*Israk Mikraj membina rohani dan jasmani*

Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang beliau idamkan?
 bisa digambarkan suasana psikologis Nabi Muhammad sebelum isra mikraj?

 Kalau kembali ke Sirah Nabi, sebelum isra mikraj itu telah terjadi berbagai peristiwa yang sangat menegangkan atau memberatkan secara psikologis bagi kehidupan Nabi. Sebelum tahun ke-10 kenabian, Nabi baru saja terbebas dari boikot orang-orang kafir Quraisy. Dari pelbagai peristiwa itu, Nabi terinspirasi untuk mencari lahan baru guna mengembangkan nilai-nilai Islam.

: Seperti apa boikot masa itu?

Boikot ekonomi. Dalam bahasa sekarang: embargo ekonomi. Memang, sejak dulu sektor ekonomi merupakan sarana yang penting bagi keberlangsungan suatu umat. Nah dari situ kita tahu, pada masa itu Nabi telah coba mendatangi orang-orang Thaif, tapi sambutan mereka tidak menguntungkan. Di tengah berbagai tekanan itulah Allah membuka jalan bagi Nabi supaya perjuangannya berhasil. Karena itu di dalam Alqur’an dikatakan, “Maha suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari masjidil haram menuju masjidil aqsha yang telah telah diberkati sekelilingnya.” Itulah ayat yang berkenaan dengan isra.

Sementara soal mikraj tercantum di dalam surah an-Najm. Dari ayat 13 sudah dijelaskan bahwa Nabi semakin dekat dan bertambah dekat dengan Tuhan, bahkan jarak kedekatannya ibarat dua busur panah atau kurang. Ketika Nabi begitu dekat, maka Allah sendiri yang mengajarinya cara hidup. Hanya saja, tafsiran yang ada selama ini secara umum menegaskan bahwa yang datang untuk mengajarkan Nabi itu adalah malaikat Jibril. Kalimat `allamahu syadîdul quwâ di situ diidentifikasi sebagai Jibril. Padahal artinya lebih umum, yaitu “Ia dituntun oleh Yang Mahakuat”. Kata “Yang Mahakuat” itu bisa bermakna Allah sendiri.

Jadi yang mengajari Nabi Muhammad di situ adalah sosok Yang Makakuat atau Allah. Dan keterangan itu selaras dengan ayat lain di surah ar-Rahman, yang menerangkan bahwa sosok yang mengajarkan Alqur’an itu adalah Allah sendiri. Dengan tafsir begini, yang disebut mikraj dapat diartikan sebagai “posisi yang dicapai seorang hamba dalam proses mendekatkan dirinya kepada Tuhan, sehingga tersingkap baginya semua rahasia kehidupan”.

: Apakah tekanan-tekanan psikologis dalam hidup itu sendiri yang membuat spiritualitas atau kedekatan Nabi dengan Tuhan begitu tak berjarak?

Tidak harus begitu. Karena begitu seseorang berada dalam himpitan hidup, dia akan menghadapi dua kemungkinan. Pertama, orang itu akan bangkit, dan kedua ia malah akan berputus asa. Nah, pada kasus Nabi yang sedari awal sudah punya visi, telah menyiapkan diri, serta sudah pula mengamalkan iqra’ (merenungkan hidup, Red)ketika menerima wahyu pertama kali, himpitan hidup justru mendorongnya untuk semakin taqarrub atau mendekatkan diri pada Allah. Kasus ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki misi dan visi dalam hidup. Jadi hidup memang harus dituntun oleh sebuah misi.

Jadi dalam konteks ini, isra mikraj bukan sekadar rekreasi. Selama ini, kata isrâ secara harfiah selalu diterjemahkan dengan “perjalanan di malam hari”. Padahal, kata isrâ’ itu sendiri, kalau dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian”. Kata sâriyah yang satu dasar kata dengan isrâ’ berarti pencarian. Jadi isrâ’ di sini bisa berarti “proses pencarian yang akan melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup”.

: Tapi mengapa proses pencarian itu harus melewati Yerussalem? Apa artinya?

Sebenarnya tidak ada petunjuk harfiah dalam Alquran yang menerangkan bahwa masjidil haram yang dimaksud adalah yang ada di Mekah, dan masjidil aqsha di situ adalah yang berada di Yerussalem. Kata masjid ketika ayat itu turun, belum lagi terwujud secara fisik. Jadi pengertian masjidil haram di situ sebenarnya lebih bisa dipahami secara makrifat, bukan harfiah. Yang sudah ada dalam fakta sejarah waktu itu adalah Kakbah, bukan masjidil haram. Dan secara urutan sejarah, masjid yang pertama dibangun Nabi adalah Masjid Quba’ setelah beliau hijrah ke Madinah.

: Jadi apa makna masjidil haram dan masjidil aqsha di situ?

Karena masjidil haram dan masjidil aqsha secara fisikal belum ada, kita perlu selidiki lebih lanjut apa yang dimaksud dengan keberangkatan nabi dari masjidil haram ke masjidil aqsha di dalam ayat itu. Konon, sebelum itu Nabi pernah didatangi Jibril, lalu dadanya dibelah dan hatinya dibersihkan. Artinya, sebuah perjalanan untuk keluar dari kegelapan haruslah lebih dahulu terbebas dari segala macam perilaku haram lewat pensucian diri. Makanya di redaksi ayat itu disebut masjidil haram.

Lalu kenapa dibawa ke masjidil aqsha? Supaya beliau dapat memahami berkat Tuhan yang ada di sekelilingnya. Makna masjidil aqsha di situ secara umum bermakna masjid yang amat jauh. Kita tahu, secara bahasa, kata masjid itu bisa berarti “setiap lahan dan setiap jengkal tanah yang bisa digunakan untuk bersujud”. Makanya ada istilah kullu ardlin masjidun, atau setiap jengkal tanah dapat dijadikan tempat bersujud.

Ini artinya, di mana saja kita berada, kita harus bisa tetap bersujud pada Tuhan. Namun supaya orang bisa bersujud sedalam-dalamnya—sebagai makna simbolik masjidil aqsha—seseorang harus berangkat dari masjidil haram, atau proses pensucian diri, perilaku, dan alam pikirannya. Kalau pikiran kita hanya dipenuhi kekeruhan, sentimen dan kedengkian, kita tidak akan bisa isrâ’.

Nah, selama ini isra’ mikraj itu hanya kita kenang sebagai kisah yang hanya dialami secara pribadi oleh Nabi Muhammad. Padahal, sebagaimana dikatakan Alquran: “Laqad kâna lakum fî rasûlilLâh uswatun hasanah.” Jadi, apa-apa yang dialami Nabi itu adalah teladan mulia. Jadi makna isrâ’ mikraj itu bagian dari teladan, bukan hanya kisah.

: Apa yang bisa diteladani dari kisah itu,
Pertama-tama, kita harus bisa isra. Artinya, kita harus bisa ber-takhallî, atau menyingkirkan hal-hal negatif yang ada dalam diri kita. Tahapan ini dilambangkan lewat proses dibersihkannya hati Nabi. Lalu dari situ kita berangkat menuju tempat persujudan yang lebih jauh, karena di situ kita akan naik. Sebab istilah mi`râj berasal dari kata `araja yang berarti naik atau meninggi. Artinya, kita dituntut untuk naik peringkat dalam soal kecerdasan dan spiritualitas.

: Berarti Anda tidak terlalu tertarik dengan polemik apakah isra mikraj itu terjadi dengan jasad atau jiwa saja, atau dengan keduanya (jasadan wa rûhan)?

Bagi saya tidak terlalu penting apakah isra mikraj itu berkaitan dengan jasad, dengan ruh saja, atau dengan keduanya. Yang penting bagi saya adalah makna apa yang bisa kita terapkan di dalam hidup ini dari teladan kisah itu. Misalnya dalam kisah itu digambarkan bahwa setelah mikraj, Nabi sempat bertatap muka dengan Tuhan di sidratul muntahâ, tempat di mana Jibril sendiri tidak bisa menempuhnya. Dari situ saya menangkap bahwa hakikat spiritualitas kemanusiaan itu melampaui spiritualitas malaikat yang selama kita anggap paling tinggi sekalipun.

Jadi dari spiritualitas itu, kita bisa sampai dan menjejekkan kaki di alam yang sudah tidak terlampaui lagi oleh makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dari situ kita bisa bertatap muka dan berdialog langsung dengan Yang Mahamutlak. Makanya, di dalam Alquran surah an-Nûr dikatakan bahwa Allah itu al-Haqqul Mubîn. Jadi, Tuhan itu sebenarnya kebenaran (al-Haq) yang nyata atau al-mubîn. Jadi Dia tidak sekadar ghaib. Tuhan itu Kebenaran yang Nyata; bukan semata-mata dalam keyakinan Ia ada, tapi juga dalam bentuk Eksistensi yang bisa kita tatap, kita pandang.

: Anda menyebut Tuhan sebagai Kebenaran yang Nyata. Namun, tentu tak gampang mengenali Kebenaran yang Nyata itu. Bagaimana proses utuk sampai pada Kebenaran itu kalau berteladan dari kisah isra mikraj?

Kalau kita berteladan dari perjalanan Nabi untuk meraih kebenaran, pertama-tama kita harus prihatin terhadap segenap keburukan, keresahan, dan kerusuhan yang ada dalam masyarakat. Kita harus prihatin, bukan bangga. Kalau di masyarakat banyak kemiskinan, kriminalitas, dan lain sebagainya, kita harus prihatin. Berangkat dari kondisi itulah kita bisa membersihkan diri. Makanya, jauh sebelum isra mikraj, Nabi sudah membiasakan diri ber-tahannuts atau merenung di Gua Hira’. Perenungan itu bertujuan untuk melakukan peninjauan ulang atas kenyataan hidup.

Jadi, pertama-tama kita harus melakukan cek dan ricek atas kenyataan hidup. Dari situlah keprihatinan timbul, upaya untuk menyantuni orang-orang lemah bersemi. Ayat-ayat Alquran yang awal-awal banyak sekali yang berbicara soal itu. Jadi kita disuruh memperhatikan orang-orang lemah, anak yatim yang kurang mendapat kasih sayang, dan sebagainya. Setelah mampu memperjuangkan itu, itulah pertanda bahwa hati kita akan semakin mantap menatap kebenaran. Kalau hanya prihatin, belum mengamalkan apa yang perlu, kita belum merealisasikan kebenaran.

:  perundingan alot Nabi menyangkut jumlah salat?

Sebenarnya kita tidak boleh telalu terpancing soal detail dialog itu. Kita seharusnya melihat fungsi salatnya saja. Mungkin yang perlu ditanya: mengapa perundingan itu begitu alotnya? Kita tahu, tujuan pokok salat sebagaimana disebutkan Alquran adalah untuk mencegah kehidupan yang penuh kekejian dan kemungkaran. Untuk mencapai tujuan itu, perlu upaya tersendiri. Dengan semata-mata menjalankan salat, orang tidak otomatis terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Tujuan lain salat kalau merujuk Alquran adalah untuk berzikir kepada Allah; wa aqîmus shalât lidzikrî. Tapi zikir di situ tidak boleh juga dimaknai sekadar mengingat. Kalau hanya mengingat kata-kata (lafaz Allah) saja, anak kecil pun bisa melakukannya. Jadi kata “mengingat” di sini bisa bermakna “mengingat kebenaran yang sudah dirasakan, ditatap, atau yang telah dihayati”.

: Artinya, salat itu medium umat Islam untuk mikraj, atau meningkatkan spiritualitas?

Betul. Makanya ada hadis yang berbunyi ”as-shalâtu mi`râjul mu’minîn” (salat itu adalah mikrajnya kaum beriman, Red). Jadi, selain ada mikraj besar atau akbar, ada juga mikraj kecil atau ashghar, yaitu salat kita sehari-hari. Jadi, kita tidak hanya diminta menjalankan salat, tapi juga menegakkannya. Di dalam Alquran soal itu sudah disebutkan panjang lebar. Konsekuensi “menegakkan salat” itu termasuk menyantuni fakir miskin, anak yatim, menjaga kemaluan, dan lain sebagainya. Dalam bahasa ringkasnya, semua itu disebut tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar, mencegah yang keji lagi munkar.

Jadi isi menghindar dari yang keji dan mungkar itubanyak sekali. Kesalahan kita selama ini, salat hanya dimaknai mengerjakan salat itu sendiri lengkap dengan rukun-rukunnya. Kalau hanya mengerjakan, jangan heran kalau Allah juga pernah menyebut orang-orang yang salat bisa celaka. Fa wailun lil mushallîn atau celakalah orang-orang yang mengerjakan salat, kata Allah. Kalau sekadar mengerjakan salat, pasti tidak ada aspek jelas yang dituju. Makanya dalam hadis dikatakan: “Orang yang rajin salat tetapi tidak mampu menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar, akan menjauhkan dirinya dari Tuhan.”

:  setelah Nabi menerima perintah salat sebagai upaya mencapai ketinggian spiritualitas, ia kembali turun ke bumi. Apa maknanya?

Itu artinya, ketika kita sudah sampai di sidratul muntahâ, kita sudah sampai pada posisi yang sangat enak. Posisi itu tidak akan dicapai segenap makhluk lain kecuali manusia. Namun, sidratul muntahâ itu bukan tempat di mana manusia bisa menjalankan misi hidup. Makanya ada proses nuzûl atau turun ke bumi dalam kisah Nabi. Setelah datang lagi ke bumi, Nabi langsung melaksanakan tindak sosial, mengupayakan perdamaian, kemudian merancang proses hijrah (transformasi sosial, Red).

Jadi, hijrah itu adalah buah dari mikraj. Kalau seseorang tidak pernah mikraj, maka tidak akan ada tahapan hijrah. Jadi kedua hal itu berurutan. Dan setelah peristiwa mikraj, Nabi terus diminta hijrah. Setelah hijrah, ia diminta berjihad. Jadi isra, mikraj, hijrah, dan jihad itu bergandengan. Selama ini kita salah memaknai hijrah, salah pula memaknai jihad.

: Anda menyebut rangkai peristiwa yang beruntun; tahun-tahun kesedihan, isra mikraj, hijrah dari satu keadaan ke keadaan lain, lalu jihad. Tampaknya, fase-fase itu berlangsung lewat tuntunan spiritual dari Tuhan langsung. Apa memang seperti itu proses pembangunan masyarakat?

Ya. Suatu masyarakat tidak akan bisa melakukan suatu perjalanan tanpa rambu atau marka jalan yang hendak dituju. Kalau semua itu tidak dibeberkan lebih dahulu, tidak akan terjadi kemajuan transformasi sosial. Jadi itu merupakan suatu struktur yang telah berurut. Kalau kita mau jadi seorang profesor, kita harus betul-betul sekolah, berupaya mencapai tahapan-tahapannya. Kalau ingin kaya, modal finansial saja tidak akan memadai, tapi juga perlu kerja keras, keahlian, dan punya strategi. Nah, semua itu sebenarnya baru bisa dibeber setelah manusia itu pernah mikraj. Sebab setelah mikraj, seseorang akan mengalami ketenangan batin yang luar biasa. Di saat batin telah tenang itulah kita baru bisa melihat persoalan dengan jernih.

: Tapi kenyataannya, ada saja orang sukses tanpa menapaki proses-proses spiritual. Bagaimana menjelaskan perkecualian itu?

Itu sangat terkait dengan persepsi kita tentang sukses. Apa sih yang disebut sukses? Kita tidak bisa menilai sukses hanya ketika seseorang telah mendapat segebok materi. Kalau itu yang jadi ukuran, tidak akan ada orang kaya yang ingin bunuh diri. Kenyataannya, banyak orang kaya yang malah putus asa. Kita tahu bagaimana kondisi Elvis Presley ketika dia berada di puncak ketenarannya. Dia malah putus asa dan banyak minum obat tidur. Jadi kalau hanya melihat ukuran materi, kita tidak bisa menyebutnya sukses. Sebab, orang sukses tentu tak perlu putus asa. Jadi, spiritualitas bukan hanya selalu perlu, tapimerupakan bagian pokok dari kehidupan.

: Jadi ringkasnya apa makna isra’ mikraj untuk kita saat ini?

Di dalam kisah isra mikraj ada satu pesan yang maha tinggi nilainya, yaitu perjumpaan para nabi lain dengan Nabi Muhammad. Konon Nabi Muhammad menjadi imam salat mereka. Apa arti kisah simbolik itu? Sebagai umat Nabi terakhir yang sudah mempelajari persoalan umat nabi-nabi sebelumnya, kita tentu akan menghadapi persoalan sebanyak yang pernah dihadapi nabi-nabi sebelumnya. Karena itu kita diperintahkan untuk beriman bukan hanya pada seorang Rasul (Nabi Muhamad saja), tapi ‘âmantu bilLâhi wa malâikatihi wa kutubihi wa rusulihi (beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya, Red). Dengan mengimani semua rasul, kita bisa mengambil hikmah. Salah satu pesan penting isra’ mikraj juga adalah agar kita bisa mengambil hikmah dari ajaran berbagai rasul sebelum Nabi Muhammad. Dengan begitu, kita bisa bertindak lebih arif.

Israk Mikraj Nabi Muhammad saw

Peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad S.A.W. – 27 Rejab

1. Sebelum Israk dan Mikraj

Rasulullah S. A. W. mengalami pembedahan dada / perut, dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika’il. Hati Baginda S. A. W.. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman. ke dalam dada Rasulullah S. A. W. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”. Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu.

2. Semasa Israk (Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa):

Sepanjang perjalanan (israk) itu Rasulullah S. A. W. diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:

i. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah. ii. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A. S. menerima wahyu daripada Allah; iii. Baitul-Laham (tempat Nabi ‘Isa A. S. dilahirkan);

Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S. A. W. menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib. Antaranya :

– Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S. A. W. dibertahu oleh Jibrail : Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.

– Tempat yang berbau harum. Rasulullah S. A. W. diberitahu oleh Jibrail : Itulah bau kubur Mayitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anak-nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetapt teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).

– Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).

– Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.

– Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri / suami.

– Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba`.

– Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.

– Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.

– Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.

– Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.

– Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.

– Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S. A. W. tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.

– Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.

Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.

Rasulullah S. A. W. terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.

3. Semasa Mikraj (Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah):

Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S. A. W. dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).

1. Langit Pertama: Rasulullah S. A. W. dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam A. S. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba` dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.

11. Langit Kedua: Nabi S. A. W. dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi ‘Isa A. S. dan Nabi Yahya A. S.

111. Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf A. S.

1v. Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan Nabi Idris A. S.

v. Langit Kelima: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan Nabi Harun A. S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.

v1. Langit Keenam: Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan Nabi-Nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa A. S. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.

v11. Langit Ketujuh: Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah S. A. W., Nabi Ibrahim A. S. bersabda, “Engkau akan berjumapa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu lah HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”. Mengikut riwayat lain, Nabi Irahim A. S. bersabda, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA lah ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA lah HAULA WA lah QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-’AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga”. Setelah melihat beberpa peristiwa! lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).

11x. Tangga Kelapan: Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah S. A. W. dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.

1x. Tangga Kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.

x. Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah S. W. T. dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya:

Allah S. W. T : Ya Muhammad. Rasulullah : Labbaika. Allah S. W. T : Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan. Rasulullah : Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan. Allah S. W. T : aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji-panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sholat,
4. Selesai munajat, Rasulullah S. A. W. di bawa menemui Nabi Ibrahim A. S. kemudian Nabi Musa A. S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S. A. W. merayu kepada Allah S. W. T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardhukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.

5. Selepas Mikraj

Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu’alam.

(Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa`id) Kesimpulannya, peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah dan takut kepada kekuasaan-Nya.

Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang-orang kafir di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi sebaik-baik Nabi bercerita kepada mereka.

Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.

Mafhum Firman Allah S. W. T. : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah Al-Israa’: Ayat 1). wallahua’lam..

Barakallah ya Allah

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright Blog,lathifatun qalbiah 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .