akan terganggu oleh sihir, tidak oleh racun.”
Hadits ini termasuk upaya penanggulangan penyakit sebelum terjadi.
Demikian juga halnya orang yang khawatir terhadap serangan suatu
penyakit dan ia diberi imunisasi anti wabah yang sedang menyerang di
negeri tersebut atau di negara manapun. Upaya itu tidak mengapa, sebagai
upaya pertahanan, sebagaimana halnya penyakit yang telah menimpa
diobati, demikian juga halnya penyakit yang dikhawatirkan akan
menyerang, boleh ditanggulangi dengan pengobatan.
Akan tetapi
tidak dibenarkan untuk menanggantungkan ajimat, penangkal penyakit, atau
jin, atau ‘ain, dikarenakan itu semua dilarang oleh Nabi. Dan beliau
telah menjelaskan bahwa perbuatan itu termasuk syirik ashghar (kecil),
karena itu, hendaknya kita waspada.” 1
Catatan kaki:
1 Al-Fatawa Al Mut’alliqah Bit Thib Wa Ahkamil Mardha 203.
Penyebab Terbebasnya Seseorang dari Api Neraka
Saat Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi, dalam Syarah At-Thahawiyah,
membahas salah satu poin pada Al-Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Abu
Ja’far At-Thahawi, beliau menyebutkan paling tidak ada sepuluh penyebab
seseorang dapat terbebas dari api neraka. Penyebab-penyebab tersebut
dirangkum dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Saat Imam Ibnu Abil ‘Izz
Al-Hanafi, dalam Syarah At-Thahawiyah, membahas salah satu poin pada
Al-Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Abu Ja’far At-Thahawi, beliau
menyebutkan paling tidak ada sepuluh penyebab seseorang dapat terbebas
dari api neraka. Penyebab-penyebab tersebut dirangkum dari Al-Qur’an dan
Sunnah.
Poin yang dimaksud adalah (yang artinya):
“Kita berharap bagi para muhsinin dari kalangan mukminin agar Allah
berkenan mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke Jannah
karena rahmat-Nya. Kita tidak merasa aman atas ancaman Allah bagi
mereka. Kita tidak memastikan mereka dengan Jannah. Kita memohonkan
ampunan bagi pelaku dosa dari mereka dan kita juga takut mereka akan
ditimpa siksa karena kejahatan mereka, namun kita tidak berputus asa
terhadap rahmat Allah yang dengan itu mereka akan dapat diampuni.“
Sebab-sebab dapat dibebaskannya seseorang dari api neraka adalah:
Pertama, Bertaubat, pertaubatan yang murni.
Taubat tersebut harus dilakukan secara ikhlas. Seluruh umat telah
bersepakat bahwa taubat merupakan salah satu sebab diampuninya dosa-dosa
dan sekaligus sebagai penyebab terbebasnya dari siksa neraka.
Kedua, Istighfar, memohon ampunan kepada Allah.
Istighfar terkadang dilakukan sendiri dan terkadang dilakukan bersama
taubat. Saat disebut sendiri, istighfar dapat bermakna taubat, dan saat
taubat disebut sendiri, dapat juga bermakna istighfar. Namun saat
keduanya disebut secara bersamaan, maka istighfarbermakna permohonan
ampun atas dosa yang telah dilakukan, dan taubat bermakna kembali kepada
Allah dan memohon perlindungan atas dosa yang mungkin akan dilakukan di
masa yang akan datang.
Ketiga, Amal kebaikan.
Satu
amal kebaikan akan mendapat balasan senilai dengan sepuluh kebaikan dan
satu perbuatan dosa akan mendapat balasan senilai dengan satu perbuatan
dosa. Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ikutilah
perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan
menghapus keburukan yang telah lalu” [1]
Keempat, Penderitaan yang dialami di dunia.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah menimpa
seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan
juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan
akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” [2]. Penderitaan yang diikuti
dengan kesabaran, akan berbuah pahala, sedang penderitaan yang diikuti
dengan perbuatan keji, akan membawa dosa.
Kelima, Siksa kubur. (Imam Ibnu Abil ‘Izz membahas lebih lanjut mengenai hal ini dalam bab lain)
Keenam, Doa-doa yang dipanjatkan oleh para Mukmin terhadap saudaranya
baik saat yang didoakan masih hidup maupun sudah meninggal.
Ketujuh, Amalan-amalan yang dilakukan untuk pelaku dosa tersebut setelah
yang bersangkutan meninggal, seperti sedekah, bacaan Al-Qur’an [3], dan
juga haji.
Kedelapan, Ketakutan dan penderitaan yang dialami saat hari kiamat.
Kesembilan, Peristiwa yang dikabarkan dalan Shahihain:
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang
beriman yang telah selamat dari api neraka (telah melewati
shirath/jembatan yang ada diatas punggung neraka) akan tertahan di
Qantharah (sebuah tempat di antara surga dan neraka). Kemudian
ditegakkanlah qishash terhadap sebagian mereka akibat kezaliman yang
terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan
(dari kezaliman), barulah mereka diizinkan masuk surga.“
Kesepuluh, Syafaat dari para pemberi syafaat. (Imam Ibnu Abil ‘Izz telah membahasnya pada bab yang lain)
Kesebelas, Ampunan dari Allah (sesuai kehendak Allah).
Kita dapat melihat bahwa ada banyak jalan yang diberikan Allah kepada
hamba-Nya untuk dapat terbebas dari api neraka. Namun jika seseorang
masih belum terampuni dosa-dosanya, barangkali karena dosa yang
dilakukannya sudah terlampau berat. Dalam kondisi seperti ini, seseorang
harus masuk ke dalam Neraka, dan barangkali yang bersangkutan dapat
kembali menjadi suci karenanya. Tidak ada seseorangpun yang memiliki
sedikit keimanan di hati, atau telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan
berhak untuk disembah selain Allah, akan abadi berada di dalam neraka.
Kita tidak dapat memastikan seseorangpun dari umat Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga maupun neraka.
Perkecualian dapat diberikan hanya kepada orang-orang yang telah
dipastikan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk
surga. Sedangkan untuk yang selain itu, kita hanya bisa berharap mereka
masuk surga, dan juga takut mereka akan ditimpa siksa neraka.
Wallaahul Waliyyut Taufiq
Jurong West, 07-10-2013
Dirangkum dari Syarah Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Ibnu Abil ‘Izz, dibantu terjemahan dari Dr. Muhammad Abdul Haq Anshari.
[1] HR Tirmidzi no 1988, beliau berkata hadits ini Hasan Shahih
[2] HR. Muslim IV/1993
Label:
Serba-serbi Islami.
Label:
Gerbang Kedamaian.
Gerbang Kedamaian.
Doa Mendapatkan Jodoh dan Rezeki Menurut Al-Qur'an
Berikut ini amalan-amalan atau doa agar dimudahkan jodoh dan rezeki oleh Allah SWT. Kutipan berikut ini penulis ambil dari website Habib Munzir Al Musawwa.
saya Ijazahkan pada beliau doa : “Rabbiy Inniy limaa anzalta ilayya min khairin faqir” (Wahai Tuhan, sungguh aku sangat faqir atas pemberian anugerah Mu), doa ini adalah doa Nabi Musa as, kemudian Nabi Musa as didatangi calon istrinya dan sekaligus mendapat pekerjaan. doa ini tercantum pada QS Al Qashash 24).
saya sarankan anda membaca dzikir Subhanallahi wabihamdih, bacalah 100X setiap pagi dalam keadaan suci, dzikir ini disarankan oleh Nabi saw sebagaimana sabda beliau saew : Barangsiapa membaca Subhanallahi wabihamdih 100X setiap harinya maka berjatuhan dosa dosanya walau sebanyak buih dilautan (Shahih Bukhari)dan sabda Rasulullah saw : “Kalimat yg paling dicintai Allah adalah Subhanallahi wabihamdih” (Shahih Muslim)dzikir ini mencerahkan wajah, menenangkan hati, menyejukkan jiwa, dan membuka banyak kemudahan, dan berlimpah kemudahan dan tersingkirnya kesulitankenapa?karena kita menyukai dan mencintai dan mengamalkan ucapan yg dicintai Allah, maka Allah akan memberi apa apa yg kita senangi dan sukai, yaitu kecerahan wajah, kemudahan hidup, dan ketenangan hati.
saya Ijazahkan pada anda untuk mengamalkan surat Al Qureisy (Lii iilaa fii qureisyin….dst) . amalkanlah 21 x setiap harinya, ia membawa keberkahan kemudahan rizki, kebahagiaan dan keamanan dari segala yg dirisaukan.
Doa agar Cepat Mendapat Jodoh
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَحَبِيْبِنَا وَرَسُولِكَ الكَرِيْمِ وَبِأَلْفِ أَلْفٍ لاَحَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ 3×
Setiap hari kelahiran puasa, malam setelah shalat isya membaca surat alam nasrah (al-Insyirah) 152 kali kemudian membaca doa di atas. Bila kebetulan hari kelahiran jatuh pada hari Jumat, maka sambunglah dengan puasa sunnah hari Kamis. Sesungguhnya kemakruhan puasa pada hari Jumat itu otomatis hilang bila disambung dengan hari sebelumnya atau sesudahnya.
Atau membaca doa yang diijazahkan al Habib Muhammad al Baqier Ibn Sholeh Mauladawilah, yaitu membaca:
رَبِّ إِنِّى لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ
Dibaca seratus kali setiap hari tidak boleh putus setiap malam sebelum masuk waktu subuh/setelah menjalani shalat tahajud.
WIRID MUDAH JODOH
Pertama-tama melangkahlah….:
Memohonlah ampun kepada Alloh SWT atas kesalahan, kehilafan, kema’syiatan diri sendiri. Mohonkan ampun dosa ortu juga
Birrul Walidain sepenuh hati, karena tanpa Birrul Wa Lidain semua amal ibadah akan terhijab & siasia, doa pun akan terhijab
Mohon dipilihkan jodoh yg tepat oleh Alloh SWT, jangan terlalu ambisi & mengatur Alloh SWT. Tawakkalah…
Kerjakan scr istiqomah & haqqul yakin, penuh harap & khusnudzon kpd Alloh SWT
Perbanyaklah bersedekah dan berbuat baik kpd siapa saja
Kalahkan nafsu birahimu, pasti Alloh akan merahmati & meridloi hajatmu
KEMUDIAN SETIAP HABIS SHOLAT SHUBUH BERJAMA’AH SELAMA 41 HARI BERTURUT, membaca : - Istighfar X 100 - Sholloh ala Muhammad, Shollolloh alaihi wa sallim X100 - Membaca Surat AL Fajri X 1 dan Surta Al Waqiah X 1 - Usahakan tiapa hari keluarkan sedekah kpd fakir miskin & anak yatim piatu, serta membantu kelancaran majlis-majlis ilmu.
Doa bagi laki2 yang berharap jodoh :
“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJATAN THOYYIBAH AKHTUBUHA WA ATAZAWWAJ BIHA WATAKUNA SHOOHIBATAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.
“Ya Robb, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”.
Doa bagi wanita yang berharap jodoh :
“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.
“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”.
Doa yang lain yang bisa diamalkan tiap shalat
"ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ‘ALAYYA MIN KHOZAA INI ROHMATIKA YAA ARHAMAR-ROOHIMIIN”.
“Ya Allah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang”.
“ROBBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHOIRIN FAQIIR”.
Ya Robb, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Q.S. 28 : 24)
“HASBUNALLOOH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR”.
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. (Q.S. 3 : 173 & 8 : 40).
“ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA WADZURRIYYAATINAA QURROTA A’YUN WAJ ‘ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA”.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa”. (Q.S. 25 : 74)
Buka Aura
Ritual apapun bila tidak melakukan hal yang menyekutukan Allah, tidak masalah, tetapi dalam Islam, tidak dikenal hal semacam itu, banyak baca shalawat dan istighfar, insya Allah Allah memberi jalan segala yang sulit. Rasulullah pernah menyatakan:
مَنْ أَكْثَرَ مِنَ الإِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِن كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
Barang siapa yang memperbanyak istighfar, Allah akan menjadikan baginya setiap kesedihan- kebahagiaan, setiap kesulitan- jalan keluar dan akan memberikan rizki dari sisi yang tidak diperhitungkannya.
FAKTOR – FAKTOR YANG MENDATANGKAN DAN MENOLAK RIZQI
A. Faktor-Faktor Yang Menolak Rizqi
; Biasa melakukan perbuatan Dosa
; Biasa berbuat dusta atau berbohong
; Biasa tidur di pagi hari
; Banyak tidur, dan malas berusaha
B. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Faqir
Tidur telanjang
Kencing dengan telanjang bulat
Makan dalam keadaan junub
Makan dengan berbaring
Mengabaikan sisa-sisa hidangan makanan
Membakar kulit bawang merah dan putih
Menyapu rumah dengan Kain
Menyapu rumah di malam hari
Tidak segera membuang sampah
Berjalan dimuka orang tua atau mendahuluinya
Memanggil kedua orang tua ( ayah dan ibu ) hanya dengan menyebut namanya saja.
Mencukiti sela-sela gigi dengan benda keras
Mencuci tangan dengan tanah dan debu
Duduk diatas tangga
; Bersandar pada salah satu kaca-kaca pintu
; Berwudlu di tempat peristirahatan
; Menjahit pakaian yang masih di pakai
; Menyapu muka menghilangkan keringat dengan gombal.
Tidak mau membersihkan rumah laba-laba yang berada di rumah
; Mempermudah ( gampangake ) dalam mengerjakan sholat, tidak mau merendah dan khusu’
; Segera keluar dari Masjid setelah Sholat Subuh
; Berpagi-pagi benar berangkat ke Pasar
Menunda-nunda pulang dari Pasar
Membeli potongan-potongan roti dari fakir miskin yang meminta-minta.
Mendoakan jelek kepada anak
Tidak mau menutupi tempat atau wadah
Memadamkan lampu dengan tiupan nafas
Menulis dengan pena atau pulpen yang sudah rusak
Bersisir dengan sisir yang sudah rusak
Tidak mau mendoakan baik kepada orang tua.
; Memakai surban dengan duduk
; Memakai celana sambil berdiri
; Bakhil ( pelit )
; Malas
; Menunda-nunda kesempatan
; Pemboros
; Mengabaikan segala urusan.
C. Faktor-faktor yang memudahkan Rizqi
Rajin bersedekah
Membiasakan bangun tidur di pagi hari atau Subuh
Menulis dengan tulisan yang bagus
Bermuka ( raut wajah ) yang manis atau menyenangkan orang
Berbicara baik dan menarik
Menyapu halaman dan mencuci tempat atau wadah sehabis digunakan
Mengerjakan Sholat 5 Waktu secara berjama’ah
Mengerjakan Sholat Dluha
Membiasakan Membaca Surat Waqi’ah
Membiasakan Membaca Surat Al Mulk
Membiasakan Membaca Surat Al Muzammil
Membiasakan Membaca Surat Al Insyiroh
Membiasakan Membaca Surat Wallaili Idza Yaghsya
Membiasakan datang ke Masjid sebelum Adzan
Membiasakan bersuci ( selalu dalam keadaan Wudlu )
Mengerjakan Sholat Fajar dan Sholat Witir
Tidak membicarakan urusan keduniaan sesudah sholat Witir
Meninggalkan omong kosong yang tidak berfaidah bagi agama dan dunia
Menjauhi duduk-duduk dengan Wanita yang tidak muhrimnya
Membiasakan tiap bakda subuh ( pagi ) membaca Tasbih : سبحان الله العظيم سبحان الله وبحمده استغرالله واتوب اليه
Membiasakan tiap bakda subuh ( pagi ) membaca : لااله الاّالله الملك الحقّ المبين × 100
Membiasakan setiap Ba’da Subuh dan Maghrib membaca : الحمد لله وسبحان الله ولا اله الاّ الله × 33
Membiasakan Setiap Ba’da Subuh membaca Istighfar ini : استغفر الله العظيم من كلّ ذنب عظيم × 70
Memperbanyak membaca Khauqolah لاحول ولاقوّة الاّ بالله العليّ العظيم
Memperbanyak membaca Sholawat atas Nabi SAW
Membaca do’a dibawah ini setipa selesai sholat Jumu’ah sebanyak 70 kali اللهمّ اغنني بحلالك عن حرامك وكفني بفضلك عمّن سواك Artinya : “ Ya Allah…berilah aku kekayan, dengan kehalalan-Mu, jauh dari keharaman-Mu, dan cukupilah aku dengan karunia-Mu dari orang selain engkau. “
Membaca kalimah-kalimah Tasna’ ( sanjungan ) atau Asma’ul Husna dan Sholawat atas Nabi SAW
Kata Imam Abil Hasan As Syadzili ; apabila engkau kesulitan masalah rizqimu perbanyaklah membaca surat al falaq
Kata Mbah Hamid Bin Abdulloh Bin Umar Pasuruan : Sholat Jama’ah Subuh adalah kunci mudah rizqi. Bahkan beliau sampai berkata, kalau engkau dapat istiqomah mengerjakannya, kok tidak di beri cukup oleh Alloh SWT, caci makilah aku.
Kunci Rizqi lagi adalah : Bertaqwa kepada Alloh,.dan berbaktilah kepada orang tua Pasti Alloh akan mencukupi rizqimu
Kata Mbah Basir Jekulo Kudus ; perbanyaklah membaca Sholawat Dalailul Khoirot. & Sebelum shubuh bangun, kerjakanlah sholat-sholat sunnah.
Semoga bermanfaat,
Label:
Gerbang Kedamaian.
Khasiat2 Bawang Putih Mentah
Selama ini mungkin Anda mengira bawang putih hanya digunakan sebagai bumbu masak biasa atau properti dalam film Vampir.
Usut punya usut, ternyata bawang putih punya lebih banyak manfaat bagi kesehatan.
Umumnya bawang putih digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah dan juga sebagai anti bakteri. Namun, tahukah Anda bahwa ternyata dimakan mentahpun, si bawang putih ini tetap memberikan khasiat baik untuk kesehatan?
Jangan terlebih dahulu membayangkan aroma pedasnya, coba intip sembilan manfaat bawang putih bila dimakan mentah berikut ini.
Manfaat 1.
Bawang putih mengandung antioksidan yang dapat membantu mencegah kanker. Jika Anda adalah perokok berat, Anda boleh mengunyah bawang putih mentah untuk melindungi tubuh dan mencegah kanker.
Manfaat 2.
Bawang putih mengandung anti-peradangan. Sehingga jika Anda mengalami demam, atau sakit tenggorokan, cukup hanya mengunyah bawang putih dan hasilnya tenggorokan Anda akan segera kembali fit.
Manfaat 3.
Bawang putih juga merupakan anti-bakteri yang baik. Apabila Anda mengalami infeksi pencernaan, maka campurkan cacahan bawang putih mentah di dalam salad. Pencernaan Andapun akan semakin lancar.
Manfaat 4.
Antioksidan yang terkandung di dalam bawang putih juga mampu membantu mengusir racun dari dalam tubuh. Manfaat ini tak hanya baik untuk kesehatan, namun juga dapat membantu memperlambat penuaan dini.
Manfaat 5.
Jika Anda menderita arthritis, hancurkan bawang putih mentah kemudian kompreskan pada bagian lutut atau tulang yang nyari. Bawang putih akan meredakan nyeri tersebut.
Manfaat 6.
Keracunan akibat merkuri atau arsenik juga dapat diringankan dengan mengonsumsi bawang putih mentah. Namun, pertolongan ini hanya berfungsi sebagai pertolongan pertama saja. Segera dapatkan perawatan intensif dari dokter jika Anda mengalaminya.
Manfaat 7.
Mengunyah bawang putih merah juga dapat membantu memperlancar peredaran darah dan membuka pembuluh darah yang tersumbat.
Manfaat 8.
Apabila Anda menderita diabetes, bawang putih juga baik untuk membantu mengontrol jumlah kadar gula di dalam darah.
Manfaat 9.
Allicin dalam bawang putih merupakan senyawa anti-jamur yang melindungi tubuh dari infeksi dan meningkatkan antibodi.
Karena aromanya yang cukup tajam, dianjurkan selalu menggosok gigi setelah mengunyah si bawang putih ini. Anda juga tak mau kan kalau lawan bicara merasa terganggu karena aroma nafas Anda yang kurang sedap. Selamat mencoba
Selama ini mungkin Anda mengira bawang putih hanya digunakan sebagai bumbu masak biasa atau properti dalam film Vampir.
Usut punya usut, ternyata bawang putih punya lebih banyak manfaat bagi kesehatan.
Umumnya bawang putih digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah dan juga sebagai anti bakteri. Namun, tahukah Anda bahwa ternyata dimakan mentahpun, si bawang putih ini tetap memberikan khasiat baik untuk kesehatan?
Jangan terlebih dahulu membayangkan aroma pedasnya, coba intip sembilan manfaat bawang putih bila dimakan mentah berikut ini.
Manfaat 1.
Bawang putih mengandung antioksidan yang dapat membantu mencegah kanker. Jika Anda adalah perokok berat, Anda boleh mengunyah bawang putih mentah untuk melindungi tubuh dan mencegah kanker.
Manfaat 2.
Bawang putih mengandung anti-peradangan. Sehingga jika Anda mengalami demam, atau sakit tenggorokan, cukup hanya mengunyah bawang putih dan hasilnya tenggorokan Anda akan segera kembali fit.
Manfaat 3.
Bawang putih juga merupakan anti-bakteri yang baik. Apabila Anda mengalami infeksi pencernaan, maka campurkan cacahan bawang putih mentah di dalam salad. Pencernaan Andapun akan semakin lancar.
Manfaat 4.
Antioksidan yang terkandung di dalam bawang putih juga mampu membantu mengusir racun dari dalam tubuh. Manfaat ini tak hanya baik untuk kesehatan, namun juga dapat membantu memperlambat penuaan dini.
Manfaat 5.
Jika Anda menderita arthritis, hancurkan bawang putih mentah kemudian kompreskan pada bagian lutut atau tulang yang nyari. Bawang putih akan meredakan nyeri tersebut.
Manfaat 6.
Keracunan akibat merkuri atau arsenik juga dapat diringankan dengan mengonsumsi bawang putih mentah. Namun, pertolongan ini hanya berfungsi sebagai pertolongan pertama saja. Segera dapatkan perawatan intensif dari dokter jika Anda mengalaminya.
Manfaat 7.
Mengunyah bawang putih merah juga dapat membantu memperlancar peredaran darah dan membuka pembuluh darah yang tersumbat.
Manfaat 8.
Apabila Anda menderita diabetes, bawang putih juga baik untuk membantu mengontrol jumlah kadar gula di dalam darah.
Manfaat 9.
Allicin dalam bawang putih merupakan senyawa anti-jamur yang melindungi tubuh dari infeksi dan meningkatkan antibodi.
Karena aromanya yang cukup tajam, dianjurkan selalu menggosok gigi setelah mengunyah si bawang putih ini. Anda juga tak mau kan kalau lawan bicara merasa terganggu karena aroma nafas Anda yang kurang sedap. Selamat mencoba
dikutip dari beberapa sumber'
;;
Label:
Memo ...memo..info.
**Majnun (Qais) dan Laila**
Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiliki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil.
Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”
Mereka pun bersujud kepada ALLAH, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan ALLAH menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman.
Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar.
Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan.
Kisah Cinta
Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun.
Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu.
Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya.
Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke rumah Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh.
Bibirnya diberi yang seperti lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu. Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.
Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka.
Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais.
Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis.
Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi awan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya.
Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya.
Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila. Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila.
Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya.
Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.
Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya.
“Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan. Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab.
Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila.
Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya. Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.
kesedihan
Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”.
Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini.
Apa yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya.
Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu. Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.”
Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.”
Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih.
Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Laila”.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” .
“Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.
Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang sanggup mengusik dan mengganggunya. Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya.
Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia.
Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama dirindukannya. Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis.
Laila
Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Sementara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama bermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun.
Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila.
Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila.
Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.
Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )'.
Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiliki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil.
Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”
Mereka pun bersujud kepada ALLAH, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan ALLAH menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman.
Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar.
Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan.
Kisah Cinta
Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun.
Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu.
Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya.
Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke rumah Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh.
Bibirnya diberi yang seperti lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu. Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.
Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka.
Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais.
Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis.
Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi awan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya.
Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya.
Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila. Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila.
Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya.
Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.
Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya.
“Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan. Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab.
Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila.
Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya. Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.
kesedihan
Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”.
Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini.
Apa yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya.
Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu. Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.”
Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.”
Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih.
Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Laila”.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” .
“Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.
Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang sanggup mengusik dan mengganggunya. Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya.
Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia.
Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama dirindukannya. Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis.
Laila
Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Sementara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama bermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun.
Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila.
Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila.
Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.
Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )'.
;;;;;;
Label:
Hikmah cerita
*Subhanallah..di Bawah Lautan Ada Api dan di Bawah Api Ada Lautan!*
Mungkin anda bertanya… :
Mengapa Microsoft Corporation begitu Mengetahui tentang Seluk beluk Windows OS nya ? bahkan mereka mengetahui dengan begitu Detail !
Dan begitu juga dengan Pihak Google,mengapa mereka benar-benar sangat paham mengenai Android ?
Selain itu ,Mengapa juga Pihak RIM sangat Mengerti tentang BlackBerry ?
Anda sangat Cerdas untuk Menjawabnya ,bukan : “; ya, sudah tentu mereka tahu…Karena Merekalah yang benar-benar membuatnya !”
Timbul pertanyaan, Lalu Siapakah yang Mampu Mengetahui Seluruh dimensi ALAM SEMESTA ini ?
ya Apapun Alasannya…kita sepakat !
Bahwa
Hanya Sang Penciptalah yang Mampu & Benar-Benar Mengetahui Tentang Ciptaan-Nya !
Subhanallah….
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat :53)
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Baru Saja kita digemparkan dengan Fenomena Alam berupa : SUNGAI DALAM LAUT ! yang sangat UniQ dan Luar Biasa sebagai Maha karya Ciptaan Allah Azza wa jalla.. lalu Sebuah Temuan Ilmuwan Indonesia dan Luar Negeri mengenai : Adanya GUNUNG MERAPI DALAM LAUT INDONESIA
dan Juga PEMBUKTIAN Yang Mengejutkan tentang GOOGLE EARTH Membuktikan Kebenaran Hadist Rasulullah SAW...
Kini, kita semua akan dikejutkan lagi tentang Penemuan yang sangat UNIQ dan Luar Biasa Mengenai :
di Bawah Lautan Ada Api dan di Bawah Api Ada Lautan!
yang ternyata tercantum dalam AlQuran yang mulia dan Hadist Rasulullah saw...
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Sabda Rasulullah Muhammad SAW:
"Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."( HR.Abu Daud )
Kata yg digunakan dalam ayat diatas ialah "Sajara ( sujjirat)", sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi orang zaman dulu, semasa Qur'an diturunkan 1400 yang lalu, api dan air adalah sesuatu yang bertentangan.
Menurut Imam Mujahid Sujjirat berarti dinyalakan, Al-Hasan Menjelaskan sujjirat berarti dikeringkan... inilah penjelasan singkat menurut ulama salaf.( Lihat: buku kiamat oleh Mahir Ahmad Ash-Syufiy)
Air mematikan api sedangkan api itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?
Ayat Al-Quran ini telah menjelaskan struktur bumi itu sendiri. Ini terbukti dengan teori pemisahan lantai laut (seafloor spreading) yang menyebabkan magma di bawah kerak bumi keluar dengan tekanan yang kuat ke permukaan di bawah laut.
Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya:
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Nabi SAW bersabda:"Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."( HR.Abu Daud )
Ulasan Hadis. Hadis ini sangat sesuai dg sumpah Allah SWT yg dilansir oleh Al-quran pd permulaan Surah Ath-Thur, dimana Allah bersumpah (Maha Besar Allah yg tdk membutuhkan sumpah apapun demi lautan yg di dlm tanahnya ada api (Al-Bahr Al-Masjur). Sumpahnya:
"Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran yang terbuka; dan demi Baitul Ma'mur; dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya." (QS. Ath-Thur (52):1-8)
Bangsa Arab, pd waktu diturunkannya Al-quran tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yg di dalam tanahnya ada api ini. Krn bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna sajara sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yg bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yg rusak salah satunya?
Persepsi demikan mendorong mereka untuk menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung dengan firman Allah SWT yg terdapat dalam surah At-Takwir:
artinya : "Dan apabila lautan dipanaskan." (QS. At-Takwir (81):6)
Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak, namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur semuanya menggunakan sarana-sarana empirik yang benar-benar ada dan dapat ditemukan dalam hidup kita (di dunia).
Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja sajara selain menyalakan sesuatu hingga membuatnya panas. Dan mereka ternyata menemukan makna dan arti lain dari kata sajara, yaitu mala'a dan kaffa (memenuhi dan menahan). Mereka tentu saja sangat gembira dengan penemuan makna dan arti baru ini karena makna baru ini dapat memecahkan kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa Allah SWT telah memberikan anugerah kepada semua manusia dengan mengisi dan memenuhi bagian bumi yang rendah dengan air sambil menahannya agar tidak meluap secara berlebihan ke daratan.
Namun, hadis Rasulullah SAW yg sedang kita bahas ini secara singkat menegaskan bahwa: Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.
Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai 'gunung-gunung tengah samudera'.
Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besarterdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan.sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.
Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan "fenomena perluasan dasar laut dan samudera." Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.
Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panaspun tidak mempu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.
Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut inipun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.
Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorangpun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.
Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.
Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini.
Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai 'gunung-gunung tengah samudera' yg sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) dan dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar di kedalamannya mencapai 65 km.
Suhu di beberapa lautan melebihi 1.000 derajat Celcius, meski sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera.
Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.
Contoh tanah yg diambil dari dasar laut kedalaman 3.000 m, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu Stapler contoh tanah dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius.
Terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap gunung berapi.
Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.
Subhanallah...!
Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda:
"Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan." ( HR.Abu Daud )
Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir & cuma dengan peralatan modern abad 20.
Gunung laut terdekat dari Saudi Arabia, tempat diturunkan Qur'an 1400 tahun yg lalu, ialah berada di Laut Arab, iaitu sekitar 800 Km di Timur Selatan negara oman, tak mungkin Rasulullah Muhammad SAW pergi & menyelam sejauh itu.
Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan:
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Qs.53 Najm:3-7
Segala puji bagi ALLAH Tuhan semesta alam.
Sebuah Mukjizat terbesar berupa sebuah buku yang diturunkan melalui seorang Al-Amin (tak pernah berbohong) yang tak dapat membaca dizaman kuno kepada ummat terakhir yang pintar dan selalu membaca buku di zaman modern dan baru dapat dibuktikan oleh peralatan akhir zaman.
Siapa lagi yg mewahyukan jika bukan PENCIPTA ALAM SEMESTA?
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Sabda Rasulullah Muhammad SAW:
"Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."
( HR.Abu Daud )
{--Mungkin Juga Anda Bertanya, Mengapa Kitab Suci AlQuran Membahas Alam Semesta ?
Hanya Sang Penciptalah yang Mampu Mengetahui Tentang Ciptaan-Nya !
Allahu Akbar !--}
Dan dari berbagai Sumber*
Mungkin anda bertanya… :
Mengapa Microsoft Corporation begitu Mengetahui tentang Seluk beluk Windows OS nya ? bahkan mereka mengetahui dengan begitu Detail !
Dan begitu juga dengan Pihak Google,mengapa mereka benar-benar sangat paham mengenai Android ?
Selain itu ,Mengapa juga Pihak RIM sangat Mengerti tentang BlackBerry ?
Anda sangat Cerdas untuk Menjawabnya ,bukan : “; ya, sudah tentu mereka tahu…Karena Merekalah yang benar-benar membuatnya !”
Timbul pertanyaan, Lalu Siapakah yang Mampu Mengetahui Seluruh dimensi ALAM SEMESTA ini ?
ya Apapun Alasannya…kita sepakat !
Bahwa
Hanya Sang Penciptalah yang Mampu & Benar-Benar Mengetahui Tentang Ciptaan-Nya !
Subhanallah….
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat :53)
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Baru Saja kita digemparkan dengan Fenomena Alam berupa : SUNGAI DALAM LAUT ! yang sangat UniQ dan Luar Biasa sebagai Maha karya Ciptaan Allah Azza wa jalla.. lalu Sebuah Temuan Ilmuwan Indonesia dan Luar Negeri mengenai : Adanya GUNUNG MERAPI DALAM LAUT INDONESIA
dan Juga PEMBUKTIAN Yang Mengejutkan tentang GOOGLE EARTH Membuktikan Kebenaran Hadist Rasulullah SAW...
Kini, kita semua akan dikejutkan lagi tentang Penemuan yang sangat UNIQ dan Luar Biasa Mengenai :
di Bawah Lautan Ada Api dan di Bawah Api Ada Lautan!
yang ternyata tercantum dalam AlQuran yang mulia dan Hadist Rasulullah saw...
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Sabda Rasulullah Muhammad SAW:
"Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."( HR.Abu Daud )
Kata yg digunakan dalam ayat diatas ialah "Sajara ( sujjirat)", sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi orang zaman dulu, semasa Qur'an diturunkan 1400 yang lalu, api dan air adalah sesuatu yang bertentangan.
Menurut Imam Mujahid Sujjirat berarti dinyalakan, Al-Hasan Menjelaskan sujjirat berarti dikeringkan... inilah penjelasan singkat menurut ulama salaf.( Lihat: buku kiamat oleh Mahir Ahmad Ash-Syufiy)
Air mematikan api sedangkan api itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?
Ayat Al-Quran ini telah menjelaskan struktur bumi itu sendiri. Ini terbukti dengan teori pemisahan lantai laut (seafloor spreading) yang menyebabkan magma di bawah kerak bumi keluar dengan tekanan yang kuat ke permukaan di bawah laut.
Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya:
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Nabi SAW bersabda:"Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."( HR.Abu Daud )
Ulasan Hadis. Hadis ini sangat sesuai dg sumpah Allah SWT yg dilansir oleh Al-quran pd permulaan Surah Ath-Thur, dimana Allah bersumpah (Maha Besar Allah yg tdk membutuhkan sumpah apapun demi lautan yg di dlm tanahnya ada api (Al-Bahr Al-Masjur). Sumpahnya:
"Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran yang terbuka; dan demi Baitul Ma'mur; dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya." (QS. Ath-Thur (52):1-8)
Bangsa Arab, pd waktu diturunkannya Al-quran tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yg di dalam tanahnya ada api ini. Krn bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna sajara sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yg bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yg rusak salah satunya?
Persepsi demikan mendorong mereka untuk menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung dengan firman Allah SWT yg terdapat dalam surah At-Takwir:
artinya : "Dan apabila lautan dipanaskan." (QS. At-Takwir (81):6)
Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak, namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur semuanya menggunakan sarana-sarana empirik yang benar-benar ada dan dapat ditemukan dalam hidup kita (di dunia).
Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja sajara selain menyalakan sesuatu hingga membuatnya panas. Dan mereka ternyata menemukan makna dan arti lain dari kata sajara, yaitu mala'a dan kaffa (memenuhi dan menahan). Mereka tentu saja sangat gembira dengan penemuan makna dan arti baru ini karena makna baru ini dapat memecahkan kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa Allah SWT telah memberikan anugerah kepada semua manusia dengan mengisi dan memenuhi bagian bumi yang rendah dengan air sambil menahannya agar tidak meluap secara berlebihan ke daratan.
Namun, hadis Rasulullah SAW yg sedang kita bahas ini secara singkat menegaskan bahwa: Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.
Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai 'gunung-gunung tengah samudera'.
Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besarterdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan.sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.
Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan "fenomena perluasan dasar laut dan samudera." Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.
Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panaspun tidak mempu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.
Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut inipun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.
Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorangpun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.
Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.
Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini.
Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai 'gunung-gunung tengah samudera' yg sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) dan dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar di kedalamannya mencapai 65 km.
Suhu di beberapa lautan melebihi 1.000 derajat Celcius, meski sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera.
Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.
Contoh tanah yg diambil dari dasar laut kedalaman 3.000 m, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu Stapler contoh tanah dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius.
Terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap gunung berapi.
Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.
Subhanallah...!
Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda:
"Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan." ( HR.Abu Daud )
Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir & cuma dengan peralatan modern abad 20.
Gunung laut terdekat dari Saudi Arabia, tempat diturunkan Qur'an 1400 tahun yg lalu, ialah berada di Laut Arab, iaitu sekitar 800 Km di Timur Selatan negara oman, tak mungkin Rasulullah Muhammad SAW pergi & menyelam sejauh itu.
Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan:
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Qs.53 Najm:3-7
Segala puji bagi ALLAH Tuhan semesta alam.
Sebuah Mukjizat terbesar berupa sebuah buku yang diturunkan melalui seorang Al-Amin (tak pernah berbohong) yang tak dapat membaca dizaman kuno kepada ummat terakhir yang pintar dan selalu membaca buku di zaman modern dan baru dapat dibuktikan oleh peralatan akhir zaman.
Siapa lagi yg mewahyukan jika bukan PENCIPTA ALAM SEMESTA?
" Ada laut yang di dalam tanahnya ada api."
Sabda Rasulullah Muhammad SAW:
"Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."
( HR.Abu Daud )
{--Mungkin Juga Anda Bertanya, Mengapa Kitab Suci AlQuran Membahas Alam Semesta ?
Hanya Sang Penciptalah yang Mampu Mengetahui Tentang Ciptaan-Nya !
Allahu Akbar !--}
Dan dari berbagai Sumber*
Label:
info ilmu pengetahuan.
* PEMANDANGAN CANTIK*
Penyembuhan penyakit Tanpa Obat
Obat adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengurangi, menghilangkan penyakit atau menyembuhkan seseorang dari penyakit. Pengobatan sudah dikenal sejak jaman dahulu, bahkan para nabi pun mempunyai cara-cara tersendiri dalam hal pengobatan.
Penyembuhan seseorang dari sakit adalah mutlak kekuasaan Allah, bukan kekuasaan manusia. Karena penyakit datang dari Allah, pasti Allah akan menurunkan obatnya. Rasulullah bersabda,
إِ نَ اللهَ لَمْ يُنْزِ لْ دَ ا ءً إ لأَ أَنزَ لَ لَهُ شِفَا ءً فَتَدَ ا وَ واْ
Allah tidak akan menurunkan penyakit, kecuali menurunkan obatnya, maka berobatlah. [HR Ibnu Majah].
Seseorang yang memberikan obat, baik obat-obatan moderen, tradisional, pengobatan cara Nabi, atau pengobatan alternatif yang lainnya, merupakan perantara-perantara kesembuhan dari Allah.
وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. [Asy Syu’ara: 80].
Ketika mencari pengobatan alternatif, jangan sampai seseorang terjerumus kepada kemaksiatan, kesyirikan. Tetapi yang harus dibenarkan oleh syari’at Islam.
إِ نَ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَا ءَ كُمْ فِيْمَا حَرَّ مَ عَلَيْكُمْ
Sesungguhnya, Allah tidak menjadikan obatnya di segala yang diharamkan terhadap kalian. [HR. Thabrani].
Penyembuhan tanpa obat, maksudnya ialah penyembuhan tanpa obat kimiawi maupun obat-obatan moderen. Melainkan dengan pengobatan alternatif, yang bisa diterima ajaran Islam. Atau dengan kata lain, bisa disembuhkan tanpa menggunakan obat-obatan moderen yang berkembang dalam bidang medis.
PERTAHANAN ALAMIAH JAUH LEBIH PENTING DARIPADA OBAT-OBATAN
Pada beberapa penyakit, terkadang tidak memerlukan obat-obatan. Dengan kata lain, bisa disembuhkan tanpa menggunakan obat-obatan. Karena sebenarnya, tubuh manusia mempunyai antibodi atau pertahanan sendiri untuk melawan suatu penyakit. Biasanya pertahanan tubuh ini lebih baik daripada menggunakan obat-obatan. Beberapa penyakit yang sembuh dengan sendirinya, misalnya: influensa (selesma) dan masuk angin.
Untuk membantu tubuh untuk memerangi, melawan dan mengatasi suatu penyakit, harus diutamakan dan diperhatikan tiga hal. Yaitu: menjaga kebersihan diri, banyak istirahat dan makan minum yang baik.
Bahkan pada penyakit parah, yang sangat memerlukan obat-obatan; tubuh sendirilah yang harus mengatasi penyakit tersebut. Obat-obatan hanya membantunya. Kebersihan diri, istirahat yang cukup dan makan minum yang baik, tetaplah menjadi prioritas utama. Sebagian dari cara-cara kesehatan, tidak dan tidak boleh tergantung kepada penggunaan obat.
Sekalipun kita tinggal di daerah yang tidak ada obat-obatan moderen, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati beragam penyakit yang umum dijumpai.
PENYEMBUHAN DENGAN AIR[1]
Kita dapat hidup tanpa obat-obatan. Akan tetapi, tidak seorang pun yang bisa hidup tanpa air. Karena lebih dari setengah (57 %) tubuh kita berupa air. Apabila semua orang dapat menggunakan air dengan sebaik-baiknya, maka jumlah penyakit dan kematian -terutama anak-anak- mungkin dapat dihindari. Insya Allah.
Sebagai contoh, penggunaan air merupakan dasar, baik dalam pencegahan maupun dalam pengobatan mencret (diare). Di banyak daerah, diare merupakan penyebab paling umum dari kematian anak-anak balita. Air yang tercemar dan kotor sering menjadi penyebab dari penyakit tesebut.
Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan diare, ialah merebus air sebelum dikonsumsi, diminum atau sebelum diolah dengan makanan. Tindakan ini sangat penting, terutama untuk bayi. Botol susu dan peralatan bayi, sebaiknya direbus terlebih dadulu sebelum digunakan.
Mencuci tangan dengan air sabun setelah buang air besar, buang air kecil, sebelum makan dan sebelum memegang makanan, perlu dipentingkan juga.
Penyembuhan dengan air diperlukan sekali bagi anak yang menderita dehidrasi atau kekurangan cairan akibat diare. Dengan memberikan banyak air madu atau air garam kepada anak yang diare, maka dehidrasi insya Allah dapat dicegah, diperbaiki dan disembuhkan
Terapi air, juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Bahkan minum air sebanyak-banyaknya pada pagi hari sangat baik untuk kesehatan. Sebanyak-banyaknya di sini maksudnya janganlah berlebih-lebihan. Karena lambung harus mampu menerimanya. Rasulullah juga mengisaratkan, bahwa lambung dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk udara dan sepertiga untuk minuman.
CONTOH PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN DENGAN AIR[2]
PENCEGAHAN PENYAKIT
1. Mencret, cacingan, infeksi saluran usus : Rebuslah air, minum dan jangan lupa cuci tangan
2. Infeksi kulit : Sering mandi
3. Luka yang dapat mengalami infeksi, tetanus : Cuci luka sebaik-baiknya dengan sabun dan air
PENGOBATAN PENYAKIT
1. Mencret, kehilangan cairan dalam tubuh : Minum banyak air
2. Penyakit dengan panas : Minum banyak air
3. Panas yang tinggi : Usaplah tubuh dengan air dingin
4. Infeksi saluran kencing yang ringan (sering terjadi pada wanita) : Minum air yang banyak
5. Batuk, asma, radang pada tenggorok (bronchithis), radang paru-paru (pneumonia), batuk rejan : Minum air yang banyak dan hiruplah uap air panas untuk mencairkan lendir (kadang diperlukan obat-obatan tertentu khusus untuk peyakit ini)
6. Luka-luka borok, impetigo, kurap pada kulit kepala, jerawat : Bersihkan dengan sabun dan air
7. Luka-luka infeksi, kantong bernanah (abses, bisul) : Kompres dengan air hangat
8. Sendi dan otot kaku : Kompres dengan air hangat
9. Rasa gatal, terbakar atau rangsangan kulit : Kompres dengan air dingin
10. Luka bakar yang ringan : Rendam dalam air dingin
11. Sakit leher atau peradangan tonsil (tonsilitas) : Kumur air garam hangat
12. Asam, basa, kotoran, debu, atau bahan-bahan yang merangsang mata : Segera mata disiram dengan air dingin
13. Hidung yang tersumbat : Menghirup uap air/air garam
Apabila penyembuhan alternatif dengan air tidak bisa menyembuhkan penyakit, segeralah hubungi tenaga kesehatan yang ahli dibidangnya.
PENYEMBUHAN DENGAN PRODUK LEBAH
Dalam Al Qur’an Allah Azza wa Jalla telah berfirman tentang khasiat lebah.
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah,"Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,” Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. [An Nahl :68,69].
Termuat dalam Shahih Al Bukhari, dari Sa’id Ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas dari Nabi, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الْكَيِّ
Kesembuhan ada dalam tiga perkara; meminum madu, berbekam dengan gelas dan bakaran api. Tetapi aku melarang umatku melakukan pembakaran dengan besi.”
Madu adalah cairan manis yang tersimpan dalam sel-sel sarang lebah yang melalui pengambilan nektar tanaman oleh lebah madu.
Sejak dahulu, madu telah dijadikan diet khusus untuk vitalitas, kosmetika dan kesehatan secara umum. Tercatat pada zaman kerajaan, seperti: Yunani, China, dan Mesir. ada kajian moderen, ternyata madu mempunyai khasiat membunuh bakteri dan cendawan. Pada kajian klinis, telah membantu penyembuhan kulit terbakar, kulit luka, lambung dan gastroteritis. Madu dapat menghentikan pertumbuhan bakteri, karena kandungan gulanya yang tinggi. Komponen anti bakteri lainnya yaitu hidrogen prioksida yang terbentuk dari aktifitas enzim glukos oksidase. Meskipun kedua hal tersebut ditiadakan, ternyata madu masih mengandung anti bakteri. Aktifitas anti bakteri ini sangat menentukan madu sebagai makanan kesehatan. Karena madu mampu menekan kemungkinan timbulnya penyakit yang berhubungan dengan bakteri dan cendawan. Madu dengan kandungan gula sederhana, baik bagi kebutuhan vitalitas tubuh. Dengan tambahan sifat fisik madu, madu sangat disarankan untuk perawatan kulit dalam menu kosmetika keluarga.
Madu merupakan salah satu jenis makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat baik. Komponen yang menyusun madu ialah 20 % air, 38% fruktosa, 30 % glukosa, 1% sukrosa, 70 % maltosa, gula lain 1 %, asam bebas 0,4 %, total asam 0,6 %, laktosi 0,1 %, abu 0,2 % dan nitrogen 0,04 %. Kandungan mineral antara lain kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, tembaga, mangan, klor, pospor, sulfur dan silikon. Kandungan enzim pada madu berupa invertase, glikooksidase, diastase, sedikit katalase, asam porpatase. Vitamin yang terkandung dalam madu meliputi: B1, B2. B3, B4, B5, B6 dan C. Sifat fisik madu yang menguntungkan antara lain higroskopisitas dan uskositas. Sering mungkin minum madu memberikan efek yang mengagumkan secara medis.
Selain madu dari lebah yang merupakan ciptaan Allah, juga terdapat bahan yang disebut Royal Jely. Adalah subtansi menyerupai jeli (milk) yang disekresikan oleh lebah pekerja muda, lewat kelenjar hipotaring sebagai makanan khusus bagi larva calon ratu dan larva muda calon pekerja.
Royal Jely dikenal sebagai bahan katalis, yaitu bahan penyeimbang dalam sistem metabolisme. Sehingga Royal Jely sering diindikasikan sebagai makanan yang berfungsi untuk stimulan yang membangkitkan selera, pengendali bobot tubuh, bantuan pada efisiensi pencernakan, anti depresan, stimulan sekresi kelenjar, penyelaras metabolisme, antibiotik, meningkatkan kekebalan melawan penyakit, menormalisasi fungsi seksual, dan pemacu jaringan tubuh untuk menjadi sehat. Beberapa catatan kasus kesehatan yang berhasil diatasi dengan mengkonsumsi Royal Jely antara lain, ialah: alergi, angina (jantung), anoreksia, kegelisahan, asma, rambut rontok, jerawat, sesak nafas, bronkitis, kanker, masuk angin, sembelit, jantung koroner, kejang, sintetis, kelelahan, depresi, dermatitis, nyeri haid, dyspepsia, aksim, demam, sakit kepala, herpes, impotensi, insomnia, mual, nyeri, malmetisi. Fungsi lain dari Royal Jely adalah merawat kecantikan dan meningkatkan pretensi kecerdasan.
Dua pertiga bagian Royal Jely berupa air, dan sepertiga berupa padatan yang terdiri dari: protein, gula sedikit lemak, abu dan bahan yang belum terindentifikasi. Komponen nutrisi dominan dalam Royal Jely berupa protein (38%). Tersusun dari 30 asam amino (15 protein esensial) yang berguna dalam perawatan dan pembentukan jaringan serta fungsi reproduksi. Komponen nutrisi gula sebanyak 33 % yang berupa fruktosa dan glukosa. Komponen lemak sebanyak 9 % (berbeda dengan lemak hewani dan nabati) yang berguna dalam aspek biologis Royal Jely, seperti proses anti bakteri, anti tumor, antioksidasi (anti radikal bebas), pemurnian kolesterol dan triglesida dalam darah dan perbaikan jaringan. Komponen nutrisi mineral sebanyak 3 % yang didominasi oleh kalium dan disertai mineral lainnya yaitu magnesium, kalium, natrium, kalsium, seng, besi, tembaga, mangan. Vitamin yang terkandung adalah B1, B2. B3, B4, B5, B6, B7, B8, B9, B12, A, D, K dan C. Komponen lainnya yang belum teridentifikasi sebanyak 11% yang dinamakan bahan R dan diduga dapat memberikan sumbangan terhadap Royal Jely.
PENYEMBUHAN DENGAN AL HABBATUS SAUDA
Dalam Shahihain dari hadits Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
عَلَيْكُمْ بَهذ ه الحَبَّةَ السَّود ا ء فإ نَّ فيها شِفَا ء لكلَّ د ا ءٍ إ لا السَّام ,, السَّام : المو ت
Gunakanlah biji hitam ini, karena di dalamnya terdapat obat dari segala penyakit kecuali racun, racun itu adalah kematian.
Biji hitam itu memang banyak sekali manfaatnya. Ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, obat dari segala macam penyakit; seperti halnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al Ahqaf :25
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
Artinya:Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.
Maksudnya ialah segala sesuatu yang dapat dihancurkan dan yang serupa dengannya.
PENYEMBUHAN DENGAN BERBEKAM
Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa berbekam termasuk sunnah Rasulullah. Berbekam (hijamah) ialah mengeluarkan darah dari badan seseorang dengan menelungkupkan mangkuk panas di kulit, sehingga kulit menjadi bengkak, kemudian digores dengan benda tajam, supaya darahnya keluar.
Sangat perlu diperhatikan dalam berbekam ialah peralatan yang digunakan haruslah dalam keadaan suci hama (steril), sehingga tidak menimbulkan penyakit (infeksi sekunder).
Berikut ini contoh bagian tubuh yang dibekam, diambil dari kitab At Tibbun Nabawi karangan Ibnul Qayyim.
• Pembekaman di bagian atas punggung, bermanfaat terhadap nyeri pundak dan kerongkongan.
• Berbekam di urat lengan, bermanfaat terhadap penyakit–penyakit kepala dan bagian-bagiannya, seperti: wajah, gigi, telinga, mata, hidung dan tenggorokan, Hal demikian itu dikarenakan banyaknya darah, atau rusaknya darah, atau karena kedua-duanya.
• Anas Radhiyallahu 'anhu menyatakan,”Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan berbekam di urat Beliau dan di bagian atas punggung Beliau (punuk).”
• Termuat di dalam Shahihain, darinya,”Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbekam dengan tiga bekaman. Satu di punuk dan dua di urat lengan Beliau.”
• Termuat di dalam Shahihain, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berbekam pada kepala Beliau, ketiak Beliau dalam keadaan ihram. Yaitu untuk menghilangkan pening yang ada di kepala Beliau.”
• Termuat di dalam Sunan Ibnu Majah, dari Ali,”Jibril menginspirasikan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berbekam di kedua urat, lengan dan punuk.”
• Termuat di dalam Sunan Abu Dawud, dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berbekam di pinggul Beliau untuk menghilangkan kelesuan yang dideritanya.”
PENYEMBUHAN DENGAN BAHAN-BAHAN TRADISIONAL
Pengalaman membuktikan, bahwa obat-obat tradisional banyak manfaatnya bagi kesehatan. Bahkan sekarang perusahaan-perusahaan farmasi sudah mulai menggunakan bahan-bahan tradisional dalam campuran obat yang dihasilkannya.
Bahan-bahan tradisional memang sudah turun-temurun digunakan oleh masyarakat dan biasa dimanfaatkan dalam kehidupan rumah tangga. Misalnya kunyit, temulawak, daun sirih, kayu manis, cengkeh, buah mengkudu dan lain sebagainya. Bahan-bahan seperti ini mudah ditanam sebagai tanaman obat keluarga (TOGA) yang memang dipersiapkan untuk anggota keluarga.
PENYEMBUHAN DENGAN DO’A
Manusia yang ditakdirkan sakit memang wajib berikhtiar mencari kesembuhan, baik dengan obat-obatan moderen maupun alamiah. Selain itu harus disadari, bahwa pengobatan paling hakiki ialah memohon langsung kepada Allah dengan do’a disertai tawakal atau berserah diri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Artinya: Dan Rabbmu berfirman, "Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." [Al Mu’min:60]
Juga firmanNya ketika mengisahkan permohonan Nabi Ayyub Alaihissallam untuk disembuhkan dari penyakitnya.
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ
Artinya : Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya,"(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. [Al Anbiya:83,84]
Dalam hadits juga banyak diriwayatkan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika kita sakit, diantaranya,
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
Dari Utsman bin Abi Al ‘Ash Ats Tsaqafi, bahwasanya dia mengadu kepada Rasulullah tentang rasa sakit yang ia derita pada badannya semenjak ia masuk Islam, maka Rasulullah berkata kapadanya,”Letakkanlah tanganmu pada bagian yang sakit dan bacalah bismillah tiga kali dan bacalah tujuh kali,’Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku takuti’.” [HR Muslim 4/1728].
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَوِّذُ بَعْضَ أَهْلِهِ يَمْسَحُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَيَقُولُ اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Dari Aisyah, bahwasanya Nabi memohon perlindungan bagi keluarganya, Beliau mengusap dengan tangan kanannya dan berdoa,”Ya Allah Rabb Pemelihara manusia, hilangkanlah deritanya, sembuhkanlah. Engkaulah Dzat Yang mampu menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu semata, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.” [Muttaffaqun ‘alaihi].
Apabila sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh atau hidup, Rasulullah n juga mengajarkan kepada kita untuk selalu berdo’a dan berdo’a.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْ حَمْنِيْ وَألْحِقْنِي بِا لرَّ فِيْقِ الأَعلى
Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, dan pertemukan aku dengan Engkau, Kekasih Yang Maha Tinggi.” [HR Al Bukhari 7/10, Muslim 4/1893].
PENUTUP
Penyembuhan tanpa obat merupakan pengobatan alternatif yang tidak menggunakan obat-obat moderen atau obat-obatan yang tidak mengandung bahan kimiawi. Bisa juga disebut penyembuhan tanpa obat didasarkan pada pengobatan alamiah dan pengobatan ilahiah.
Penyembuhan tanpa obat, tidak dengan pergi ke orang pintar (dukun), menggunakan mantra, jampi, pengobatan alternatif dengan menggunakan tenaga paranormal (supranatural), ataupun sarana lainnya yang menjurus kepada kesyirikan. Hal tersebut dilarang dan diharamkan.
Ibnul Qayyim Al Jauziah dalam kitab At Tibbun Nabawi menyebutkan, bahwa pengobatan Nabi terhadap penyakit, ada tiga macam. Yaitu: dengan obat-obatan alami, obat-obatan Ilahi dan dengan gabungan dari keduanya.
Meskipun pengobatan alamiah tersebut menurut pengalaman sudah banyak manfaatnya, tetapi sebaiknya memang diperlukan penelitian-penelitian lebih lanjut supaya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. (dr. Ira)
Maraji :
- Al Quran nul Karim.
- Ibnul Qayyim Al Jauziyah. 1997. Pengobatan Cara Nabi, Pustaka, Bandung.
- Hishnul Muslim
- Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al Jarullah, 1997. Hukum Orang Sakit dan Adabnya. Pustaka Mantiq, Bandung.
- David Werner,. 2000. Apa Yang Anda Kerjakan Bila Tidak Ada Dokter. Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta.
- Madu, Royal Jelly Dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. Tanpa Tahun. Pusat Perlebahan Nasional
- Kumpulan Do’a Dalam Al Qur’an Dan Al Hadits, Said bin Ali bin Wahf Al Qathani, Darul Haq, Jakarta.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VII/1420H/1999M
Pengobatan Menggunakan Habbatus Sawda', Dengan Madu Dan Dengan Bekam
PENGOBATAN MENGGUNAKAN HABBATUS SAWDA' (JINTAN HITAM)
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya di dalam habbatus sawda’ (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit kecuali kematian”.
Ibnu Syihab mengatakan : “Kata As-Saam di sini berarti kematian, sedangkan habbatus sawda’ berarti syuniz” [1]
Habbatus sawda’ ini mempunyai manfaat yang sangat banyak. [2]
Jintan hitam sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit dengan izin Allah.
PENGOBATAN DENGAN MADU
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan” [An-Nahl : 69]
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu : Dalam pisau pembekam, meminumkan madu, atau pengobatan dengan besi panas (kayy). Dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan besi panas (kayy)”. [3]
PENGOBATAN DENGAN BEKAM [4]
Berbekam [5] termasuk pengobatan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan bekam dan memberikan upah kepada tukang bekam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian lakukan untuk mengobati penyakit adalah dengan melakukan bekam” [6]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sebaik-baik pengobatan penyakit adalah dengan melakukan bekam” [7]
Wasiat Malaikat Untuk Berbekam
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah aku melewati seorang Malaikat –ketika di Mi’rajkan ke langit- kecuali mereka mengatakan ‘Wahai Muhammad, lakukanlah olehmu berbekam” [8]
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan ketika beliau di Isra’kan, tidaklah beliau melewati sekumpulan Malaikat melainkan mereka meminta kami,” Perintahkanlah ummatmu untuk berbekam” [9]
Waktu Yang Paling Baik Untuk Berbekam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang ingin berbekam, hendaklah ia berbekam pada tanggal 17,19,21 (bulan Hijriyyah), maka akan menyembuhkan setiap penyakit” [10]
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya hari yang paling baik bagimu untuk berbekam adalah hari ke 17, hari ke 19, dan hari ke 21 (bulan Hijriyyah)” [11]
Hari yang paling baik untuk berbekam adalah pada hari Senin, Selasa dan Kamis. Sebaliknya hindari berbekam pada hari Rabu, Jum’at, Sabtu dan Ahad” [12]
PENGOBATAN MENGGUNAKAN AIR ZAMZAM
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai air zamzam ini.
“Air zamzam itu penuh berkah. Ia merupakan makanan yang mengenyangkan (dan obat bagi penyakit)” [13].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.
“Air zamzam tergantung kepada tujuan di minumnya” [14]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membawa air zamzam (di dalam tempat-tempat air) dan girbah (tempat air dari kulit binatang), beliau menyiramkan dan meminumkannya kepada orang-orang yang sakit” [15]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Aku sendiri dan juga yang lainnya pernah mempraktekkan upaya penyembuhan dengan air zamzam terhadap beberapa penyakit, dan hasilnya sangat menakjubkan, aku berhasil mengobati berbagai macam penyakit dan aku pun sembuh atas izin Allah” [16]
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan bimbingan kepada kita untuk dimudahkan dalam menggunakan pengobatan yang sesui dengan syari’at (Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).
[Disalin dari buku Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna Dan Sihir Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cetakan Keenam Dzulhijjah 1426H/Januari 2006M]
Pentingnya Penyembuhan Dengan Al-Qur'an Dan As-Sunnah
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ruqyah [1], merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Katakanlah ; Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman” [Fushshilat : 44]
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Al-Israa : 82]
Pengertian “dari Al-Qur’an”, pada ayat di atas adalah Al-Qur’an itu sendiri. Karena Al-Qur’an secara keseluruhan adalah penyembuh, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas [2]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Yunus : 57]
Dengan demikian, Al-Qur’an merupakan penyembuh yang sempurna di antara seluruh obat hati dan juga obat fisik, sekaligus sebagai obat bagi seluruh penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang mampu dan mempunyai kemampuan untuk melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an. Jika pengobatan dan penyembuhan itu dilakukan secara baik terhadap penyakit, dengan didasari kepercayaan dan keimanan, penerimaan yang penuh, keyakinan yang pasti, terpenuhi syarat-syaratnya, maka tidak ada satu penyakit pun yang mampu melawan Al-Qur’an untuk selamanya. Bagaimana mungkin penyakit-penyakit itu akan menentang dan melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika (firman-firman itu) turun ke gunung, maka ia akan memporak-porandakan gunung-gunung tersebut, atau jika turun ke bumi, niscaya ia akan membelahnya.
Oleh karena itu, tidak ada satu penyakit hati dan juga penyakit fisik pun melainkan di dalam Al-Qur’an terdapat jalan penyembuhannya, sebab kesembuhan, serta pencegahan terhadapnya bagi orang yang dikaruniai pemahaman oleh Allah terhadap Kitab-Nya. Dan Allah Azza wa Jalla (Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung) telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa penyakit hati dan fisik, juga disertai penyebutan penyembuhan hati dan juga fisik.
Adapun penyakit-penyakit hati terdiri dari dua macam, yaitu : penyakit syubhat (kesamaran) atau ragu, dan penyakit syahwat atau hawa nafsu. Allah yang Mahasuci telah menyebutkan beberapa penyakit hati secara terperinci yang disertai dengan beberapa sebab, sekaligus cara penyembuhan penyakit-penyakit tersebut. [3]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman” [Al-Ankabuut : 51]
Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengemukakan.
“Barangsiapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al-Qur’an, berarti Allah tidak memberikan kesembuhan kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Qur’an, maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya” [4]
Mengenai penyakit-penyakit badan atau fisik, Al-Qur’an telah membimbing dan menunjukkan kita kepada pokok-pokok pengobatan dan penyembuhannya, dan juga kaidah-kaidah yang dimilikinya. Yakni, bahwa kaidah pengobatan penyakit badan secara keseluruhan terdapat di dalam Al-Qur’an, yaitu ada tiga point.
1). Menjaga kesehatan
2). Melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit
3). Mengeluarkan unsur-unsur yang merusak badan. [5]
Jika seorang hamba melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an secara baik dan benar, niscaya dia akan melihat pengaruh yang sangat menakjubkan dalam penyembuhan yang cepat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat Al-Faatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zamzam dan membacakan padanya surat Al-Faatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat”[6]
Demikian juga pengobatan dengan ruqaa (jama’ dari ruqyah) Nabawi yang riwayatnya shahih merupakan obat yang sangat bermanfaat. Dengan ayat dan do’a yang dipanjatkan. Apabila do’a tersebut terhindar dari penghalang-penghalang terkabulnya do’a itu, maka ia merupakan sebab yang sangat bermanfaat dalam menolak hal-hal yang tidak disenangi dan akan tercapai hal-hal yang diinginkan. Yang demikian itu termasuk salah satu obat yang sangat bermanfaat, khususnya yang dilakukan berkali-kali. Dan do’a pun berfungsi sebagai penangkal bala’ (musibah), mencegah dan menyembuhkannya, menghalangi turunnya, atau meringankannya jika ternyata sudah sempat turun. [7]
“Tidak ada yang dapat mencegah qadha’ (takdir) kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebajikan” [8]
Tetapi yang harus dimengerti dengan cermat, yaitu bahwa ayat-ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan beberapa ta’awudz (permohonan perlindungan kepada Allah) yang dipergunakan untuk mengobati atau untuk ruqyah pada hakikatnya pada semua ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan ta’awwudz itu sendiri memberi manfaat yang besar dan juga dapat menyembuhkan. Namun, ia memerlukan penerimaan (dari orang yang sakit) dan kekuatan orang yang mengobati dan pengaruhnya. Jika suatu penyembuhan itu gagal, maka yang demikian itu disebabkan oleh lemahnya pengaruh pelaku, atau karena tidak adanya penerimaan oleh pihak yang diobati, atau adanya rintangan yang kuat di dalamnya yang menghalangi reaksi obat.
Pengobatan dengan ruqyah ini dapat dicapai dengan adanya dua aspek, yaitu dari pihak pasien (orang yang sakit) dan dari pihak orang yang mengobati
Yang berasal dari pihak pasien adalah berupa kekuatan dirinya dan kesungguhan bergantung kepada Allah, serta keyakinannya yang pasti bahwa Al-Qur’an itu memang penyembuh sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ta’awwudz yang benar yang sesuai antara hati dan lisan, maka yang demikian itu merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap penyakit. Dan seseorang yang melakukan perlawanan tidak akan memperoleh kemenangan dari musuh kecuali dengan dua hal, yaitu :
Pertama : Keadaan senjata yang dipergunakan haruslah benar, bagus dan kedua tangan yang menggunakannya pun harus kuat. Jika salah satu dari keduanya hilang, maka senjata itu tidak banyak berarti, apalagi jika kedua hal di atas tidak ada, yaitu, hatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, tawajjuh (menghadap, bergantung sepenuhnya kepada Allah) dan tidak memiliki senjata.
Kedua : Dari pihak yang mengobati dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah juga harus memenuhi kedua hal di atas [9]. Oleh karena itu, Ibnut Tiin rahimahullah berkata : “Ruqyah dengan menggunakan beberapa kalimat ta’awwudz dan juga yang lainnya dari Nama-Nama Allah adalah pengobatan rohani. Jika dilakukan oleh lisan orang-orang yang baik, maka dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala kesembuhan tersebut akan terwujud” [10]
Para ulama telah sepakat membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu : [11]
[1]. Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau Asma dan sifat-Nya, atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[2]. Ruqyah itu boleh diucapkan dalam bahasa Arab atau bahasa lain yang difahami maknanya.
[3]. Harus diyakini bahwa bukanlah dzat ruqyah itu sendiri yang memberikan pengaruh, tetapi yang memberi pengaruh itu adalah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja. [12]
[Disalin dari buku Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna Dan Sihir Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cetakan Keenam Dzulhijjah 1426H/Januari 2006M]
Jimat-Jimat Yang Terlarang
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa yang dimaksud dengan Tamimah (jimat) yang mengandung unsur syirik? Dan apakah orang yang menggantungkan jimat tersebut berarti dia orang musyrik yang jenazahnya tidak boleh dishalati?
Jawaban
Tamimah (jimat) yang dilarang adalah jimat-jimat yang digantungkan di leher anak kecil dan orang yang sedang sakit atau selain mereka yang berupa mutiara atau merjan atau tali (rantai) atau paku atau tulang dan lain-lain. Perbuatan ini biasaa dilakukan di zaman jahiliyah. Menurut pendapat yang shahih dari para ulama, menggantungkan ayat-ayat Al-Qur’an atau do’a-do’a yang syar’i adalah termasuk jimat yang dilarang, berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menunjukkan bahwa hal itu haram dan terlarang. Diantara hadits-hadits tersebut adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan pengasihan adalah syirik’
Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka Allah tidak akan menolongnya dan barangsiapa yang menggantungkan pengasihan maka Allah akan menggagalkannya” [HR Ahmad]
Dalam riwayat lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik” [HR Ahmad]
Dan beliau juga pernah melihat seorang laki-laki yang memakai gelang dari kuningan di tangannya lalu beliau bertanya kepada orang itu.
“Apa ini?” Orang itu menjawab : “Sesuatu yang bisa menundukkan (melemahkan) orang lain”. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lepaskan gelang-gelang itu! Sesungguhnya itu hanya akan menambah kelemahanmu. Jika engkau mati dan engkau masih memakai gelang itu maka engkau tidak akan bahagia selama-lamanya”.
Dan hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, semuanya menunjukkan tentang haramnya menggantungkan jimat-jimat yang terbuat dari apapun. Semua itu termasuk perkara yang haram dan syirik. Tapi bukan termasuk syirik besar apabila dia tidak meyakini bahwa jimat-jimat tersebut bisa menolak bahaya tanpa kehendak Allah. Apabila dia meyakini bahwa jimat-jimat tersebut bisa menolak bahaya tanpa kehendak Allah, maka dia telah jatuh ke dalam syirik besar (keluar dari Islam).
Adapun orang yang menggantungkan jimat-jimat dan dia hanya meyakini bahwa jimat-jimat tersebut hanya sebagai sebab untuk menolak penyakit atau mengusir jin dan lain-lain maka keyakinan seperti ini adalah haram dan syirik, tapi tidak termasuk syirik besar.
Yang dimaksud dengan ruqyah (jampi-jampi) yang dilarang adalah ruqyah yang memakai bahasa yang tidak diketahui maksudnya atau kalimat yang mengandung perkataan haram. Adapun jika ruqyah tersebut memakai kalimat-kalimat yang bisa dipahami dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam, seperti dengan memakai ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a dari Nabi atau do’a-do’a yang tidak diharamkan syari’at, maka ini dibolehkan. Dengan syarat orang yang meruqyah dan orang yang diruqyah tidak menggantungkan dirinya dengan ruqyah tersebut, tetapi hendaknya menyandarkan dan memasrahkan hasilnya hanya kepada Allah. Sebab ruqyah-ruqyah tersebut hanya sebagai perantara. Adapun hasil dan kesembuhannya hanyalah ada di tangan Allah. Sebab tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Allah.
Sedangkan yang dimaksud dengan tilawah (pengasihan) adalah satu jenis diantara jenis-jenis sihir yang bisa membikin seseorang cinta kepada lawan jenisnya dan sebaliknya. Dan semua jenis sihir hukumnya haram, bahkan bisa jatuh kedalam syirik hal ini berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan tentang haramnya sihir dan bahwa sihir-sihir tersebut bisa menyebabkan syirik besar. Dan Allah-lah yang berhak memberi taufik.
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Eidisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan – Solo]
Syarat Pengobatan Yang Manjur
Oleh
Ustadz Dr Muhammad Arifin bin Badri MA
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَاأَنْزَلَ اللَّه دَاءً إِِلاقَدْأَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan untuknya obat, hal itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya” [1]
Agar suatu pengobatan manjur dan mendatangkan hasil, kita harus mengindahkan beberapa persyaratan. Dan berikut ini akan saya paparkan dua syarat utama bagi pengobatan yang manjur.
SYARAT PERTAMA : PENGOBATAN TEPAT
Agar obat yang anda gunakan benar-benar berguna dan manjur, sehingga penyakit yang anda derita sembuh, pengobatan anda harus tepat.
• Tepat ketika mendiagnosis penyakit yang anda derita
• Tepat memilih obat
• Tepat dalam dosis obat
• Tepat waktu penggunaan
• Tepat dengan menghindari berbagai pantangan dan hal lain yang menghambat kerja obat.
Bila anda melakukan kesalahan pada satu dari hal-hal tersebut maka sangat dimungkinkan pengobatan yang anda lakukan tidak akan mendatangkan hasil sebagaimana diharapkan.
Demikianlah sebagian dari pelajaran yang dapat kita petik dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut.
عَنْ جَابِرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَنَّهُ قَالَ (لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَاأُصِيبَ دَوَاءُالدَّاءِ بَرَأَ بِإذْنِ اللَّهِ عَرَّ وَجَلَّ)
“Dari sahabat Jabir Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izzin Allah Azza wa Jalla” [HR Muslim]
Ibnul Qayim rahimahullah, mengomentari hadits ini dengan berkata, “Pada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan dengan ketepatan (kecocokan) obat dengan penyakit. Sebab, tidak ada satu makhlukpun melainkan memiliki lawannya. Dan setiap penyakit pasti memiliki obat yang menjadi penawarnya, yang dengannya penyakit itu diobati. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan dengan ketepatan dalam pengobatan. Ketepatan ini merupakan hal yang lebih dari sekedar ada atau tidak adanya obat (bagi suatu penyakit, pen) karena obat suatu penyakit bila melebihi kadar penyakit, baik pada metode penggunaan atau dosis yang semestinya akan berubah menjadi penyakit baru. Bila metode penggunaan atau dosis kurang dari yang semestinya, maka tidak akan mampu melawan penyakit, sehingga penyembuhannya pun tidak sempurna. Bila seorang dokter salah dalam memilih obat, atau obat yang ia gunakan tidak tepat sasaran, maka kesembuhan tak ‘kan kunjung tiba. Bila waktu pengobatan dilakukan tidak tepat dengan obat tersebut, niscaya obat tidak akan berguna. Bila badan pasien tidak cocok dengan obat tersebut atau fisiknya tidak mampu menerima obat tersebut atau ada penghalang yang menghalangi kerja obat tersebut, niscaya kesembuhan tak kan kunjung tiba. Semua itu dikarenakan ketidaktepatan dalam pengobatan. Bila pengobatan tepat dalam segala aspeknya, pasti –dengan izin Allah- kesembuhan akan diperoleh. Inilah penafsiran terbaik bagi hadits di atas. [2]
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan yang senada dengan ucapan Ibnul Qayyim, “Pada hadits riwayat sahabat Jabir Radhiyallahu anhu terdapat isyarat bahwa kesembuhan tergantung pada ketepatan dan izin Allah. Yang demikian itu dikarenakan suatu obat kadang kala melebihi batas baik dalam metode penggunaan atau dosisnya, sehingga obat tersebut tidak manjur, bahkan dimungkinkan obat itu malah menimbulkan penyakit baru.[3]
SYARAT KEDUA : IZIN ALLAH
Sebagai seorang muslim anda pasti beriman kepada takdir Allah. Anda mempercayai bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi atas kehendak dan ketentuan dari Allah Ta’ala.
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (ketentuan)” [Al-Qomar : 49]
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرِ (كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِوَالْكَيْسِ)
“Segala sesuatu (terjadi) atas takdir (ketentuan dan kehendak), hingga rasa malas dan semangat pun (terjadi atas takdir)” [HR Muslim]
Kehendak dan ketentuan Allah ini mencakup segala sesuatu, tidak terkecuali penyakit dan kesembuhan yang menimpa manusia. Oleh karenanya, Nabi Ibrahim Alaihissallam berkata sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an.
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan bila aku sakit, maka Dialah Yang menyembuhkan”. [Asy-Syu’ara : 80]
Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila ada salah seorang dari anggota keluarganya yang menderita sakit, atau ketika menjenguk orang yang sedang sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanannya, sambil berdo’a.
اللَّهُمِ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ اْلبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لاَشِفَاءَ إِلاشِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَيُغَادِرُسَقَمًا
“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, sirnakanlah keluhan, sembuhkanlah dia, sedangkan Engkau Dzat Penyembuh, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada menyisakan penyakit” [Muttafaqun ‘alaih]
Oleh karenanya, pada hadits Jabir Radhiyallahu anhu di atas, selain mengaitkan kesembuhan dengan ketepatan dalam pengobatan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengaitkannya dengan kehendak Allah.
“Bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla”.
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
أَنْزَلَ الدَّوَاءَ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَدْوَاءَ
“Yang menurunkan obat adalah (Dzat) yang menurunkan penyakit” [4]
Terdapat dalil (yang menjelaskan) bahwa kesembuhan, tidak ada seorang pun yang mampu menyegerakan kedatangannya, dan tidak seorang pun yang mengetahui waktu kedatangannya. Sungguh aku telah menyaksikan sebagian dokter (tabib) yang berusaha mengobati dua orang yang ia anggap menderita penyakit yang sama. Keduanya ditimpa penyakit pada waktu yang sama, umur yang sama, berasal dari negeri yang sama, bahkan kadangkala mereka adalah dua orang saudara kembar, dan makanan mereka pun sama. Sebab itu, dokter tersebut mengobati keduanya dengan obat yang sama. Akan tetapi, salah satunya sembuh, sedangkan yang lain malah mati atau penyakitnya berkepanjangan. Orang kedua itu baru sembuh setelah sekian lama, yaitu tiba waktu yang telah Allah tentukan kesembuhannya”. [5]
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Di antara pelajaran yang terkandung dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
َلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ
“Obat itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”
(Di antara pelajaran tersebut ialah) apa yang dialami oleh sebagian pasien. Ia berobat dari suatu penyakit dengan suatu obat lalu ia sembuh. Kemudian pada lain waktu ia ditimpa oleh penyakit yang sama, lalu ia pun berobat dengan obat yang sama, tetapi obat itu tidak manjur. Penyebab terjadinya hal semacam ini adalah kebodohannya (ketidaktahuannya) tentang sebagian karakter obat tersebut. Mungkin saja ada dua penyakit yang serupa, sedangkan salah satunya terdiri dari beberapa penyebab (penyakit/komplikasi), sehingga tidak dapat diobati dengan obat yang telah terbukti manjur untuk mengobati penyakit yang tidak komplikasi, di sinilah letak kesalahannya. Dan kadang kala kedua penyakit tersebut sama, tetapi Allah menghendaki untuk tidak sembuh, maka obat itu pun tidak manjur, dan saat itulah runtuh keangkuhan para tabib (dokter).[6]
Penjelasan diatas membantah praduga atau pemahaman sebagian orang bahwa bila suatu hal telah dinyatakan sebagai obat bagi suatu penyakit maka harus pasti manjur dan penyakit sirna. Atau, apabila imunisasi terhadap suatu penyakit telah diberikan maka anak kita pasti kebal dan terhindar dari penyakit tersebut. Sadarlah wahai saudaraku, semua yang kita lakukan dan kita upayakan hanyalah sebatas usaha sedangkan Allah yang menentukan dan menakdirkan. Dahulu dinyatakan.
إِذَا وَقَعَ الْقَدَرُ بَطَلَ الحَذَرُ
“Bila takdir telah datang maka sirnalah kehati-hatian”
Maksudnya, bila Allah telah menentukan suatu penyakit menimpa seseorang, atau bila ajal telah datang maka berbagai upaya yang ditempuh manusia untuk menghindari tidak lagi berguna, dan kehendak Allah lah yang pasti terjadi. Aqidah dan keyakinan ini tidak boleh kita lupakan kapan pun kita berada, serta apa pun profesi kita. Kaitannya dengan proses pengobatan setiap penyakit yang kita derita, maka dapat dirangkum dalam beberapa hal berikut.
1. Hendaknya kita yakin, bahwa yang menciptakan penyakit adalah Allah, dan yang menentukan bahwa penyakit tersebut menimpa kita adalah Allah. Kita tidak perlu berkeluh kesah, kita menerima semuanya dengan lapang dada. Percayalah bahwa dibalik penyakit tersebut pasti tersimpan beribu-ribu hikmah. Dengan cara ini, apapun yang kita alami akan mendatangkan kebaikan bagi kita, baik di dunia ataupun di akhirat.
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنَّ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh mengherankan urusan seorang yang beriman, sesungguhnya segala urusannya baik, dan hal itu tidaklah dimiliki melainkan oleh orang yang beriman. Bila ia ditimpa kesenangan, ia bersyukur, maka kesenangan itu menjadi baik baginya. Dan bila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka kesusahan itu baik baginya” [HR Muslim]
2. Hal selanjutnya yang hendaknya kita lakukan ialah memohon kesembuhan kepada Allah, menumbuhkan keimanan dan keyakinan bahwa hanya Allah lah yang dapat menyembuhkan penyakit kita. Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahui ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya do’a
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, sirnakanlah keluhan, sembuhkanlah dia, sedangkan Engkaulah Penyembuh, tiada kesembuhan melainan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada menyisakan penyakit”
Kita sering melupakan hal ini. Bahkan, sering kali do’a menjadi upaya terakhir yang kita lakukan dalam upaya penyembuhan, atau hanya kita lakukan bila tenaga medis telah kesulitan, atau kita telah mengeluarkan banyak biaya sehingga rasa putus asa telah menyelimuti sanubari dan –mungkin juga- dengan penuh keraguan kita berdo’a memohon kesembuhan kepada Allah, sambil berkata, “Siapa tahu do’a kita dikabulkan”. Subhanallah, dengan tenaga medis kita optimis, akan tetapi dengan kekuasaan Allah kita ragu, sehingga kita berkata “Siapa tahu do’a kita dikabulkan”?
[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 08, Tahun ke-10/Rabi'ul Awal 1432 (Feb - 2011. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
sumber;//almanhaj.or.id
''
Tentang Keutamaan
Beramal pada Bulan Ramadhan dan Kedudukan Ali bin Abi Thalib dalam Islam
Rasûlullâh saw menyampaikan khotbahnya tentang keutamaan bulan Ramadhan
dan keutamaan beramal saleh padanya, dan juga beliau mengingatkan ummat
manusia kepada kedudukan ‘Ali bin Abî Thâlib di dalam Islam, maka siapa
yang mengingkari imâmah-nya berarti dia telah mengingkari nubuwwah
beliau saw. Dan beliau memberikan kesan bahwa ada yang lebih penting
dari beramal saleh di bulan Ramadhân, yaitu mengimani kepemimpinan ‘Ali
bin Abî Thâlib as, karena imâmah-nya sebagaimana nubuwwah Nabi saw,
yakni sama-sama pilihan Allah ‘azza wa jalla yang diridoi.
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Tentang Keutamaan
Beramal pada Bulan Ramadhan dan Kedudukan Ali bin Abi Thalib dalam Islam
Rasûlullâh saw menyampaikan khotbahnya tentang keutamaan bulan Ramadhan
dan keutamaan beramal saleh padanya, dan juga beliau mengingatkan ummat
manusia kepada kedudukan ‘Ali bin Abî Thâlib di dalam Islam, maka siapa
yang mengingkari imâmah-nya berarti dia telah mengingkari nubuwwah
beliau saw. Dan beliau memberikan kesan bahwa ada yang lebih penting
dari beramal saleh di bulan Ramadhân, yaitu mengimani kepemimpinan ‘Ali
bin Abî Thâlib as, karena imâmah-nya sebagaimana nubuwwah Nabi saw,
yakni sama-sama pilihan Allah ‘azza wa jalla yang diridoi.
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Tentang Keutamaan
Beramal pada Bulan Ramadhan dan Kedudukan Ali bin Abi Thalib dalam Islam
Rasûlullâh saw menyampaikan khotbahnya tentang keutamaan bulan Ramadhan
dan keutamaan beramal saleh padanya, dan juga beliau mengingatkan ummat
manusia kepada kedudukan ‘Ali bin Abî Thâlib di dalam Islam, maka siapa
yang mengingkari imâmah-nya berarti dia telah mengingkari nubuwwah
beliau saw. Dan beliau memberikan kesan bahwa ada yang lebih penting
dari beramal saleh di bulan Ramadhân, yaitu mengimani kepemimpinan ‘Ali
bin Abî Thâlib as, karena imâmah-nya sebagaimana nubuwwah Nabi saw,
yakni sama-sama pilihan Allah ‘azza wa jalla yang diridoi.
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
=======
Tentang Keutamaan
Beramal pada Bulan Ramadhan dan Kedudukan Ali bin Abi Thalib dalam Islam
Rasûlullâh saw menyampaikan khotbahnya tentang keutamaan bulan Ramadhan
dan keutamaan beramal saleh padanya, dan juga beliau mengingatkan ummat
manusia kepada kedudukan ‘Ali bin Abî Thâlib di dalam Islam, maka siapa
yang mengingkari imâmah-nya berarti dia telah mengingkari nubuwwah
beliau saw. Dan beliau memberikan kesan bahwa ada yang lebih penting
dari beramal saleh di bulan Ramadhân, yaitu mengimani kepemimpinan ‘Ali
bin Abî Thâlib as, karena imâmah-nya sebagaimana nubuwwah Nabi saw,
yakni sama-sama pilihan Allah ‘azza wa jalla yang diridoi.
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Dari 'Ali bin Abî
Thâlib as berkata, "Suatu hari Rasûlullâh saw berkhotbah, lalu beliau
berkata (dalam khotbahnya), "Wahai manusia! Telah datang kepada kalian
bulan Allah dengan membawa barakah, rahmah dan maghfirah. Ia adalah
bulan yang di sisi Allah merupakan bulan yang paling utama, hari-harinya
adalah hari-hari yang paling utama, malam-malamnya adalah malam-malam
yang paling utama dan saat-saatnya adalah saat-saat yang paling utama.
Ia adalah bulan yang padanya kalian diundang kepada jamuan Allah, dan
padanya kalian hendak dijadikan di antara orang-orang yang mendapatkan
kemuliaan Allah. Nafas-nafas kalian padanya adalah tasbîh (senilai
mengupapkan: Subhanallâh, walhamdu lillâh, wa lâ ilâha illallâh, wallâhu
akbar), tidur kalian padanya terhitung ibadah, amal kalian padanya
diterima dan doa kalian padanya dijawab. Maka mintalah kepada Allah
Tuhan kalian dengan niat yang benar dan hati yang suci agar Dia memberi
kalian taufîq untuk dapat menshauminya (dengan baik) dan membaca
kitab-Nya. Sesungguhnya manusia yang celaka itu adalah manusia yang
tidak memperoleh ampunan Allah di dalam bulan yang agung ini. Ingatlah
dengan rasa lapar dan dahaga kamu padanya akan kelaparan dan kehausan
kamu pada hari kiamat. Bersedekah kamu kepada orang-orang faqîr dan
orang-orang miskin kamu. Hormatilah orang-orang yang usianya lebih tua
darimu, sayangilah orang-orang yang umurnya lebih muda darimu,
sambungkan rahim-rahimmu, jagalah lidah-lidahmu, tundukkanlah
penglihatanmu dari segala perkara yang diharamkan melihatnya,
palingkanlah pendengaranmu dari segala yang diharamkan untuk
mendengarnya dan santunilah anak-anak yatim orang lain supaya mereka
menyantuni anak-anak yatimmu. Bertobatlah kamu kepada-Nya dari
dosa-dosamu, angkatlah tangan-tanganmu dalam berdoa pada waktu-waktu
shalatmu, sebab ia adalah sebaik-baik waktu, Allah 'azza wa jalla
memandang pada waktu-waktu tersebut dengan pandangan kasih kepada
hamba-hamba-Nya. Dia mengabulkan mereka jika mereka menyeru-Nya, Dia
menyambut mereka bila mereka memanggil-Nya dan Dia memberi mereka
apabila mereka meminta kepada-Nya. Wahai manusia! Sesungguhnya
diri-dirimu itu tergadai dengan perbuatan-perbuatanmu (yang tidak baik),
maka bebaskanlah dengan istighfârmu, dan punggung-punggungmu telah
berat dengan beban dosa-dosamu, maka ringankanlah dengan memanjangkan
sujudmu. Ketahuilah! Sesungguhnya Allah yang maha tinggi sebutan-Nya
bersumpah dengan keagungan-Nya bahwa Dia tidak akan menyiksa orang-orang
yang mendirikan shalat dan orang-orang yang sujud, dan Dia tidak akan
mengancam mereka dengan api neraka pada hari ummat manusia berdiri di
pengadilan Tuhan alam semesta. Wahai manusia! Barang siapa yang
memberikan makanan atau minuman untuk berbuka shaum bagi orang yang
beriman pada bulan ini, maka dengan itu dia akan mendapatkan pahala
membebaskan hamba sahaya di sisi Allah dan pengam-punan bagi
dosa-dosanya yang telah lalu."
Ada orang yang bertanya, "Wahai Rasûlullâh! Tidak semuanya kami mampu
untuk melakukan yang demikian ini."
Rasûlullâh saw berkata, "Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya
dengan sepotong buah kurma. Jagalah diri-dirimu sekalipun dengan
memberikan seteguk air. Wahai manusia! Siapa yang pada bulan ini
membaguskan akhlaknya, tentu dia akan dapat melintasi Al-Shirâth pada
hari di sana kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan beban
(pekerjaan) dari hambanya (pembantu rumah tangganya) pada bulan ini,
niscaya Allah akan meringankan pengadilan-Nya. Siapa yang menahan
keburukannya padanya, niscaya Allah akan menahan murka-Nya dari-Nya pada
hari dia bertemu dengan-Nya (dengan pengadilan-Nya). Siapa yang
memuliakan seorang anak yatim padanya, niscaya Allah akan memuliakan dia
pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Siapa yang menyambungkan rahimnya
padanya, niscaya Allah akan menyambungkannya dengan kasih-Nya pada hari
dia berjumpa dengan-Nya. Siapa yang memutuskan rahimnya padanya, tentu
Allah akan memutuskan rahmat-Nya darinya pada hari dia bertemu
dengan-Nya. Siapa yang mendirikan satu shalat (sunnah) padanya, niscaya
Allah menuliskan untuknya bebas dari api neraka. Siapa yang menunaikan
satu kewajiban padanya, niscaya dia akan mendapatkan pahala orang yang
menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang
memperbanyak shalawât atasku padanya, Allah akan memberatkan timbangan
kebaikannya pada hari neraca-neraca (kebaikan) menjadi ringan. Dan siapa
yang membaca satu ayat Al-Quran padanya, niscaya dia akan mendapatkan
pahala orang yang mengkha-tamkan Al-Quran di bulan yang lain. Wahai
manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga di bulan ini dibukakan, maka
mintalah kamu kepada Tuhanmu agar tidak menutupkannya kembali atasmu,
dan pintu-pintu neraka ditutupkan, maka mintalah kamu kepada Tuhanmu
supaya tidak membukakannya lagi atasmu. Dan setan-setan dibelenggu, maka
mintalah kamu kepada Tuhanmu supaya Dia tidak menguasakannya atasmu."
Amirul Mu`minin berkata, "Wahai Rasûlullâh, amal apa yang paling utama
di bulan ini?"
Beliau menjawab, "Wahai Abûl Hasan, amal yang paling utama pada bulan
ini adalah menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah
'azza wa jalla."
Tiba-tiba beliau menangis, maka aku bertanya, "Mengapakah engkau
menangis wahai Rasûlullâh?"
Beliau menjawab, "Wahai 'Ali, aku menangis dikarenakan akan ada orang
yang menghalalkan darahmu pada bulan ini, seakan aku denganmu dan kamu
shalat menghadap Tuhanmu, tiba-tiba bangkitlah manusia yang paling
celaka dari kalangan ummat terdahulu dan ummat terakhir ('Abdurahman bin
Muljam), saudara pembunuh unta betina kaum Tsamûd (Qadâr bin Sâlif),
dia akan memukulmu dengan satu pukulan ke atas kepalamu hingga da-rah
mengalir membasahi janggutmu."
Amîrul Mu`minîn as berkata: Saya bertanya, "Wahai Rasûlullâh, apakah
dengan kejadian itu dalam keadaan selamat ajaranku?"
Beliau menjawab, "Dalam keadaan selamat ajaranmu." Lalu beliau berkata,
"Wahai 'Ali, siapa yang membunuhmu berarti dia telah membunuhku, siapa
yang membencimu berarti dia telah membenciku dan siapa yang mencacimu
berarti dia telah mencaciku, karena kamu dariku seperti diriku sendiri,
ruhmu dari ruhku dan asal kejadianmu dari asal kejadianku. Sesungguhnya
Allah tabâraka wa ta'âlâ telah menciptakanku dan kamu, Dia memilihku dan
kamu; Dia memilihku untuk kenabian dan Dia memilihmu untuk imâmah
(kepemimpinan setelah kenabian). Dan siapa yang mengingkari imâmah-mu,
maka dia telah mengingkari kenabianku. Wahai 'Ali, engkau adalah washiku
(penerima wasiatku), ayah bagi kedua putraku (Hasan dan Husain), suami
putriku (Fâthimah) dan khalîfah-ku atas ummatku baik di masa hidupku
maupun setelah matiku. Perintahmu adalah perintahku, laranganmu ada-lah
laranganku. Aku bersumpah demi Tuhan yang telah membangkitkanku dengan
kenabian dan menjadikanku sebaik-baik makhluk, sungguh engkau itu hujjah
(bukti kebenaran) Allah bagi makhluk-Nya, kepercayaan-Nya atas
rahasia-Nya dan khalîfah-Nya atas hamba-hamba-Nya."
Kesimpulan Kalau kita hubungkan penjelasan Rasûlullâh saw tentang
keutamaan beramal di bulan Ramadhân dengan bagian akhir tentang
kepemimpinan 'Ali bin Abî Thâlib as, maka bagi orang yang tidak menerima
imâmah 'Ali setelah nubuwwah Nabi saw, sepertinya amal-amal itu menjadi
tidak berguna, sebab telah menolak imâmah 'Ali, dan menolak imâmah 'Ali
sama dengan menolak nubuwwah Muhammad saw. Dan imâmah itu wajib atau
pokok sedang keutamaan beramal di bulan Ramadhân selain shaum dan shalat
farîdhah yang lima adalah sunnah atau anjuran, dan pendekatan diri
melalui amal-amal sunnah dengan mengabaikan yang wajib tidaklah sampai.
Imam 'Ali berkata, "Tidak ada qurbah (pendekatan diri kepada Allah 'azza
wa jalla) bila merusak perkara-perkara yang wajib."
Syahâdah (martyrdom) atau gugurnya Imam 'Ali as pada bulan Ramadhân,
tepatnya pada 21 Ramadhân tahun 40 hijrah yang bertepatan dengan 28
Januari 661. Pembunuh beliau 'Abdurrahman bin Muljam
Al-Murâdî---la'anahullâh---dengan pedang yang ditebaskan ke atas kepala
beliau pada saat ruku' dalam shalat shubuh. Beliau as dikuburkan di kota
Najaf di Irak atas pesannya as. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn.
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub
Label:
Pemandangan
Langganan:
Komentar (Atom)









.jpg)









