*Ciri-ciri Hati yang Unggul*
Untuk memperoleh hati yang unggul tidak hanya dengan duduk santai menunggu datangnya mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul, sungguh mustahil
PERNAKAH kita merasakan malas saat mengerjakan sesuatu padahalfasilitas yang kita miiki sudah lengkap dan apa yang sedang kitalakukan sebenarnya suatu hal yang sangat penting dan bermanfaat?
Pernahkah kita merasakan futur (semangat menurun) saat seseorang mengabaikan kita, tidak memuji serta tidak menghargai hasil pekerjaan baik kita?
Di sisi lain, pernahkah kita melihat orang yang kehidupannya sederhana namun selalu nampak ceria, seolah-olah tidak pernah ada masalah yang melintas dalam hidupnya? Fasilitas belajar ataupun kerjanya yang dimiliki tidak begitu memadai tapi selalu giat dan berhasil?
Ia mendapat banyak teguran dan sindiran dari berbagai pihak namun dia tetap tegar. Semangat dan keikhlasaannya tidak sedikitpun tergoyahkan? Pernahkah?
Ketahulillah bahwa yang membedakan itu semuanya adalah hati. Antara hati yang sakit dan hati yang unggul. Hati yang sakit selalu mengharapkan pemuasan segera, kekayaan yang segera dan pujian dari orang lain. Maka saat dia tidak memperoleh apa yang diharapkanakan mengalami depresi dan putus asa. Sedangkan hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati, Dzat yang memberikan hikmah di balik setiap ujian dan cobannya.
Semua pasti mendambakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup,namun perlu diketahui bahwa rasa bahagia dan damai itu letaknya di hati.
Maka setiap yang menginginkannya harus memperhatikan bagaimana memiliki hati yang unggul.
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri hati yang unggul
Pertama adalah hatinya merdeka. Artinya hatinya bebas dari kekangan hawa nafsu dan syahwat. Bisyr bin Harist pernah mengatakan: ”Seorang hamba tidak akan mampu merasakan nikmatnya ibadah sebelum ia mampu membuat tembok penghalang dari besi yang memisahkan antara dirinya dan syahwatnya.” (Hilyatul Aulia, jil. VIII, hal. 345)
Kedua, hatinya memiliki rasa “Yaqzhah”. Yaitu berupa kecemasan hati tatkala memperhatikan tidurnya orang-orang lalai. Rasa yaqzhah ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, di antaranya:
a. Waspada terhadap melimpahnya kenikmatan yang dapat menjerumuskannya kedalam kenistaan.
b. Selalu menghitung keburukannya, dan dikaitkan segala bentuk kerugian yang menimpanya degan dosa yang dilakukan.
Sebagaimana firman Allah :
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura [26]: 30)
Rasulullah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya :
“Tidaklah urat dan mata itu gemeter melainkan kerena sebuah dosa.” (HR. Thabrani)
c. Mewaspadai setiap kebaikan dan ketaatan yang melahirkan kebanggaan dan kesombongan.
Imam as Syafi’I memberikan arahaan agar terhindar dari ujub dalam ketaatan, “Bila Anda khawatir muncul penyakit ujub atas amalan Anda, maka ingatlah keridhaan dari pihak yang hendak Anda cari, nikmat apakah yang hendak Anda inginkan? Siksaan apa yang Anda takuti. Barangsiapa yang berfikir ke arah situ maka dia akan menganggap kecil amalannya.” (dalam kitab Siyarul ‘Alamin Nubala’, jil. X,hal. 111)
d. Akan timbul rasa hina dan bersalah saat melakukan dosa.Orang yang melakukan dosa sedangkan dia biasa-biasa saja maka ini pertanda hatinya sedang sakit. Jangan-jangan Allah sudah mengunci hatinya.
e. Mengukur keuntungan dan kerugiaan dengan ukuran akhirat. Sebagaimana Rasulullah pernah menyembelih seekor kambing lalu disedekahkan dan yang tersisa hanya pahanya saja, hingga ‘Aisyah berkata, “Hanya paha saja yang tersisa?” Rasulullah menjawab sebaliknya dengan timbangan akhirat, “Semuanya masih tersisa kecuali pahanya saja.”
Yang ketiga, Hatinya selalu memusuhi kelalaian.
Ada beberapa ilustrasi yang mewanti-wanti kita terhadap kelalaian dan panjangnya angan-angan. Sebagaiamana hal tersebut digambarkan oleh para ulama, di antaranya :
a. Bisyr bin Harist menceritakan tentang seekor semut yang sibuk mengumpulkan biji-bijian di musim panas dengan angan-angan agar dapat dimakan di musim dingin, tiba-tiba seeokor burung datang mematuknya dan biji tersebut. ( Lihat: Bisyr bin Harist hal. 65)
b. Ibnu Jauzi, “Dunia adalah perangkap, sedangkan manusia adalah burungnya. Burung-burung itu menginginkan biji (yang ada dalam perangkap), tapi lupa akan jerat perangkap.” (Dalam Shaidul Khathir, hal. 373)
c. Hasan Al-Bashri, “Wahai anak Adam, pisau tengah diasah, perapian tengah dinyalakan, sedangkan domba itu tengah menikamati makanannya.” (Dalam Siyaru ‘alamin Nubala’, jil. IV, hal.586)
Maka dari itu hati yang unggul selalu waspada dan tidak terlena dengan kenikmatan yang sesaat dan menipu serta angan-angan dunia yang melenakan, menipu, dan menjerat, sehingga membuat dia lalai dari kehidupan yang abadi.
Keempat, hati yang senantiasa ingin membalas.
Maksudnya adalah membalas kesalahan dengan kebaikan.Kerena kebaikan akan menghapus kesalahan, sebagaimana firman Allah;
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itumenghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS.Hud [14]: 114)
Dalam hadis Rasulullah bersabda
“Hendaklah ia mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscayakeburukan itu akan menghapus keeburukan.” (HR. Ahmad)
Sesungguhnya balasan kebaikan adalah kebaikan yang dating setelahnya, sedangkan balasan keburukan adalah keburukan yang datang setelahnya, sebagaimana firman Allah.
Dengan kata lain, barangsiapa yang melakukan ketaatan dan telah paripurna, maka tanda-tanda diterimanya ketaatan tersebut adalah diikuti dengan ketaatan yang lain. Sedangkan tanda tidak diterimanya adalah diikuti dengan kemaksiatan setelahnya. Na’uzdubillah.
Umar r.a suatu ketika pernah disibukkan dengan kebun senilai 200.000 dirham sehingga beliau terlambat shalat Ashar-nya, maka beliau membalasnya dengan menyedekahkan kebun tersebut.
Hal yang senada juga pernah dilakukan oleh Thalhah, dia menyedekahkan kebunnya sebagai kafarah (pengganti) karena ketika shalat, hatinya pernah tersibukkan dengan burung yang hinggap di kebunnya tersebut.
Kelima, hati yang tidak mengenal rasa malas
Orang yang malas sering menyepelekan sesuatu yang kecil,dengan kemalasannya ia selalu menunda-nunda sampai tidak sempat dilaksanakannya. Padahal hakekat daripada sebuah gunung adalah kumpulan kerikil-kerikil dan hakekat banjir besar adalah kumpulan dari sejumlah tetesan air.
Rasulullah telah memotifasi umatnya agar bersegera melakukan kebaikan,jangan menunda-nundanya walaupun waktu yang dimiliki sangatsempit.
“Bila kiamat terjadi sedang di tangan salah seorang di antara kalian memegang bibit, maka bila ia mampu untuk tidak bangkit hingga menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR.Bukhrari)
Maka hati yang memiliki ciri-ciri sebagaimana tertera di atas lah yang akan selalu unggul, tidak pernah depresi, tidak mengenal kata lelah dan menyerah, tidak menggoyahkan sedikitpun tekadnya dengan komentar-komentar orang lain. Karena yang diharapkankan bukan wajah manusia, tapi keridhaan dari Rabb Yang menciptakan manusia.
Namun untuk memperolehnya tidak hanya dengan duduk santai menunggu mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul, mustahil bisa. Tapi butuh usaha semaksimal mungkin untuk dapat memilikinya.*/Nashihul Umam
Untuk memperoleh hati yang unggul tidak hanya dengan duduk santai menunggu datangnya mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul, sungguh mustahil
PERNAKAH kita merasakan malas saat mengerjakan sesuatu padahalfasilitas yang kita miiki sudah lengkap dan apa yang sedang kitalakukan sebenarnya suatu hal yang sangat penting dan bermanfaat?
Pernahkah kita merasakan futur (semangat menurun) saat seseorang mengabaikan kita, tidak memuji serta tidak menghargai hasil pekerjaan baik kita?
Di sisi lain, pernahkah kita melihat orang yang kehidupannya sederhana namun selalu nampak ceria, seolah-olah tidak pernah ada masalah yang melintas dalam hidupnya? Fasilitas belajar ataupun kerjanya yang dimiliki tidak begitu memadai tapi selalu giat dan berhasil?
Ia mendapat banyak teguran dan sindiran dari berbagai pihak namun dia tetap tegar. Semangat dan keikhlasaannya tidak sedikitpun tergoyahkan? Pernahkah?
Ketahulillah bahwa yang membedakan itu semuanya adalah hati. Antara hati yang sakit dan hati yang unggul. Hati yang sakit selalu mengharapkan pemuasan segera, kekayaan yang segera dan pujian dari orang lain. Maka saat dia tidak memperoleh apa yang diharapkanakan mengalami depresi dan putus asa. Sedangkan hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati, Dzat yang memberikan hikmah di balik setiap ujian dan cobannya.
Semua pasti mendambakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup,namun perlu diketahui bahwa rasa bahagia dan damai itu letaknya di hati.
Maka setiap yang menginginkannya harus memperhatikan bagaimana memiliki hati yang unggul.
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri hati yang unggul
Pertama adalah hatinya merdeka. Artinya hatinya bebas dari kekangan hawa nafsu dan syahwat. Bisyr bin Harist pernah mengatakan: ”Seorang hamba tidak akan mampu merasakan nikmatnya ibadah sebelum ia mampu membuat tembok penghalang dari besi yang memisahkan antara dirinya dan syahwatnya.” (Hilyatul Aulia, jil. VIII, hal. 345)
Kedua, hatinya memiliki rasa “Yaqzhah”. Yaitu berupa kecemasan hati tatkala memperhatikan tidurnya orang-orang lalai. Rasa yaqzhah ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, di antaranya:
a. Waspada terhadap melimpahnya kenikmatan yang dapat menjerumuskannya kedalam kenistaan.
b. Selalu menghitung keburukannya, dan dikaitkan segala bentuk kerugian yang menimpanya degan dosa yang dilakukan.
Sebagaimana firman Allah :
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura [26]: 30)
Rasulullah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya :
“Tidaklah urat dan mata itu gemeter melainkan kerena sebuah dosa.” (HR. Thabrani)
c. Mewaspadai setiap kebaikan dan ketaatan yang melahirkan kebanggaan dan kesombongan.
Imam as Syafi’I memberikan arahaan agar terhindar dari ujub dalam ketaatan, “Bila Anda khawatir muncul penyakit ujub atas amalan Anda, maka ingatlah keridhaan dari pihak yang hendak Anda cari, nikmat apakah yang hendak Anda inginkan? Siksaan apa yang Anda takuti. Barangsiapa yang berfikir ke arah situ maka dia akan menganggap kecil amalannya.” (dalam kitab Siyarul ‘Alamin Nubala’, jil. X,hal. 111)
d. Akan timbul rasa hina dan bersalah saat melakukan dosa.Orang yang melakukan dosa sedangkan dia biasa-biasa saja maka ini pertanda hatinya sedang sakit. Jangan-jangan Allah sudah mengunci hatinya.
e. Mengukur keuntungan dan kerugiaan dengan ukuran akhirat. Sebagaimana Rasulullah pernah menyembelih seekor kambing lalu disedekahkan dan yang tersisa hanya pahanya saja, hingga ‘Aisyah berkata, “Hanya paha saja yang tersisa?” Rasulullah menjawab sebaliknya dengan timbangan akhirat, “Semuanya masih tersisa kecuali pahanya saja.”
Yang ketiga, Hatinya selalu memusuhi kelalaian.
Ada beberapa ilustrasi yang mewanti-wanti kita terhadap kelalaian dan panjangnya angan-angan. Sebagaiamana hal tersebut digambarkan oleh para ulama, di antaranya :
a. Bisyr bin Harist menceritakan tentang seekor semut yang sibuk mengumpulkan biji-bijian di musim panas dengan angan-angan agar dapat dimakan di musim dingin, tiba-tiba seeokor burung datang mematuknya dan biji tersebut. ( Lihat: Bisyr bin Harist hal. 65)
b. Ibnu Jauzi, “Dunia adalah perangkap, sedangkan manusia adalah burungnya. Burung-burung itu menginginkan biji (yang ada dalam perangkap), tapi lupa akan jerat perangkap.” (Dalam Shaidul Khathir, hal. 373)
c. Hasan Al-Bashri, “Wahai anak Adam, pisau tengah diasah, perapian tengah dinyalakan, sedangkan domba itu tengah menikamati makanannya.” (Dalam Siyaru ‘alamin Nubala’, jil. IV, hal.586)
Maka dari itu hati yang unggul selalu waspada dan tidak terlena dengan kenikmatan yang sesaat dan menipu serta angan-angan dunia yang melenakan, menipu, dan menjerat, sehingga membuat dia lalai dari kehidupan yang abadi.
Keempat, hati yang senantiasa ingin membalas.
Maksudnya adalah membalas kesalahan dengan kebaikan.Kerena kebaikan akan menghapus kesalahan, sebagaimana firman Allah;
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itumenghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS.Hud [14]: 114)
Dalam hadis Rasulullah bersabda
“Hendaklah ia mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscayakeburukan itu akan menghapus keeburukan.” (HR. Ahmad)
Sesungguhnya balasan kebaikan adalah kebaikan yang dating setelahnya, sedangkan balasan keburukan adalah keburukan yang datang setelahnya, sebagaimana firman Allah.
Dengan kata lain, barangsiapa yang melakukan ketaatan dan telah paripurna, maka tanda-tanda diterimanya ketaatan tersebut adalah diikuti dengan ketaatan yang lain. Sedangkan tanda tidak diterimanya adalah diikuti dengan kemaksiatan setelahnya. Na’uzdubillah.
Umar r.a suatu ketika pernah disibukkan dengan kebun senilai 200.000 dirham sehingga beliau terlambat shalat Ashar-nya, maka beliau membalasnya dengan menyedekahkan kebun tersebut.
Hal yang senada juga pernah dilakukan oleh Thalhah, dia menyedekahkan kebunnya sebagai kafarah (pengganti) karena ketika shalat, hatinya pernah tersibukkan dengan burung yang hinggap di kebunnya tersebut.
Kelima, hati yang tidak mengenal rasa malas
Orang yang malas sering menyepelekan sesuatu yang kecil,dengan kemalasannya ia selalu menunda-nunda sampai tidak sempat dilaksanakannya. Padahal hakekat daripada sebuah gunung adalah kumpulan kerikil-kerikil dan hakekat banjir besar adalah kumpulan dari sejumlah tetesan air.
Rasulullah telah memotifasi umatnya agar bersegera melakukan kebaikan,jangan menunda-nundanya walaupun waktu yang dimiliki sangatsempit.
“Bila kiamat terjadi sedang di tangan salah seorang di antara kalian memegang bibit, maka bila ia mampu untuk tidak bangkit hingga menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR.Bukhrari)
Maka hati yang memiliki ciri-ciri sebagaimana tertera di atas lah yang akan selalu unggul, tidak pernah depresi, tidak mengenal kata lelah dan menyerah, tidak menggoyahkan sedikitpun tekadnya dengan komentar-komentar orang lain. Karena yang diharapkankan bukan wajah manusia, tapi keridhaan dari Rabb Yang menciptakan manusia.
Namun untuk memperolehnya tidak hanya dengan duduk santai menunggu mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul, mustahil bisa. Tapi butuh usaha semaksimal mungkin untuk dapat memilikinya.*/Nashihul Umam
*************
*Lisan yang Membahayakan*
“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada berbicara
Keheningan dalam Kereta Rel Listrik (KRL) tujuan stasiun Bogor-Angke tiba-tiba pecah. Sesaat, setelah terjadi keributan kecil antara seorang penumpang wanita dengan pria yang berdiri di sebelahnya.
“Hape saya kok nggak ada. Mas ambil hape saya ya?” penumpang wanita yang tampak kebingungan itu bergegas melempar tanya.
“Eh, jangan nuduh sembarangan dong!” sanggah sang pria.
“Saya nggak nuduh, Mas. Saya cuma tanya!” wanita itu berusaha menjelaskan, tangannya sambil meraba saku baju dan celananya.
“Salah kalau mbak tanya kayak gitu. Yang bener kalau ngomong!” Nada suara sang pria semakin meninggi. Ia tidak terima dengan ucapan wanita tersebut.
“Periksa saja kalau nggak percaya!” tambah sang pria meminta semua sakunya digeledah. “Coba mbak miscall dulu nomornya.”
‘Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif’. Kalimat ini yang terdengar, saat penumpang wanita itu miscall dengan hape lain miliknya yang di-loudspeaker (dinyaringkan volumenya).
Penumpang wanita terus me-miscall nomor hape yang mendadak raib tersebut. Pada panggilan (miscall ) ketiga kalinya, terdengar samar sebuah nada dan getaran.
“Alhamdulillah…,” penumpang wanita itu menghela nafas. Hape yang dicari ternyata terselip dalam tas slempang yang dibawanya.
“Maaf ya, Mas.”
“Kalau ngomong itu yang bener. Jangan asal keluar dari mulut. Dipikir dulu, bakal bikin orang lain tersinggung kagak! Lain kali jangan diulangi.”
Penumpang wanita tersebut pun tertunduk malu, hanyut bersama keheningan KRL yang terus melaju dengan kencang.
Pentingnya Menjaga Lisan
Apa yang terjadi di atas, seharusnya dapat menjadi ibrah bagi kita semua. Bahwa, menjaga lisan adalah suatu pekerjaan yang sangat penting, dan terkadang tidak mudah. Bahkan, jika salah berucap bisa berakibat fatal terhadap kehidupan kita ataupun oranglain di sekitar.
Ucapan penumpang wanita dalam kasus tersebut, mungkin keluar secara spotan, karena dalam kondisi cemas atau gelisah. Namun, ternyata justru membuat oranglain tersinggung. Padahal, tak ada niat dan maksud dari penumpang wanita melakukan hal itu.
Di sinilah, arti pentingnya menjaga lisan, agar setiap ucapan yang keluar dari mulut kita tak menyinggung atau menyakiti perasaan oranglain. Yang terkadang juga dapat menyebabkan pertengkaran bahkan hingga berujung pada pembunuhan. Naudzubillah…
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 12;
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian dari tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS: al Hujurat:12)
Buah Lisan
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucap suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.” [ Bukhari dan Muslim]
Masalah ini juga disebutkan pada akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi No. 2616, sekaligus ia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda; “Bukankah tak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya?”
Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas pertanyaan Mu’adz.
“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan?”
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ al-Ulum wa al-Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya, setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak, ia akan menuai apa yang ditanamnya. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka akan menunai kemuliaan. Dan sebaliknya, barangsiapa yang menanam sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatannya, maka akan menuai penyesalan.”
“Hal ini menunjukkan bahwa, menjaga lisan kemudian senantiasa mengontrolnya itu merupakan pangkal dari segala kebaikan. Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya, sesungguhnya ia telah mampu menguasai, mengontrol maupun mengatur semua urusannya,” tutup al-Hafidz pada hal. 146 dalam kitab yang sama.
Berpikir sebelum Berlisan
Dalam sebuah riwayat lain, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih Bukhari No. 6475 dan Muslim No. 74)
Mengenai hadits ini, Imam Nawawi menjelaskan bahwa, “Imam Syafi’i menjelaskan maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata, maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan ia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya ia tidak berbicara.”
Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara.”
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada berbicara. Hal itu, karena betapa banyak orang yang menyesal karena berbicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapatkan bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau berpikir.”
“Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Ia perlu menyadari bahwa, ia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum pernah diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkannya. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya.
Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka ia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya,” lanjut Abu Hatim dalam hal. 47, masih pada kitab yang sama.
“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika hendak berbicara, maka ia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan itu bermanfaat bagi dirinya, maka ia akan berbicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka ia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Ia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya,” tutup Abu Hatim pada hal. 49.*
“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada berbicara
Keheningan dalam Kereta Rel Listrik (KRL) tujuan stasiun Bogor-Angke tiba-tiba pecah. Sesaat, setelah terjadi keributan kecil antara seorang penumpang wanita dengan pria yang berdiri di sebelahnya.
“Hape saya kok nggak ada. Mas ambil hape saya ya?” penumpang wanita yang tampak kebingungan itu bergegas melempar tanya.
“Eh, jangan nuduh sembarangan dong!” sanggah sang pria.
“Saya nggak nuduh, Mas. Saya cuma tanya!” wanita itu berusaha menjelaskan, tangannya sambil meraba saku baju dan celananya.
“Salah kalau mbak tanya kayak gitu. Yang bener kalau ngomong!” Nada suara sang pria semakin meninggi. Ia tidak terima dengan ucapan wanita tersebut.
“Periksa saja kalau nggak percaya!” tambah sang pria meminta semua sakunya digeledah. “Coba mbak miscall dulu nomornya.”
‘Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif’. Kalimat ini yang terdengar, saat penumpang wanita itu miscall dengan hape lain miliknya yang di-loudspeaker (dinyaringkan volumenya).
Penumpang wanita terus me-miscall nomor hape yang mendadak raib tersebut. Pada panggilan (miscall ) ketiga kalinya, terdengar samar sebuah nada dan getaran.
“Alhamdulillah…,” penumpang wanita itu menghela nafas. Hape yang dicari ternyata terselip dalam tas slempang yang dibawanya.
“Maaf ya, Mas.”
“Kalau ngomong itu yang bener. Jangan asal keluar dari mulut. Dipikir dulu, bakal bikin orang lain tersinggung kagak! Lain kali jangan diulangi.”
Penumpang wanita tersebut pun tertunduk malu, hanyut bersama keheningan KRL yang terus melaju dengan kencang.
Pentingnya Menjaga Lisan
Apa yang terjadi di atas, seharusnya dapat menjadi ibrah bagi kita semua. Bahwa, menjaga lisan adalah suatu pekerjaan yang sangat penting, dan terkadang tidak mudah. Bahkan, jika salah berucap bisa berakibat fatal terhadap kehidupan kita ataupun oranglain di sekitar.
Ucapan penumpang wanita dalam kasus tersebut, mungkin keluar secara spotan, karena dalam kondisi cemas atau gelisah. Namun, ternyata justru membuat oranglain tersinggung. Padahal, tak ada niat dan maksud dari penumpang wanita melakukan hal itu.
Di sinilah, arti pentingnya menjaga lisan, agar setiap ucapan yang keluar dari mulut kita tak menyinggung atau menyakiti perasaan oranglain. Yang terkadang juga dapat menyebabkan pertengkaran bahkan hingga berujung pada pembunuhan. Naudzubillah…
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 12;
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian dari tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS: al Hujurat:12)
Buah Lisan
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucap suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.” [ Bukhari dan Muslim]
Masalah ini juga disebutkan pada akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi No. 2616, sekaligus ia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda; “Bukankah tak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya?”
Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas pertanyaan Mu’adz.
“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan?”
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ al-Ulum wa al-Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya, setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak, ia akan menuai apa yang ditanamnya. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka akan menunai kemuliaan. Dan sebaliknya, barangsiapa yang menanam sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatannya, maka akan menuai penyesalan.”
“Hal ini menunjukkan bahwa, menjaga lisan kemudian senantiasa mengontrolnya itu merupakan pangkal dari segala kebaikan. Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya, sesungguhnya ia telah mampu menguasai, mengontrol maupun mengatur semua urusannya,” tutup al-Hafidz pada hal. 146 dalam kitab yang sama.
Berpikir sebelum Berlisan
Dalam sebuah riwayat lain, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih Bukhari No. 6475 dan Muslim No. 74)
Mengenai hadits ini, Imam Nawawi menjelaskan bahwa, “Imam Syafi’i menjelaskan maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata, maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan ia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya ia tidak berbicara.”
Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara.”
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada berbicara. Hal itu, karena betapa banyak orang yang menyesal karena berbicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapatkan bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau berpikir.”
“Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Ia perlu menyadari bahwa, ia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum pernah diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkannya. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya.
Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka ia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya,” lanjut Abu Hatim dalam hal. 47, masih pada kitab yang sama.
“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika hendak berbicara, maka ia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan itu bermanfaat bagi dirinya, maka ia akan berbicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka ia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Ia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya,” tutup Abu Hatim pada hal. 49.*
**********


0 komentar:
Posting Komentar