*Sakaratul Maut*
Yang dialami oleh orang yang sakaratul maut. Di dalam Al-Quran
Al-Karim, Allah SWT telah menceritakan bagamana malaikat didatangkan
kepada orang yang akan dicabut nyawanya. Dan khusus orang yang zalim,
perlakuan malaikat memang cukup kasar dan menciutkan nyali. Alangkah
dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada
dalam tekanan sakratul maut, sedang para
malaikat memukul dengan tangannya, : Keluarkanlah nyawamu Di hari ini
kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu
mengatakan terhadap Allah yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan
diri terhadap ayat-ayatNya..
Sedangkan kepada orang yang
beriman kepada Allah SWT dan menjadi calon penghuni surga, perlakukan
malaikat 180 derajat terbalik. Mereka demikian ramah dan baik hati.
Kepada mereka Allah SWT mengatakan: Hai jiwa yang tenang, Kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke
dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku..
Sedangkan secara umum dan dari penampilan pisik, ada hadits Rasulullah
SAW yang menceritakan bagaimana keadaan orang yang sedang dicabut
nyawanya: Sesungguhnya pandangan seorang mayyit mengikuti ruhnya ketika
dicabut.
Alam Kubur
Yang dialami orang yang meninggal
di alam kubur. Ruh itu lalu naik ke langit dan diperlakukan sesuai
dengan amalnya di dunia. Bila ruh itu berasal dari orang yang beriman,
maka pintu langit akan dibukakan untuknya dan disambut dengan hangat.
Sebaliknya, bila ruh itu dari orang non muslim, zalim dan berlumur dosa,
maka pintu langit akan tertutup untuknya dan mendapat perlakuan yang
hina.
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami
dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan
bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak mereka masuk surga, hingga unta
masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada
orang-orang yang berbuat kejahatan.
Bahkan ruh itu akan
dicampakkan dari pintu langit sebagaimana firman Allah SWT: Barangsiapa
mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh
dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat
yang jauh. .
Dua ayat inilah yang diucapkan oleh Rasulullah
SAW di dalam hadits shahih yang panjang ketika menjelaskan bagaimana ruh
orang beriman dan ruh orang jahat. Salah satu potongannya kami nukilkan
berikut ini:
Rasulullah SAW bersabda, ”…Lalu ruh jahat itu
dikembalikan ke dalam jasadnya dan dua malaikat mendatanginya seraya
bertanya, ”Siapakah rabb-mu? Orang itu menjawab,”hah..hah..aku tidak
tahu”. Malaikat itu bertanya lagi,”
Siapakah manusia yang diutus kepada kalian?”. “hah..hah..aku tidak kenal”, jawabnya.
Lalu diserukan suara dari langit bahwa dia telah mendustakan hamb-Ku.
Maka dekatlah dengan neraka dan dibukakan pintu neraka hingga panas dan
racunnya sampai kepadanya. Lalu kuburnya disempitkan hingga
tulang-tulang iganya saling bersilangan. Dan didatangkan kepadanya
seorang yang wajahnya buruk, pakaiannya buruk dan baunya busuk dan
berkata kepadanya,”Berbahagialah dengan amal jahatmu. Ini adalah hari
yang kamu pernah diingatkan. Dia bertanya,”siapakah kamu, wajahmu adalah
wajah orang yang membawa kejahatan?” “Aku adalah amalmu yang buruk”.
“Ya Tuhan, jangan kiamat dulu”..
Adakah Hadits Shahih Siksa Kubur?
Bagaimanakah Bentuk Siksa kubur.
Pertanyaan di dalam kubur dan siksanya ada disebutkan di dalam Al-Quran
Al-Kariem. Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah
menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia
kehendaki..
Dalam asbabun nuzul secara shahih diriwayatkan
bahwa yang dimaksud dengan ‘Allah SWT meneguhkan orang beriman dengan
ucapan yang teguh’ adalah bahwa mayat orang beriman di kubur itu mampu
menjawab dengan mantap tiga pertanyaan malaikat dalam kubur, yaitu
tentang siapa tuhanmu, siapa nabimu dan apa agamamu.
Dari Anas
bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba
ketika diletakkan di kuburnya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, maka
dia masih mendengar suara sandal mereka. Imam Bukhari
menambahkan,”Sedangkan orang munafik dan kafir diserukan kepada mereka,”
Doa Anak Kepada Orang Tua
Apa yang harus dilakukan oleh anak setelah kedua orangtuanya wafat.Yang
paling utama adalah mendoakannya, karena doa anak yang shalih adalah
hal yang secara sharih disebutkan sangat bermanfaat bagi orang tuanya
yang sudah meninggal. Tentu saja anak itu harus anak yang shalih,
beriman dan bertaqwa. Karena hanya doa orang yang dekat dengan tuhannya
saja yang akan didengar.
Jadi kalau anaknya jarang sholat,
tidak pernah mengaji, buta ajaran agama dan asing dengan syariat Islam,
lalu tiba-tiba berdoa, bagaimana Allah SWT akan mendengarnya. Sementara
makanannya makanan haram, bajunya haram, mulutnya tidak lepas dari yang
haram. Selain itu anak yang sholih bisa saja mengeluarkan infaq,
shadaqah dan ibadah maliyah lainnya yang diniatkan untuk disampaikan
pahalanya kepada orang tuanya. Tentang sampainya pahala ibadah maliyah
dari orang yang masih hidup untuk orang yang sudah wafat, ada banyak
dalilnya. Di antaranya adalah:
”Seseorang tidak boleh melakukan
shalat untuk menggantikan orang lain, dan seseorang tidak boleh
melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan
makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum. .
Dari
Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia
ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk
bertanya:” Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal
sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya
bermanfaat baginya? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:” saksikanlah
bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya”
Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa bukan hanya ibadah maliyah saja
yang bisa disampaikan pahalanya kepada orang wafat, namun ibadah
badaniyah pun bisa dikrimkan pahalanya untuk orang yang sudah wafat.
Dalilnya adalah nash berikut:
Dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah
SAW bersabda, ” Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban
shaum maka keluarganya berpuasa untuknya”
Hadits ini adalah
hadits shahih yang menyebutkan bahwa pahala puasa sebagai ibadah
badaniyah bisa dikirimkan untuk orang yang sudah wafat. Selain itu
pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada
saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ad halangan sebagaimana tidak
dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan
membebaskan utang setelah wafatnya.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
sumber info Islam*
Label:
Serba-serbi Islami.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar