Marilah kita Menyimak dan MERENUNGKAN 

dengan keterangan tulisan dibawah ini.

Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ’anhu bahwasannya ia pernah berkata suatu saat ketika sedang duduk : إنكم في ممرِّ الليل والنهار في اجال منقوصة، وأعمال محفوظة، والموتُ يأتي بغتة، من زرع خيراًَ يُوشكُ أن يَحصُدَ رغبة، ومن زرع شرًَّا يُوشكُ أن يحصد ندامةًَ، ولكل زارع مثل ما زرع، ولا يسبق بطيءٌ بحظه، ولا يُدرك ُ حريص ما لم يُقدَّرْ له، فمن أُعطيَ خيرًا، فاللهُ أَعطاه، ومن وُقي شرًَّا، فاللهُ وقاه، المتقون سادة، والفقهاءُ قادة، ومجالستهم زيادة ”Sesungguhnya kalian berada di tengah perjalanan malam dan siang, dalam ajal/usia yang selalu berkurang, dalam amal-amal yang selalu dalam penjagaan (Allah). Sedangkan maut senantiasa datang dengan tiba-tiba. Barangsiapa yang menanam kebaikan, niscaya ia akan menuai kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menanam kejelekan, niscaya ia akan menuai penyesalan. Setiap orang yang menanam akan menuai hasil sebagaimana yang ia tanam. Seorang yang lambat tidaklah mendahului (orang lain) dengan keberuntungannya. Begitu juga seorang yang tamak tidaklah mendapatkan apa-apa yang tidak ditetapkan baginya. Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka Allah lah yang memberikan (kebaikan itu) kepadanya. Dan barangsiapa yang dijauhkan dari kejelekan, maka Allah lah yang menjauhkan (kejelekan ) itu darinya. Orang-orang yang bertaqwa itu adalah orang-orang yang mulia, dan para fuqahaa (ahli fiqh) para pembimbung umat. Adapun duduk bermajelis dengan mereka semua adalah keutamaan” [Siyaru A’lamin-Nubalaa’ 1/497]

Begitu besar penciptaan langit dan bumi beserta isinya, memberi pengertian kepada kita bahwa Allah menciptakannya bukan sekedar bermain-main.
Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main- main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mukminun: 115)

أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” ( QS. al-Qiyamah: 36)

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. ( QS. al-Ankabut: 64)

Sekiranya kehidupan yang penuh keseimbangan ini tidak diciptakan untuk bersenda gurau, lalu untuk apa Allah ciptakan?! Apa tugas manusia ? Apakah mereka hanya sekedar makan, minum, menikah dan memiiki keluarga dan mempererat suku saja?! Atau Ia hidup dalam tidak bertujuan sebagaimana Ia mati tidak bertujuan?! tanah terakhir yang diletakkan oleh orang pada kuburannya, itu pula akhir dan cerita kehidupannya?!

Bagaimana yang kaya dengan kezhalimannya, bagaimana yang berkuasa dengan kediktatorannya?! Apakah mereka dibiarkan begitu saja?! Bagaimana pula si miskin dengan kefakirannya atau rakyat jelata dengan penderitaan mereka?! Kapan mereka dapat kebahagiaan pula?! Bagaimana pula dengan para nabi dan rasul, para ulama dan ahli ibadah yang terusir dan belum memperoleh kebahagiaan?!

Sekiranya dunia ini diciptakan dengan keadilan Sang Pencipta, tentu balasan baik atau buruk dengan keadilanNya juga?! Sekiranya dunia ini mampu Dia ciptakan dari asal yang tidak ada, berarti Dia pula mampu untuk membalas kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan.

Rasanya semua orang sepakat dengan tujuan hidup yaitu mencari dan menggapai kebahagiaan. Semua manusia ingin hidupnya bahagia, dan semua tahu bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu perlu pengorbanan. Hanya saja, manusia banyak salah mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang Ia sangka di sana ada pantai kebahagiaan, padahal itu adalah jurang kebinasaan, itu hanya sebatas fatamorgana kebahagiaan, bukan kebahagiaan yang hakiki.

Celakanya lagi, semakin dilalui jalan fatamorgana tersebut semakin jauh pula Ia dari jalan kebahagiaán hakiki, kecuali Ia surut kembali ke pangkal jalan.

Banyak orang menyangka kebahagiaan ada pada harta, karenanya ia berupaya mencari sumber sumbernya dengan berletih dan berpeluh. Setelah Ia peroleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan masih gelisah!! Ada saja yang membuat hati itu gelisah, kadang-kadang munculnya dari anak-anaknya, kadang-kadang dari istrinya atau tidak jarang juga datang dari usaha itu sendiri.

Banyak pula yang nenyangka bahwa pangkat dan kekuasaan adalah kebahagiaan. Ketika dilihat mereka yang berkuasa dan bertahta, secara lahir mereka begitu tampak bahagia hidupnya! Pergi dijemput pulang diantar, ketika ia berkehendak tinggal memesan, perintahnya tidak ada yang menghalangi!! Akan tetapi setelah diselidiki lebih mendalam, kita masuk menembus dinding istananya, akan terdengar keluh kesahnya, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh.

Jadi apa kebahagiaan yang sebenarnya ? Apa kebahagiaan sejati yang seharusnya dicari oleh manusia ? Siapa yang sebenarnya orang yang berbahagia ? Apa sarana untuk mencapainya?

Manusia diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla , bukan mereka yang menciptakan diri mereka, tentu yang paling tahu tentang seluk-beluk manusia termasuk tentang sebab bahagia atau sebab sengsara adalah Dia Allah subhanahu wa ta ‘ala bukan manusia. Sama halnya dengan sebuah produk, sekiranya hendak mengetahui hakikat produk tersebut tentu ditanyakan kepada pembuatnya, bukan kepada produk itu sendiri. Allah berfirman;

أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Mulk:14 )

Ketika Al-Qur’an ditadabburi dan syariat Islam dikaji, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah dengan mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah Azza Wa Jalla .

Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi hamba Allah Azza Wa Jalla . .Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan olehNya dalam meniti jalan penghambaan diri kepada Allah .

Karena penghambaan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin..karena ubudiah kepada Allah ditegakkannya langit dan dibentangkannya bumi… karena penghambaan inilah diturunkannya kitab dan diutusnya rasul…

Allah berfirman;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu”. (QS.az-Zariat: 56)

Orang yang berpaling dari penghambaan diri ini dialah orang yang sengsara, Allah berfirman;

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha:124)

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا
“Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dan barang-siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat”. (QS. al-Jin:17)

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selainNya. Allah Azza Wa Jalla tentukan kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan.

Manusia tidak bisa melawannya, sekiranya Allah telah menentukan kemiskinan pada seseorang, maka tidak ada yang mengkayakannya, ketika Allah telah menentukan kepadanya kesengsaraan, maka tidak ada satupun yang dapat membahagiakannya.

Kalaulah begitu, kemana manusia hendak lari?! Kemana manusia hendak berteduh dan bernaung dari taqdir yang Ia tidak memiliki daya dan upaya untuk merubahnya kecuali atas izinNya?! Kemana manusia hendak bersandar dari sesuatu urusan yang tidak di tangannya?!

Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Zat yang telah mentaqdirkan segala sesuatu, dalam naungan-Nya Ia akan merasakan ketenangan, dalam menyandarkan diri kepadaNya , akan ia peroleh kebahagiaan, dalam ke-pasrahan diri kepadaNya akan sirna segala kecemasan dan kesedihan.

Dikutip dari Buku “ Untukmu yang berjiwa Hanif “ oleh Ustadz Armen Halim Naro Lc, Rohimahullah ta'ala

Banyak Beristighfar untuk Mencegah Datangnya Penyakit -

Telah jelas bahwa kemaksiatan kepada Allah adalah biang datangnya berbagai musibah dan wabah penyakit, maka dapat dipahami bahwa istighfar dan mohon ampunan kepada-Nya adalah penangkal dan penawar berbagai wabah dan penyakit. Bukan hanya menangkal penyakit, akan tetapi istighfar juga akan mendatangkan kedamaian, kebahagiaan, keberkahan dan kemudahan dalam hidup.

Allah Ta’ala berfirman kepada umat Nabi Muhammad:

“Dan hendaknya kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Allah akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan.” (QS. Huud: 3)

Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithi menafsirkan ayat ini dengan berkata, “Pendapat yang paling kuat tentang maksud kenikmatan yang baik ialah: rizki yang melimpah, hidup yang lapang, dan keselamatan di dunia dan yang dimaksud dengan (waktu yang telah ditentukan) adalah kematian.” 1

Allah Ta’ala mengisahkan perihal Nabi Hud bersama kaum ‘Aad. Dikisahkan, kaum ‘Aad adalah satu kaum yang terkenal memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Kaum ‘Aad berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (QS. Fusshilat: 15)

Walau demikian, andai mereka beriman kepada Allah dan mensucikan jiwa mereka dari berbagai noda kemaksiatan dengan beristighfar, niscaya kekuatan mereka menjadi berlipat ganda:

“Wahai kaumku, beristighfar kamu kepada Tuhanmu, lalu bertaubatlah (kembalilah) kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan hujan yang sangat lebat dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu.” (QS. Huud: 52)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abul Bilaad merasa keheranan tatkala membaca firman Allah Ta’ala:

“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.” (QS. As-Syura:30)

Ia bertanya-tanya, bagaimana penerapan ayat ini kepada dirinya, yang telah menderita buta mata sejak ia dilahirkan. Karena rasa herannya inilah ia bertanya kepada Al-A’la bin Badr, “Bagaimana penafsiran firman Allah Ta’ala:

“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.”

Padahal aku ditimpa kebutaan sejak aku masih bayi? Maka Al-A’la menjawab: “Itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu.” 2

Inilah imunisasi syari’at sejati yang sepantasnya digalakkan sejak dini, agar kita menjadi bangsa yang perkasa dan berjaya. Dan selanjutnya, generasi penerut kita tidak turut merasakan sebagian dari kesialan berbagai amal kemaksiatan kita.

Renungkan dan pikirkan baik-baik saudaraku! Apakah anda sampai hati untuk mewariskan kesialan amal maksiat anda kepada putra-putri anda?

Saya yakin anda adalah orang tua yang penyayang, sehingga andapun pasti terpanggil untuk menjauhkan warisan sial ini dari putra-putri anda. Tidak heran bila andapun banyak beristighfar dan berjuang sekuat tenaga untuk mensucikan diri anda dan keluarga anda dari kesialan amal maksiat. Selamat berjuang, semoga Allah Ta’ala memberkahi dan memudahkan perjuangan anda.

Disadur dari buku Imunisasi Syari’at oleh Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA.

Catatan Kaki:

1 Adwaul Bayan 3/12
2 Tafsir Ibnu Abi Hatim 10/3279 & Tafsirr Al-Baghawi 7/355.

Tujuh Biji Kurma Ajwah

Tindakan sesuai syari’at Islam untuk mencegah datangnya berbagai penyakit yang disalin dari buku Imunisasi Syari’at oleh Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA yang akan dipaparkan kali ini adalah dengan mengonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi. Mengonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi, dapat mencegah serangan pengaruh sihir dan racun. Yang demikian ini berdasarkan sabda Nabi,

“Barangsiapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwah, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Pada riwayat lain:

“Barangsiapa pada pagi hari, makan tujuh biji kurma yang dihasilkan di antara kedua hamparan Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh racun hingga sore hari.” (HR. Muslim)

Dengan jelas Nabi menyebutkan bahwa manfaat mengonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah pada pagi hari adalah untuk menangkal pengaruh sihir dan racun. Sehingga manfaat kurma ajwah ini sama halnya dengan manfaat yang diperoleh dari imunisasi.

Berikut dinukilkan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang hal ini:

Pertanyaan: Apa hukumnya berobat dengan imunisasi sebelum datangnya penyakit?

Jawaban: Tidak mengapa berobat dengan imunisasi bila khawatir terkena suatu penyakit, disebabkan adanya wabah, atau sebab lainnya yang dikhawatirkan menjadi penyebab datangnya penyakit. Sehingga tidak mengapa, anda minum obat guna menangkal penyakit yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi pada suatu hadits yang shahih:

“Barangsiapa yang pada waktu pagi makan tujuh biji kurma Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh sihir, tidak oleh racun.”

Hadits ini termasuk upaya penanggulangan penyakit sebelum terjadi.

Demikian juga halnya orang yang khawatir terhadap serangan suatu penyakit dan ia diberi imunisasi anti wabah yang sedang menyerang di negeri tersebut atau di negara manapun. Upaya itu tidak mengapa, sebagai upaya pertahanan, sebagaimana halnya penyakit yang telah menimpa diobati, demikian juga halnya penyakit yang dikhawatirkan akan menyerang, boleh ditanggulangi dengan pengobatan.

Akan tetapi tidak dibenarkan untuk menanggantungkan ajimat, penangkal penyakit, atau jin, atau ‘ain, dikarenakan itu semua dilarang oleh Nabi. Dan beliau telah menjelaskan bahwa perbuatan itu termasuk syirik ashghar (kecil), karena itu, hendaknya kita waspada.” 1

Catatan kaki:

1 Al-Fatawa Al Mut’alliqah Bit Thib Wa Ahkamil Mardha 203.


Penyebab Terbebasnya Seseorang dari Api Neraka

Saat Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi, dalam Syarah At-Thahawiyah, membahas salah satu poin pada Al-Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Abu Ja’far At-Thahawi, beliau menyebutkan paling tidak ada sepuluh penyebab seseorang dapat terbebas dari api neraka. Penyebab-penyebab tersebut dirangkum dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Saat Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi, dalam Syarah At-Thahawiyah, membahas salah satu poin pada Al-Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Abu Ja’far At-Thahawi, beliau menyebutkan paling tidak ada sepuluh penyebab seseorang dapat terbebas dari api neraka. Penyebab-penyebab tersebut dirangkum dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Poin yang dimaksud adalah (yang artinya):

“Kita berharap bagi para muhsinin dari kalangan mukminin agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka ke Jannah karena rahmat-Nya. Kita tidak merasa aman atas ancaman Allah bagi mereka. Kita tidak memastikan mereka dengan Jannah. Kita memohonkan ampunan bagi pelaku dosa dari mereka dan kita juga takut mereka akan ditimpa siksa karena kejahatan mereka, namun kita tidak berputus asa terhadap rahmat Allah yang dengan itu mereka akan dapat diampuni.“

Sebab-sebab dapat dibebaskannya seseorang dari api neraka adalah:

Pertama, Bertaubat, pertaubatan yang murni.

Taubat tersebut harus dilakukan secara ikhlas. Seluruh umat telah bersepakat bahwa taubat merupakan salah satu sebab diampuninya dosa-dosa dan sekaligus sebagai penyebab terbebasnya dari siksa neraka.

Kedua, Istighfar, memohon ampunan kepada Allah.

Istighfar terkadang dilakukan sendiri dan terkadang dilakukan bersama taubat. Saat disebut sendiri, istighfar dapat bermakna taubat, dan saat taubat disebut sendiri, dapat juga bermakna istighfar. Namun saat keduanya disebut secara bersamaan, maka istighfarbermakna permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, dan taubat bermakna kembali kepada Allah dan memohon perlindungan atas dosa yang mungkin akan dilakukan di masa yang akan datang.

Ketiga, Amal kebaikan.

Satu amal kebaikan akan mendapat balasan senilai dengan sepuluh kebaikan dan satu perbuatan dosa akan mendapat balasan senilai dengan satu perbuatan dosa. Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus keburukan yang telah lalu” [1]

Keempat, Penderitaan yang dialami di dunia.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” [2]. Penderitaan yang diikuti dengan kesabaran, akan berbuah pahala, sedang penderitaan yang diikuti dengan perbuatan keji, akan membawa dosa.

Kelima, Siksa kubur. (Imam Ibnu Abil ‘Izz membahas lebih lanjut mengenai hal ini dalam bab lain)

Keenam, Doa-doa yang dipanjatkan oleh para Mukmin terhadap saudaranya baik saat yang didoakan masih hidup maupun sudah meninggal.

Ketujuh, Amalan-amalan yang dilakukan untuk pelaku dosa tersebut setelah yang bersangkutan meninggal, seperti sedekah, bacaan Al-Qur’an [3], dan juga haji.

Kedelapan, Ketakutan dan penderitaan yang dialami saat hari kiamat.

Kesembilan, Peristiwa yang dikabarkan dalan Shahihain:

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang beriman yang telah selamat dari api neraka (telah melewati shirath/jembatan yang ada diatas punggung neraka) akan tertahan di Qantharah (sebuah tempat di antara surga dan neraka). Kemudian ditegakkanlah qishash terhadap sebagian mereka akibat kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan (dari kezaliman), barulah mereka diizinkan masuk surga.“

Kesepuluh, Syafaat dari para pemberi syafaat. (Imam Ibnu Abil ‘Izz telah membahasnya pada bab yang lain)

Kesebelas, Ampunan dari Allah (sesuai kehendak Allah).

Kita dapat melihat bahwa ada banyak jalan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat terbebas dari api neraka. Namun jika seseorang masih belum terampuni dosa-dosanya, barangkali karena dosa yang dilakukannya sudah terlampau berat. Dalam kondisi seperti ini, seseorang harus masuk ke dalam Neraka, dan barangkali yang bersangkutan dapat kembali menjadi suci karenanya. Tidak ada seseorangpun yang memiliki sedikit keimanan di hati, atau telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan berhak untuk disembah selain Allah, akan abadi berada di dalam neraka.

Kita tidak dapat memastikan seseorangpun dari umat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga maupun neraka. Perkecualian dapat diberikan hanya kepada orang-orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk surga. Sedangkan untuk yang selain itu, kita hanya bisa berharap mereka masuk surga, dan juga takut mereka akan ditimpa siksa neraka.

Wallaahul Waliyyut Taufiq

Jurong West, 07-10-2013

Dirangkum dari Syarah Aqidah At-Thahawiyah karya Imam Ibnu Abil ‘Izz, dibantu terjemahan dari Dr. Muhammad Abdul Haq Anshari.

[1] HR Tirmidzi no 1988, beliau berkata hadits ini Hasan Shahih

[2] HR. Muslim IV/1993

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright Blog,lathifatun qalbiah 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .