BOLA AYAM*

    Bahan:
    2 sendok makan minyak goreng
    750 ml air
    3 lembar daun jeruk
    1 batang sereh
    1 batang daun bawang
    1 buah jagung manis, rebus, pipil
    Garam, gula pasir, dan merica bubuk secukupnya

Bola ayam:

    300 gr ayam giling
    2 sendok makan tepung sagu
    1 butir telur
    Garam dan merica bubuk secukupnya

Bumbu halus:

    5 butir bawang merah
    3 siung bawang putih
    4 buah cabai merah

Cara membuat:

1. Bola ayam: Campur semua bahan, aduk hingga rata. Ambil satu sendok teh adonan, lalu bentuk bulatan dengan bantuan dua buah sendok. Masukkan bola ayam ke dalam air mendidih, masak hingga mengapung dan matang. Angkat dan tiriskan.
2. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus, daun jeruk, dan sereh hingga harum. Angkat.
3. Masukkan tumisan bumbu ke dalam air yang telah dididihkan. Tambahkan garam, gula pasir, merica bubuk, dan jagung manis. Masak hingga matang.
4. Masukkan bola ayam, aduk rata. Angkat dan sajikan hangat.

Hasil: 4 porsi


resep disalin dari Yahoo.




UDANG PARE*

Bahan:

    3 buah pare ukuran sedang
    1 sendok teh garam
    100 gr udang, kupas kulitnya
    15 buah cabai rawit, potong serasi
    5 siung bawang merah, cincang
    3 siung bawang putih, cincang
    ½ sendok teh garam
    100 ml air
    2 sendok makan minyak goreng

Cara membuat:

    *Siangi pare, buang isinya dan potong serasi, remas-remas dengan garam hingga layu dan berair untuk menghilangkan rasa pahit. Cuci dan tiriskan.
    *Tumis bawang merah, bawang putih dan cabai hingga harum.
    *Masukkan udang dan garam, aduk hingga udang berubah warna. Tambahkan air.
    *Terakhir masukkan pare dan aduk hingga rata dan setengah matang.
    * Siap di sajikan.


resep disalin dari Yahoo.

7 Herbal Pereda Demam


engingat demam bukanlah kategori ‘penyakit’ melainkan reaksi tubuh menghadapi ragam gangguan imunitas, maka yang diutamakan dalam menghadapi demam adalah tetap menjaga dan meningkatkan energi serta gizi tubuh, terutama penambahan  asupan cairan. Di antara herbal (dawa’/ obat) yang Insya Allah berkhasiat unggul untuk meredakan demam antara lain:

Madu (Mel depuratum)

madu
Madu (Mel depuratum)
“Barangsiapa meminum tiga sendok madu dalam tiga pagi saja dalam satu bulan, tidak akan terkena penyakit berat” (H.R. Ibnu Majah).
Madu mengandung banyak air dan fruktosa. Madu bersifat antibakteri karena keasaman alami dan hidrogen peroksida yang dihasilkannya. Konsumsi madu secara teratur memperkuat sel darah putih untuk melawan bakteri dan penyakit yang diakibatkan oleh virus.
3-7 sendok makan madu yang dicampur dengan segelas air dingin dan diminum sebelum makan, tiga kali sehari dapat membantu meredakan demam. Terapi ini bermanfaat dilakukan di pagi hari 1 jam sebelum makan untuk detoksifikasi.


Habbatussauda (Nigella sativa)

bunga habbatusauda
Bunga Habbatussauda
“Hendaknya kalian mengkonsumsi jinten hitam. Karena jinten hitam mengandung obat untuk segala jenis penyakit, kecuali As-Saam” (H.R. Bukhari & Muslim).
Sifatnya panas dan kering, mengandung 15 macam asam amino, alkaloid, dan saponin. Jinten hitam dapat digunakan untuk meredakan demam yang disertai batuk berdahak dan sejenisnya.
Dari Khalid bin Sa’ad, dia berkata: “Satu ketika aku keluar bersama Ghalib bin abjar. Di tengah perjalanan dia jatuh sakit. Sesampainya kami di Madinah, Ghalib tetap sakit. Ketika Ibnu Abu Atiq menjenguk-nya, dia menyaran-kan pada kami: “Carilah Habbatus-sauda, ambil sebanyak lima sampai tujuh biji, lalu tumbuklah sampai menjadi lembut. Setelah diberi sedikit minyak, teteskanlah pada bagian hidung dan bagian-bagian tubuh yang lain. Soalnya Aisyah r.a. pernah bercerita kepadaku bahwa ia mendengar Nabi SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya Habbatussauda ini merupakan penyembuh dari segala macam penyakit, kecuali As-sam”. Saat aku tanyakan, kata Aisyah, “apa itu As-sam?”, Rasulullah menjawab “As sam ialah kematian”. (HR. Bukhari).
Bagi orang yang terserang demam dapat memanfaatkan satu sendok teh serbuk habbatussauda sebanyak tiga kali sehari.  Sedangkan untuk anak-anak dapat diteteskan minyaknya 5-7 tetes tiga kali sehari. Biji habatussauda yang dipanaskan, efektif jika dihirup baunya untuk meredakan demam disertai flu. Sedangkan minyaknya apabila dicampur air atau minyak zaitun dapat diminum untuk meredakan demam akibat panas atau peradangan di lambung.

Semangka (Citrullus vulgaris)

semangka
Buah Semangka
Nabi Shallallahu A’laihi Wa Sallam pernah makan semangka dicampur dengan kurma muda yang sudah masak, beliau bersabda: “Panas di buah ini dinetralisir oleh unsur dingin di buah ini” (H.R. Abu Daud & At-Tirmidzi).
Semangka bersifat dingin dan basah. Daging buah semangka rendah kalori dan mengandung air sebanyak 93,4%, protein 0,5%, karbohidrat 5,3%, lemak 0,1%, serat 0,2%, abu 0,5%, dan vitamin A, vitamin B, dan vitamin C. Selain itu, juga mengandung asam amino sitrullin, asam aminoasetat, asam malat, asam fosfat, arginin, betain, likopen, karoten, bromin, natrium, kalium, silvit, lisin, fruktosa, dekstrosa, dan sukrosa.
Semangka bisa dipakai untuk menurunkan demam, yaitu dengan memakan daging buah semangka segar sebanyak 500-1000 gr. Sebaiknya dilakukan 2-3 kali sehari. Untuk meredam efek sampingnya dapat diformulasikan bersama jahe sebagai pereda demam.

Mentimun (Cucumis sativus)

Mentimun
Buah Mentimun
Dari Abdullah bin Ja’far diriwayatkan bahwa ”Rasulullah Shallahu’Alaihi Wa Sallam biasa menyantap mentimun dengan kurma masak” (H.R. At-Tirmidzi).
Timun bersifat dingin dan basah, mengandung 0,65% protein, 0.1% lemak dan karbohidrat sebanyak 2,2%. Juga mengandung kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C. Parutan buah timun digunakan untuk mengompres dapat dengan segera menurunkan demam. Mengkonsumsi timun segar juga efektif meredakan demam.

Bawang Merah (Allium cepa)

Bawang Merah
Umbi Bawang Merah
Dari Aisyah r.a, bahwa ia pernah ditanya tentang bawang merah. Aisyah menjawab: “Makanan yang terakhir kali dimakan oleh Rasulullah, mengandung bawang merah” (H.R. Abu Daud)
Bawang merah bersifat panas dan basah, memiliki kandungan minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin. Untuk meredakan demam pada anak, cuci lima butir bawang merah lalu kupas. Kemudian parut atau gerus dan tambahkan minyak zaitun secukupnya.
Setelah itu balurkan ke tubuh anak, terutama bagian ubun-ubun, punggung, perut, paha, lengan, dan telapak kaki. Istirahatkan anak untuk mempermudah kesembuhan.

Labu Air (Lagenaria leucantha R.)


Labu Air
Labu Air
“…Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu…”(Ash-shaaffat: 146).
Labu bersifat dingin dan basah, mengandung kalsium, zat besi dan vitamin C. Untuk terapi demam dengan memarut labu air lalu diperas dan diambil airnya. Diminumkan 3 kali sehari masing-masing ½ gelas. Bisa juga dibuat sup (sayur) atau direbus dijadikan lalapan.

Zaitun (Oleo europaea)

Minyak Zaitun
Zaitun
“Gunakanlah minyak zaitun sebagai lauk dan gunakanlah sebagai minyak rambut, karena ia berasal dari pohon yang penuh dengan berkah.” (HR. Ibnu Majah).
Daun dan tangkai zaitun telah digunakan sebagai lambang perdamaian. Minyak zaitun bersifat dingin dan lembab. Minyak zaitun kaya akan minyak essensial seperti omega 3, 6, dan 9. Terdapat vitamin A, B1, B2, C, D, E, K, dan zat besi di dalamnya.
Karena sifat minyaknya yang dingin dan lembab, maka baik jika dibalurkan kepada penderita demam, terutama bagi bayi yang terserang demam.
Apabila diminumkan dapat melegakan lambung, mengatasi peradangan pada lambung dan mengeluarkan cacing dari dalam perut.
Selain itu daunnya dikenal sebagai pencegah infeksi dan demam. Untuk infeksi/ luka terbuka dapat dibasuhkan air rendaman daun zaitun. Untuk demam dapat dikompreskan dengan beberapa daun yang telah direndam air hangat.
(Tulisan ini disarikan dari Tabloid Bekam Edisi 6/2010)

7 Herbal Untuk Stroke

Madu
(Mel depuratum)
Dalam kitab Sunan Ibnu Majah, dalam sebuah hadits marfu’ diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu A’laihi  Wassallam bersabda, “Barang siapa minum tiga sendok madu dalam tiga pagi saja setiap bulan, niscaya ia tidak akan terkena penyakit berat.”
Madu (Al ‘Asal) selain mengandung air, glukosa, fruktosa, sukrosa, dan asam lemak, ia juga mengandung berbagai vitamin. Salah satunya yang berfungsi bagi pengobatan stroke adalah vitamin B1 yang berfungsi untuk menormalisasi kelumpuhan pada syaraf. Selain itu mengandung vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan dan melindungi sel darah merah yang mengangkut oksigen dari kerusakan.
Jelai Gandum (Hordeum vulgare)
Dari Aisyah Rhadiyanllahu Anhu, diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah diberi tahu bahwa ada orang yang sakit dan tidak mau makan, beliau berkata, “hendaknya kalian buatkan bubur sya’ir (jelai gandum) dengan daging, lalu suapkan kepadanya.” Beliau bersabda, “Demi Zat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sesungguhnya makanan itu bisa membersihkan perut salah seorang di antara kalian sebagaimana salah seorang di antara kalian membersihkan wajah dari kotoran.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Nasa’i).
Jelai mirip seperti gandum karena berasal dari suku yang sama, Poaceae. Jelai yang dibuat bubur dengan campuran gulai daging (Talbinah) atau dibuat roti dicampur sup daging (Tsarid) adalah makanan yang baik bagi penderita sakit parah.
Ibnu Qoyyim mengatakan Sifatnya yang lembut dan dapat menambah kelembaban dapat meningkatkan panas tubuh alami secara lebih maksimal, selain itu lebih menyentuh dasar lambung.
Rasa duka, kesedihan atau penyakit degeneratif semacam stroke menyebabkan dinginnya kondisi kejiwaan dan melemahkan panas tubuh alami karena dominasi hati yang berduka mempengaruhi seluruh tubuh untuk menjadi dingin oleh sebab itu Rasulullah bersabda, “Bubur daging ini dapat menentramkan hati pasien dan menghilangkan kesedihannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pasien stroke sulit untuk menerima makanan karena gangguan syaraf tubuh atau hilangnya selera makan, oleh sebab itu hanya makanan yang lembut yang dapat dicerna dengan efektif, selain tubuh memanfaatkan glikogen yang tersimpan di dalam hati dan otot-otot.
Jelai yang ditumbuk halus dan sup daging adalah cara terbaik untuk menguatkan hati, karena hati adalah raja seluruh tubuh.
Bawang Putih (Allium sativum)
Mengenai bawang putih dalam hadits disebutkan, “Barangsiapa hendak makan kedua benda ini (bawang merah dan bawang putih), hendaknya dimasak dengan sempurna.”
Bawang putih (Tsaum) bersifat panas dan kering. Dapat memberikan kehangatan tingkat tinggi. Mengandung minyak atsiri yang berfungsi untuk menurunkan kadar lemak dalam darah baik kolesterol maupun trigliserida dan mencegah artherosclerosis. Ibnu Qoyyim menyebutkan bawang putih dapat mengganggu otak dan mata, maka dalam mengkonsumsinya dapat ditambah daun rue atau memasaknya hingga sempurna.
Jintan Hitam (Nigella sativa)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Makanlah jintan hitam, karena ia mengandung obat dari segala jenis penyakit kecuali kematian.”
Jintan hitam (Habbatussauda) bersifat panas dan kering pada tingkatan ketiga. Jintan hitam dapat menstimulasi seluruh organ dan memperbaiki kinerja metabolisme secara umum.
Minyak zaitun
(Olea europaea)
“Dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang yang makan.” (Al Mukminun: 20). Menurut andrea Weil, seorang pakar gizi amerika, kata sibgh yang terdapat pada ayat ini berasal dari kata sibhgiyyat yang berarti kromosom. Karena DNA hanya bekerja 10% saja sementara yang 90% sisanya kosong, setiap 7 tahun terjadi pergantian 10% dari 90% kromosom yang tersisa. Dari sini tampak sisi mukjizat hadits Rasulullah, “Umur umatku adalah antara 60 sampai 70 tahun.”
Ketika manusia telah mencapai umur 63 tahun maka telah sampai pada 10% terakhir dari DNA yang ada dan setelah itu manusia menjadi tua renta. Minyak zaitun dapat digunakan untuk menjaga 10% terakhir dari kromosom ini. Secara ilmiah minyak zaitun telah terbukti mampu menjaga unsur DNA tidak terkikis dari rantai ujungnya dan menjaga agar tidak terjadi jarak yang menyebabkan loncatan atau perubahan menjadi sel kanker.
Minyak zaitun kaya dengan kandungan omega 9 yang dikenal mampu menurunkan LDL dan menaikkan kadar HDL, selain itu minyak zaitun mengandung vitamin E. Minyak zaitun mengandung vitamin D yang berfungsi untuk mencegah kelumpuhan tulang.  Minyak zaitun yang terbaik adalah yang berasal dari perasan dingin (Cold Press Oil) pada perasan pertama (Extra Virgin).
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab hanya makan minyak zaitun dan cuka. Umar tidak makan daging hingga setelah fakir miskin kaum muslimin mampu membeli makanan. Menambahkan minyak zaitun pada makanan adalah cara terbaik untuk penggunaan terapi penyembuhan. Dr. Kabursy mengungkapkan “kebutuhan asam lemak tak jenuh meningkat ketika memasuki fase menopause.” Berdasarkan hasil penelitian mereka yang mengkonsumsi minyak zaitun memiliki daya ingat yang lebih baik dan lebih responsif.
Sambiloto (Andrographis paniculata)
Herba sambiloto rasanya pahit, dingin, masuk meridian paru, lambung, usus besar dan usus kecil.      Dari segi farmakologi, sambiloto mempunyai efek muskarinik pada pembuluh darah, efek pada jantung iskemik, efek pada respirasi sel, sifat kholeretik, antiinflamasi, dan antibakteri.
Herba sambiloto dipanen sewaktu tumbuhan ini mulai berbunga. Setelah dicuci, dipotong-potong seperlunya lalu dikeringkan. Untuk terapi darah tinggi atau stroke daun sambiloto segar sebanyak 5 – 7 lembar diseduh dengan 1/2 cangkir air panas. Tambahkan madu secukupnya sambil diaduk. Setelah dingin minum sekaligus 3 kali sehari.
Daun Dewa
(Gynura divaricata)
Kandungan daun dewa antara lain, flavonoid, saponin, minyak atsiri. Daunnya berkhasiat untuk mengobati luka terpukul, melancarkan sirkulasi darah, menghentikan pendarahan, pembengkakan payudara, melancarkan haid, dan lain-lain. Umbinya berkhasiat untuk mengatasi bekuan darah pembengkakan, pendarahan, tulang patah, dan lain-lain.
Daun dewa juga berkhasiat menurunkan kadar kolesterol, minyak atsirinya dapat merangsang sirkulasi darah. Juga bersifat analgetik dan antiinflamasi. Efek farmakologis daun dewa adalah antikoagulan (mencegah pembekuan darah), stimulasi sirkulasi, menghentikan perdarahan, menghilangkan panas, dan membersihkan racun.
Untuk terapi stroke diantaranya bisa menggunakan  30 gr daun dewa segar dan 15 helai daun dewa yang kering dicuci, direbus dengan 0.5 liter air hingga tersisa setengahnya. Minum 2x sehari campur madu secukupnya.

*Untuk informasi herbal-herbal lainnya untuk permasalahan stroke dapat dilihat di Tabloid Bekam Edisi “Jurus Ampuh Atasi Stroke”
Disari dari Tabloid Bekam Edisi 7/2010  (Stroke)

Berimanlah Kepada Allah Kemudian Istiqomahlah Engkau

  “Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah perintah Allah kepadamu, agarkamu bertaqwa”. (QS. Al-An’am 6:153)
Ayat di atas merupakan peringatan Allah tentang pentingnya konsistensi dalam membela kebenaran. Karena, terlalu banyak jalan yang bisa membuat kita tidak konsisten. Apa yang dulu dikecam dan kritik, justru kemudian dilakoni.
Itulah yang kini sedang melanda para pemimpin negeri ini. Ketika kesempatan datang mereka justru berubah menjadi orang yang paling getol melakukan apa yang dahulu kerap dikritik dan dikecamnya. Kebobrokan dimana-dimana. Dari birokrasi pemerintahan, penegak hukum, MPR/DPR dan lain-lain.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, diceritakan dialog Rasulullah dengan sahabat Abu Umrah Supyan bin Abdullah. Kata Abu Umrah, “Ya Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang tidak perlu aku menanyakan hal itu kepada orang lain selain dirimu.” Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah.” “ jawab Rasulullah. Selanjutnya beliau menandaskan, “Kemudian istiqomahlah engkau.” (Riyadhus Shalihin)
Dalam nasihat di atas Rasulullah menyampaikan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, Iman dan Istiqomah. Tidak ada artinya iman yang muncul begitu kuat dipermulaan, bila ditutup dengan inkonsistensi iman. Dengan begitu anjuran Rasulullah Saw agar kita mengakhiri hidup kita dengan kesudahan yang baik (husnul khatimah) menemukan maknanya di sini.
Syeikh Abdullah Nasih Ulwan, mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan Iman adalah:
Pertama, keyakinan yang tertanam dalam lubuk hati bahwa kehidupan dan kematian itu berada dalam genggaman Allah.
“Dan apapun yang Allah SWT timpakan kepada seorang hamba tiada yang mampu mengelakkannya, sebagaimana jika Allah menghendaki untuk menyelamatkan seseorang tak ada musibah yang akan menimpanya. Demikian pula bila sekumpulan orang berhimpun untuk memberi manfaat kepadanya, mereka tidak akan dapat memberinya kecuali yang telah Allah tetapkan untuk orang tersebut.
Begitu juga jika mereka hendak menyusahkan seseorang, mereka tidak akan berhasil kecuali apa yang memang telah Allah gariskan.” Begitulah kata Rasulullah SAW kepada lbnu Abas (Riyadhus Shalihin)
Dengan demikian seorang Mukmin akan terbebas dari ketakutan, kelemahan dan keresahan. Dirinya pun terhiasi kesabaran, keperkasaan dan keberanian. Begitulah yang pernah ditampilkan generasi awal umat ini. Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqash dan lain sebagainya adalah pribadi tangguh yang tak pernah gentar menghadapi berbagai ujian.
Kedua, Iman juga berarti seorang Mukmin yakin bahwa rezeki itu berada dalam genggaman Allah semata.
“Jika Allah berkehendak melapangkan rezeki hamba-Nya, tak ada seorangpun yang mampu menghalanginya. Demikian pula sebaliknya. Jika Allah hendak membatasi rezeki seseorang, niscaya tidak seorang pun yang dapat memberinya. (QS. 17:30 dan 67:21).
Dengan begitu, pribadi Mukmin akan terbebas dari ketamakan terhadap dunia, kerakusan, kekikiran dan kebakhilan. Dirinya terhiasi dengan kemuliaan, kemurahan dan kedermawanan. Begitulah sosok Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan dan yang lainnya.
Ketiga, Iman juga berarti bahwa setiap lintasan perasaan dan kesadarannya, setiap Mukmin meyakini bahwa Allah senantiasa menyertai, mendengar dan memperhatikannya.
Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang nampak, dan Mengetahui pandangan mata yang khianat Dan yang disembunyikan hati. “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.
Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka, di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat siapa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Qs. Al- Mujadilah,58:7).
Dengan demikian, seorang mukmin akan terbebas dari kungkungan perilaku destruktif hawa nafsu, dorongan-dorongan nafsu amarah dan kejahatan, bisikan setan serta godaan fitnah harta dan wanita. Dia pun akan selalu merasakan muraqabah (pengawasan) Allah, tutur ikhlas seraya memohon pertolongan hanya kepada-Nya.
Segala aktivitas yang dilakukan dia tunaikan dengan penuh amanah, serius dan dirampungkan secara baik. Bila dia berada di tengah-tengah manusia, dia hadir dengan sepenuh kemanusiaannya, sejajar dengan manusia lainnya, penuh kebaikan dan ketaqwaan. Kehadirannya selalu membawa angin segar bagi orang lain. Saat membaur dengan masyarakat, dia tuntun masyarakat dengan penuh kearifan dan bijaksana.
Pelajaran kedua yang diberikan Rasulullah Saw kepada Abu Umrah, dan itu harus mengiringi terus keimanan seorang mukmin, adalah sikap Istiqomah. Secara harfiyah, Istiqomah berasal dari kata istaqaama, yastaqiimu, stiqaamatan, yang berarti tegak lurus.
Makna demikian pemah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ad Darami, dari Ibnu Masud, Rasulullah suatu hari membuat satu garis lurus di hadapan beberapa sahabat.
Kemudian beliau membuat pula garis melintang di kanan kiri garis lurus tersebut. Sambil menunjuk garis lurus itu, beliau bersabda, “Inilah jalan Allah.” Kemudian sambil menunjuk garis-garis yang banyak yang ada di kanan kiri garis lurus tadi, beliau bersabda lagi, Inilah jalan-jalan yang bersimpang, pada setiap jalan itu ada syetan yang selalu menggoda.” Setelah itu beliau membacakan ayat 153 dari Surat al An’am di atas.
Dalam bahasa akhlak, menurut ustadz Yunahar Ilyas, Istiqomah berarti sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman, sekalipun menghadapi berbagai tantangan dan godaan. Seorang yang istiqomah adalah laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipukul dan diterjang oleh gelombang dan ombak yang menggulung.
Lebih jauh, seorang tokoh tua gerakan Islam Indonesia, KH. Firdaus A.N, mengartikan istiqomah dengan konsisten. Artinya senantiasa beijalan dalam jalur kebenaran yang lurus menurut garis-garis yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Jadi, menurutnya, kalau seseorang telah menyatakan pengakuannya sebagai orang mukmin, maka dia harus konsekuen dan konsisten atas pernyataan dan pengakuannya, sehingga segala tindak dan langkahnya tidak menyimpang dari garis petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat.
Sebagai konsekuensi dari sikap konsisten ini, maka seorang mukmin harus siap menyongsong arus. lbarat seorang nelayan, dia memiliki tujuan yang jelas dan pasti dalam hidupnya. Karenanya, dia siap menyongsong arus sebesar apapun demi menggapai tujuan. Bukan layaknya sampah dan buih yang mengapung mengikuti kemana arah ombak dan angin bertiup.
Dengan demikian seorang mukmin tidak akan terbuai oleh bujuk-rayu dunia, harta, tahta dan wanita. Begitulah teladan Rasulullah Saw untuk orang mukmin. Ketika kaum Quraisy – melalui paman beliau Abi Thalib-mangajak kompromi dengan tawaran harta, tahta bahkan wanita.
Nabi Saw dengan tegas menjawab: “Wahai pamanku, demi Allah, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu ada di tanganku, atau aku binasa karenanya.”
Konsistensi yang diperlihatkan Nabi Saw tersebut hendaknya menjadi panduan buat langkah-langkah kita. Sebab, jika sikap istiqomah (konsisten) ini benar-benar melekat pada diri seorang mukmin, maka kelak ia akan mampu meraih husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik), bukan sebaliknya akhir kehidupan yang jelek (su’ul khatimah).
Buah Konsistensi
Konsistensi iman juga dapat tercermin dalam sikap tsabat (teguh) dan tidak mudah berubah menghadapi perubahan situasi dan kondisi. “Dia tidak ‘ima’ah,” kata Rasulullah, “jika manusia baik dia baik pula, jika manusia dzalim dia ikut dzalim . Tapi sebaliknya, seorang mukmin sejati tidak akan berubah-ubah pendiriannya (muwaththinan), dia berjuang untuk merubah status quo yang dzalim dan ketinggalan zaman.”
Menurut KH. Firdaus A.N, orang yang istiqomah dan konsisten itu selalu setia pada fitrahnya. Tidak berubah asin karena garam, tidak berubah merah karena darah, tidak berubah hitam karena tinta dan tidak berubah kuning karena kunyit.
Layaknya ikan di laut. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun tinggal di laut, dia tetap tawar rasanya, tidak berubah menjadi asin, setia kepada kepribadian dan identitasnya sesuai dengan fitrahnya semula. Ikan hanya akan berubah menjadi asin setelah mati, karena diasinkan manusia dengan garam.
Iman yang sempuraa adalah iman yang mencakup tiga dimensi: Al i’tiqadu bil jinan wal qawlu bil lisan wal ‘amalu bil arkan (keyakinan dalam hati, ungkapan dalam lisan dan diekspresikan dalam amal perbuatan). Konsistensi dan keselarasan ketiga itu mencerminkan tertanamnya sikap istiqomah.
Ia selalu menjaga kesucian hatinya dari keyakinan dan pemikiran yang merusak. Perkataannya teruji kebenarannya tidak mencla-mencle. Perilakunya selalu dalam koridor yang ditentukan Allah dan Rosul-Nya. Banyak hal yang bisa dipetik dari sikap konsisten dan istiqomah ini, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman dalam surat Fushilat (41) ayat 30-32: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan ( memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.
Kamilah pelindung- pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Orang yang istiqomah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang negatif dan tidak pada tempatnya. Takut menghadapi masa depan, takut menyatakan kebenaran, takut mengalami kegagalan dan lain sebagainya. Dia akan hadapi segala rintangan dan ujian dalam perjuangan dengan penuh keberanian dan kepercayaan yang utuh kepada pertolongan Allah.
Ia tidak merasa sedih manakala mendapatkan kesusahan dan tindak kedzaliman akibat memperjuangkan agama Allah ini. Sebaliknya ia tidak akan terjatuh dalam kesombongan dan lupa jati diri manakala memperoleh kesuksesan.
Orang yang istiqomah selalu yakin akan menuai kesuksesan hidup. Yakni dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka. Dan itulah hakikat keberhasilan yang sejati. Wallahualam

Jagalah Empat Permata Ini Agar Bisa Meraih Kebahagiaan Yang Hakiki.

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tien 4-6).

Di antara karunia Allah yang amat sangat berharga dan wajib kita syukuri adalah pemberian-Nya berupa akal, agama, rasa malu dan kemampuan untuk beramal shaleh. Dengan keempat karunia tadi, manusia dengan kehendak-Nya bisa meraih kebahagiaan yang hakiki dan abadi, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Sebaliknya, adalah sebuah tindakan yang bodoh, jika kita sudah dikaruniai empat permata tadi yang tak ternilai harganya, tetapi tidak kita syukuri, bahkan kita rusak dan bahkan disalah gunakan.
Nabi SAW penuntun perihal peri kehidupan kita pernah bersabda : “ Empat permata pada diri anak Adam yang dapat hilang karena empat perkara : 1. Akal, 2. Agama, 3. Rasa malu, dan 4. Amal shaleh. Kemarahan dapat menghilangkan akal (sehat), hasud (dengki) dapat menghilangkan agama, tamak dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah dapat menghilangkan amal shaleh.” (Imam Nawawi Al Bantani).
Mari kita cermati isi hadits tersebut tadi:
1. Karunia berupa akal fikiran.
Karunia Allah yang merupakan permata tak ternilai yang pertama adalah akal. Akal inilah yang membedakan antara kita ummat manusia dengan hewan. Dengan akal, manusia bisa membedakan dan memilih mana yang benar mana yang salah, mana yang baik, mana yang buruk, mana yang membawa manfaat dan mana yang membawa mudarat, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan, mana yang haq dan mana yang bathil.
Semakin tajam akal itu, semakin piawai dalam menentukan sikap. Sebaliknya, jika akal itu dibiarkan tumpul berkarat, tanpa diasah dengan pendidikan atau lainnya, atau dibiarkan terkena virus penyakit hati, maka akal itu semakin tak berfungsi.
Jika akal sampai tak berfungsi, tak ubahnya bagaikan hewan. Ahli Jiwa mengatakan: “Jika tanpa akal, manusia tak ubahnya bagaikan binatang.” Oleh karena itu Al Quran banyak mengingatkan kita untuk menggunakan akal secara maksimal sebagai bentuk syukur atas karunia tersebut. Ini tercermin dal am kata “ Afalaa ta’qiluun (apakah kalian tidak menggunakan akal ?) afalaa tatafakkaruun (adakah kalian tidak berfikir ?) “ dll.
Satu hal yang bisa merusak kesehatan akal adalah marah (ghodhob). Meskipun akal seseorang itu sudah diasah demikian tajam, akan tetapi jika ia tidak mampu mengendalikan nafsu amarahnya, akal sehatnya pun bisa tersisihkan. Bahkan iman pun bisa rusak karenanya.
Rasulullah Saw pernah mengingatkan Mu’awiyah yang bertemperamen tinggi untuk tidak gampang marah, dengan sabdanya: “ Wahai Mu’awiyah, jauhilah olehmu sifat gampang marah, karena marah itu bisa merusak iman, bagaikan pahitnya bratawali yang merusak manisnya madu. “ (HR. Baihaqi).
Pantas jika dalam suatu peradilan, seorang hakim tak boleh memutuskan perkara manakala ia dalam keadaan marah, karena keputusannya pasti tidak akurat.
2. Karunia berupa agama.
Allah SWT menciptakan agama adalah untuk dijadikan pedoman hidup bagi makhluq-Nya yang disebut manusia, karena hanya manusia lah yang diberi akal fikiran, dan dengan itu, hanya manusia yang berakal sehat saja, yang bisa menerima tuntunan hidup tadi. Adapun yang akalnya tak sehat misalnya orang gila, maka mereka tidak dibebani dengan ajaran agama.
“ Agama itu akal, tidak perlu beragama orang yang tak berakal”. Selanjutnya, akal untuk bisa berfikir jernih sesuai tuntunan, patokannya adalah agama, karena sebenarnya agamalah yang menjadi barometer haq dan bathil, benar salah, baik ataupun buruk. Tanpa barometer agama, akal fikiran bisa liar, bagaikan orang buta yang tidak tahu arah.
Seorang Orientalis bernama Arnold Toyn Bee pernah mengatakan: “ Sience without religion is blind Religion without science is lame artinya Ilmu pengetahuan tanpa agama itu buta “ Agama tanpa ilmu pengetahuan itu lemah.
Satu hal yang dapat merusak karunia agama adalah hasud (dengki). Hasud ini akan menimpa siapa pun, meskipun orang yang tekun beragama sekali pun. Oleh karena itu Rasulullah Saw pernah berpesan yang artinya : “Jauhilah oleh kalian hasud, karena sesungguhnya hasud itu akan memakan (pahala) kebaikan, seperti halnya api yang memakan kayu bakar. ” (HR. Abu Dawud)
3. Karunia berupa rasa malu (hayaa’).
M. Hasbi Ash shiddieqy mendefinisikan, “ Malu adalah perasaan undur seseorang sewaktu tampak dari dirinya sesuatu yang membawa ia tercela”.  Rasa malu inilah yang merupakan sendi keutamaan dan dasar budi pekerti mulia. Dengan malu kepada orang lain, orang itu tidak akan berbuat semena-mena yang membuat dirinya malu jika dilihat orang.
Dan jika malu kepada Allah, pasti dia tidak mau melanggar larangan atau mengabaikan perintahNya. Berbagai statemen yang disampaikan Rasul perihal malu ini, di antaranya :
a. “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu. ” (HR. At Timidzi)
b. “Sesungguhnya malu dan iman itu digandengkan dan tak terpisah di antara keduanya. Jika yang satu diambil, yang satu pun terambil pula ” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi).
c. “Jika kamu tidak malu, lakukan apa saja yang kau suka. ” (HR. Al Bukhari).
Adapun hal yang bisa merusak bahkan menghilangkan rasa malu bagi seseorang adalah sifat tamak kepada harta. Semakin seseorang itu tamak,dia semakin tidak tahu malu. Jika sudah tidak tau malu, luntur pula iman yang menghiasi dirinya. Jika sudah demikian, tak ubahnya bagai binatang yang tak tahu malu jalan telanjang di jalan umum.
4. Karunia berupa amal shalih.
Amal shalih juga merupakan permata pemberian Allah yang harus kita syukuri, karena dengan kita beramal shalih, kita akan mendapatkan pahala, di mana pahala inilah yang akan memperberat timbangan kebaikan kita di hari penimbangan amal kelak.
Semakin berat timbangan amal kebaikan kita, semakin gampang langkah kita menuju surga Allah. Sedangkan yang merusak amal shalih adalah ghibah (menggunjing, ngrasani). Semakin banyak kita menggunjing orang lain, semakin habis pahala kebaikan yang sempat kumpulkan. Maka setelah kita beramal shalih, jaga betul agar kita tidak menggunjing orang agar pahala amal shalih kita bermanfaat.
Demikian, semoga ke empat permata karunia Allah tadi bisa kita jaga eksistensinya dengan sebaik baiknya. Amin


Ternyata Malaikat Pun Dapat Mendoakan Kita Orang Orang Yang Beriman

  Biasanya seseorang gembira jika didoakan oleh orang lain, apalagi jika orang yang mendoakan tersebut dianggap memiliki kelebihan dari dirinya dalam hal agama.

Saling mendoakan adalah sunnah Rasulullah Saw, sehingga Beliau pernah mengatakan kepada Para Sahabatnya, “Laa tansaana bi du’aaika ya ukhayya” (Jangan engkau lupakan kami dalam doamu wahai saudaraku).
Namun demikian, bukan hanya Kaum Muslimin yang saling mendoakan satu dengan yang lain, ternyata Malaikat pun dapat mendoakan orang-orang yang beriman. Yaitu apabila syarat dan ketentuannya dipenuhi.
Beriman dan Bertaubat
Informasi tentang ketentuan doa Malaikat berasal dari Allah Ta’ala dan Rasululullah Saw. Allah Azza wa Jalla, Berfirman : Mereka para malaikat yang memikul ArRasy (Singgasana) dan yang berada di sekitarnya melantunkankan pujian kepada Tuhan Nya, beriman kepada Nya dan memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman: “Ya Tuhan kami, Begitu luasnya rahmat dan ilmu Mu, meliputi segala-galanya. Karena itu berilah ampun kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Mu, peliharalah mereka dari siksa Nyala Api Neraka” (QS. Al Mu’min: 7)
Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang doa dan permohonannya selalu dikabulkan Allah. Maka sungguh beruntung jika Malaikat mendoakan Kita. Dalam ayat di atas Allah menjelaskan bahwa para Malaikat pun selalu memuja Allah, senantiasa beriman dan memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang yang senantiasa bertaubat dan mengikuti Jalan Allah.
Dengan kata lain, orang-orang muknmin tidak akan pernah sendirian dalam beribadat kepada Allah. Mereka akan mendapatkan dukungan dan doa para Malaikat.
Adapun menurut Rasululullah Saw setidaknya ada 12 jenis orang yang kebiasaan hidupnya selalu didoakan Malaikat : 
1. Orang yang biasa tidur dalam keadaan wudhu selalu memperbaharui wudhunya di saat batal sehingga ketika menjelang tidur sekali pun dia bersuci lebih dahulu.
“Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersemayan di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si Fulan karena tidur dalam keadaan suci. ”
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat, mereka sudah duduk di Masjid sebelum adzan memanggil.
“Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampuni ia. Ya Allah sayangilah ia “  (H.R. Muslim)
3. Mereka yang berada di shaf depan dalam shalat berjamaah.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan ” (H.R. Imam Abu Dawud)
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada Shalat Berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf” (Shahih At Targhib)
5. Para Malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika Seorang Imam Selesai Membaca Al Fatihah.
“Jika seorang imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ’alaihim waladh dhaalliin maka ucapkanlah oleh kalian ‘aaamiin ’, karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu ” (HR. Imam Bukhari)
6. Seorang yang duduk di tempat shalatnya Setelah Melakukan Shalat.
“Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) untuk salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah, ampunilah dan sayangilah ia”  (HR. Ahmad)
7. Orang-orang yang melakukan shalat Subuh dan Ashar secara berjamaah.
“Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga subuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, “Bagaimana kalian meninggalkan hambaku? mereka menjawab, “Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat” (HR. Ahmad)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan” (HR. Muslim)
9. Orang-orang yang berinfak, yaitu membagikan sebagian rizki yang dia miliki kepada fakir miskin, anak-anak yatim dan orang-orang yang memerlukan bantuan.
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada pada kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak”. Dan malaikat lainnya berkata, “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Orang yang sedang makan sahur yaitu orang yang berniat berpuasa dan memulai puasanya dengan sahur.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” (Shahih Al Targhib)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit dengan niat ikhlas ingin membantu meringankan penderitaannya.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (HR. Ahmaad)
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain seperti para Ustadz dan guru yang ikhlas dalam mendidik murid-muridnya agar berakhlak mulia juga didoakan oleh para Malaikat.
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian, sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi)
Kepada Malaikat Kami Beriman
Iman kepada Malaikat tidak dapat dipisahkan dari Iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Keenam rukun iman saling mengokohkan satu dengan yang lain. Keimanan seseorang kepada Malaikat dapat mengokohkan posisi seseorang dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, meringankan yang sulit dan menghibur di kala duka.
Para Malaikat melakukan pengawasan melekat yang dapat membuat orang-orang yang mengimani pengawasan ini takut kepada Allah, tercegah dari maksiat dan tentu saja mendapatkan nilai (pahala) yang tinggi di sisi Allah. Para Malaikat ini ada yang diberi tugas menjaga orang-orang yang amalnya disenangi Allah, seperti yang dinyatakan Allah dalam hadits riwayat Ad-Dailami berikut ini,
Allah Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi) :  “Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram larangan Ku dan tidak terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing.
Semua itu dilakukan karena Aku. “Demi keagungan dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajah lebih bersinar dari matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepadaKu dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya.
Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. Bagi Ku dia sebagai surga Firdaus yang belum tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya.”
Hadits ini menegaskan bahwa ibadah sholat hendaknya diiringi dengan akhlak mulia yaitu menjaga nafsu dari perbuatan haram dan melakukan ibadah sosial dengan berbagi dan menyantuni orang-orang yang lemah. Inilah syarat ibadah khusus itu diterima di sisi Allah.
Allah mencintai orang-orang yang meninggalkan yang haram, memberi makan orang-orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang-orang yang telanjang, mengasihi orang-orang yang terkena musibah, dan menampung orang-orang yang memerlukan tempat tinggal.

 MACAM2 SABAR.

Kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian sebenarnya memberi pelajaran kepada manusia agar pandai bersikap sabar. Pada sebagian orang, sabar mungkin sulit dilakukan karena sabar sangat berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan nafsu amarahnya, berarti ia belum menerapkan sabar dalam kehidupannya.
Pada dasarnya sifat sabar dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
  1. Sabar dalam menghadapi cobaan.
  2. Sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah.
  3. Sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Pertama, sabar dalam menghadapi cobaan atau ujian (musibah). Setiap cobaan yang diberikan Allah merupakan bentuk cinta kasih Allah kepada hamba-Nya. Setiap cobaan yang datang kepada kita membuka pintu pahala bagi kita. Dan dengan sabar menghadapi setiap cobaan yang datang maka kita akan dengan mudah memperoleh pahala yang telah dijanjikan Allah. Namun bila kita tidak bisa sabar maka yang kita peroleh hanyalah cobaan tersebut tanpa ada pahala yang menyertainya. Hendaklah kita selalu ingat bahwa Allah Maha Mengetahui akan kemampuan setiap makhluk-Nya. Untuk itu Allah tidak akan memberi cobaan kepada seseorang di luar kemampuan orang tersebut. Orang yang cerdas akan selalu berjiwa besar, berpikiran lapang, berjiwa tenang dan tahan menerima cobaan. Mereka terus berusaha dan berpasrah diri pada Allah. Allah berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menghadapi musibah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya seratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara Arasy dan bumi. Allah berjanji akan memberikan jalan keluar bagi orang yang sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini Allah swt. berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ
Artinya: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2-3).
Maksudnya, segala ujian dan cobaan dalam hidup akan berakhir dengan mendapatkan hasil yang terbaik bagi seseorang yang memiliki kesabaran, dan ketakwaan yang teguh kepada Allah.
Kedua, sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Sebagai orang Islam kita memang mempunyai kewajiban menjalankan perintah-perintah Allah. Kita harus sadar bahwa di dalam setiap kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepada hamba-hamba-Nya terdapat hikmah yang baik bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Oleh karena itu, jika kita menjalankan segala apapun perintah-perintah Allah dengan sabar maka kita dapat merasakan nikmat sabar itu sendiri dan setiap ibadah yang kita lakukan akan terasa lebih indah. Allah juga berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya tiga ratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara langit dan bumi. Sabar dan taat dalam menjalankan perintah Allah terdapat dalam firman-Nya:
اِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ اِنَّهُ اَوَّابٌ
Artinya: “Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shad: 44).
Ketiga, sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Akan tetapi jika kita menjauhi hal-hal yang dilarang Allah dengan berat hati maka hal tersebut hanya akan menjadi beban bagi diri kita. Kita seharusnya juga sadar bahwa hal apapun yang dilarang Allah pasti hal tersebut membawa akibat buruk bagi kita jika tidak menjauhinya. Allah juga berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menjauhi dan meninggalkan larangan Allah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya enam ratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara langit ketujuh (langit yang tertinggi) dan bumi yang ketujuh (bumi yang terbawah). Dalam firman-Nya disebutkan:
وَ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ
Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. ali-Imran: 186).
Allah swt. juga memberi tahu kita agar berhati-hati dan tetap bertakwa menanamkan kesabaran dalam hati di saat menghadapi cobaan karena cobaan yang diberikan Allah bukan hanya berupa musibah, harta yang dimiliki juga merupakan cobaan. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
لَتُبْلَوُنَّ فِى اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَفُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا اَذَى كَثِيْرًا
Artinya: “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik.” (QS. ali-Imran: 186).
Dari ketiga macam sabar yang telah diuraikan di atas, yang paling dikenal dalam lingkungan kita sehari-hari adalah sabar dalam menghadapi cobaan (musibah).
Untuk itu, marilah kita membiasakan diri untuk berbuat mulia, membuang jauh-jauh sifat yang hina dan tercela. Mari kita menghiasi pribadi kita dengan watak kemanusiaan yang sempurna, dengan amal perbuatan yang berguna dan bertindaklah dengan sikap ksatria. Semuanya itu dapat kita lakukan jika kita selalu dekat dan memohon petunjuk dari Allah swt. karena hidayah Allah itu akan mendorong diri untuk bermental baja, tidak mudah menyerah, sanggup melakukan hal-hal yang positif dan mampu meninggalkan hal-hal yang negatif, serta sabar dalam menghadapi segala musibah. Sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 153).
Tanam dan pupuklah sifat sabar yang ada dalam diri kita karena dengan kesabaran, kebahagiaan hidup akan dapat kita capai. Dan selalu ingatlah kepada Allah karena Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar yang selalu ingat kepada-Nya. Sabar juga akan mengangkat derajat kemanusiaan menuju taraf yang lebih tinggi.

WAKTU MUSTAJAB DALAM BERDOA

Berdo’a sebagai salah satu komunikasi kita dengan Allah seharusnya dapat dimaksimalkan untuk memohon apapun yang ingin kita minta, karena hanya kepadaNya lah kita menghamba dan meminta. Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya, maka ia pasti membutuhkan tempat untuk mencurahkannya.
Allah akan berada pada posisi terdepan untuk menghilangkan segala kesulitan yang kita alami jika kita mau untuk memohon kepadaNya. Allah sangat mencintai hambaNya yang mau meminta dan berdo’a kepadaNya, sebaliknya Allah akan menghukum seseorang yang meminta dan memohon kepada selain Allah. Ada beberapa waktu yang paling mustajab untuk berdo’a.
Pada sepertiga malam terakhir dan setelah shalat fardlu
Dari Abu Umamah ra, katanya: "Rasulullah saw ditanya: "Manakah doa yang lebih pasti untuk didengar itu-selanjutnya lalu dikabulkan?" Beliau saw menjawab: "Yaitu di tengah malam yang terakhir dan sehabis shalat-shalat yang diwajibkan". (Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan)
Salah satu diantara waktu yang terijabahi untuk berdo’a adalah pada sepertiga malam terakhir, waktu dimana Allah turun ke langit bumi untuk melihat hamba-hambaNya secara langsung. Waktu dimana para setan gencar untuk menebarkan rayuan-rayuan mereka agar terus berlindung di balik selimut mereka. Pada saat inilah Allah akan mengapresiasi hamba-hambaNya yang mampu mengalahkan rayuan setan dan mengerjakan shalat tahajud dengan mengabulkan do’a-do’a mereka.
Ketika sujud
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: "Sedekat-dekat seseorang hamba itu dari Tuhannya ialah dalam keadaan ia bersujud, maka dari itu perbanyakkanlah berdo’a ketika bersujud itu". (Riwayat Muslim)
Dalam keadaan sujud, kita berada pada titik terendah karena kepala yang menjadi bagian paling mulia seorang manusia ditempatkan pada posisi paling bawah. Hal ini menunjukkan bahwa kita sebagai seorang manusia tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan Allah Tuhan pencipta alam, maka sujud sebagai simbol ketundukan kita kepada pencipta. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya karena itu adalah selendang Allah, hanya Allah yang berhak untuk itu.
Waktu berpuasa
Rasulullah saw bersabda: Tiga kelompok yang do’anya tidak tertolak yaitu: orang yang berpuasa sampai berbuka, imam (pemimpin) yang adil, dan do’a orang yang teraniaya. Allah mengangkat do’a itu di atas awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit dan Allah berfirman: Demi keagungan-Ku Aku betul-betul akan menolongmu walaupun sesudah ini. (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Waktu antara adzan dan iqamah
Rasulullah saw bersabda: Tidak di tolak do’a yang dipanjatkan pada waktu antara adzan dan  iqamat (HR.Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad)
Waktu di antara adzan dan iqamah juga menjadi salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdo’a. Sebaiknya waktu-waktu tersebut digunakan untuk berdo’a atau untuk melaksanakan shalat-shalat tathawwu’ atau sunnah dari pada kita gunakan untuk berbincang-bincang yang tidak berguna. Wallahua’lam.

 KUMPULAN DOA

Do’a sayyidul istighfar


وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Syaddad Ibnu Aus Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau)." Riwayat Bukhari.

Do’a memohon perlindungan dari murka


وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ( اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa (artinya = Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari menghilangnya nikmat-Mu berpindahnya keselamatan-Mu kedatangan adzab-Mu yang tiba-tiba dan dari segala kemurkaan-Mu)." Riwayat Muslim.

Do’a agar terhindar dari hutang


وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ اَلدَّيْنِ وَغَلَبَةِ اَلْعَدُوِّ وَشَمَاتَةِ اَلْأَعْدَاءِ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa: "(Artinya = Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari bahaya hutang bahaya musuh dan kemenangan para musuh)". Riwayat Nasa'i. Hadits shahih menurut Hakim.

Do’a ketika pagi dan petang


وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَصْبَحَ يَقُولُ: اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ اَلنُّشُورُ ) وَإِذَا أَمْسَى قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: ( وَإِلَيْكَ اَلْمَصِيرُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ

Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila pagi berdoa: "(artinya = Ya Allah dengan kekuasaan-Mu aku memasuki pagi dengan kekuasaan-Mu aku memasuki petang dengan kekuasaan-Mu aku hidup dengan kekuasaan-Mu aku mati dan kepada-Mu-lah tempat kembali)." Bila petang hari beliau juga membaca doa tersebut namun beliau menambahkan: "(Artinya = Dan kepada-Mu-lah tempat berpulang)". Riwayat Imam Empat

Do’a memohon kebaikan dunia akhirat


وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَبَّنَا آتِنَا فِي اَلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اَلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ اَلنَّارِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Anas berkata: Kebanyakan doa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ialah: "(artinya = Ya Tuhan kami berilah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari api neraka)." Muttafaq Alaihi.

Do’a terhindar dari sifat boros


وَعَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَدْعُو: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ اَلْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Musa al-Asy'ary Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa: "(artinya = Ya Allah ampunilah dosaku kebodohanku keborosanku dalam urusanku dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah ampunilah diriku karena kesungguhanku senda gurauku kesalahanku dan kesengajaanku semuanya itu ada padaku. Ya Allah ampunilah diriku dari dosa yang telah dan aku lakukan apa yang aku sembunyikan apa yang aku tampakkan dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau yang memajukan Engkau yang mengundurkan dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu)." Muttafaq Alaihi.

Do’a memohon ilmu yang bermanfaat


َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: اَللَّهُمَّ اِنْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَارْزُقْنِي عِلْمًا يَنْفَعُنِي ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَالْحَاكِمُ

Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah membaca doa: "(artinya = Ya Allah manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku ajarilah aku dengan apa yang bermanfaat bagiku dan limpahkanlah rizqi ilmu yang bermanfaat bagiku)." Riwayat Nasai dan Hakim.
Sumber: Kitab Bulughul Maram Karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaani
Jika Anda ingin awet muda lebih lama dan cantik, inilah kebiasaan yang harus dihindari.

1. Pakai Kosmetik Kadaluwarsa
Memakai kosmetik pada dasarnya sama seperti makanan atau minum obat, tidak boleh sembarangan karena ada masa kadaluwarsanya. Banyak wanita tidak memedulikan hal ini, sehingga tetap memakai kosmetik yang masih bagus, padahal sudah lewat masa pakainya. Buang kosmetik lama Anda agar kulit tidak rusak.
2. Tidur Tanpa Bersihkan Wajah
Saat tidur, kulit mengalami regenerasi. Maka sangat tidak baik jika tidur dengan makeup masih menempel di wajah. Kulit akan kusam, mudah berjerawat, komedo dan iritasi. Selalu bersihkan wajah sebelum tidur.
3. Memoles Ulang Bedak
Memoles ulang bedak di siang hari biasanya dilakukan agar wajah tidak terlihat berminyak. Hal ini tidak dianjurkan, karena wajah yang sudah beberapa jam terkena makeup biasanya bercampur keringat dan bakteri, sehingga memoles ulang bedak hanya akan menyumbat pori. Akibatnya, kulit mudah berjerawat dan iritasi.
4. Sering Scrub
Scrub memang bagus untuk membantu mengangkat sel kulit mati, namun scrub yang terlalu sering akan membuat kulit 'tipis' dan semakin mudah iritasi. Jika Anda ingin scrub, lakukan maksimal 2 kali dalam seminggu. Beri jangka waktu 3 hari karena kulit butuh regenerasi.
5. Pakai Kosmetik Abal-Abal
Saat memilih kosmetik, sangat penting memilih kosmetik yang terdaftar dan asli. Memakai kosmetik abal-abal, walau harganya mahal, itu tetap berbahaya untuk kulit. Biasanya kosmetik abal-abal ini ini adalah krim pemutih wajah. Waspadalah, jangan sampai keinginan untuk cantik justru membuat Anda sakit.
Semoga informasi ini bisa membuat Anda cantik lebih lama.

info,

[DOA] Mohon dimudahkan segala urusan

bismillahhiRRahmaniRRahim

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
(QS. Al Baqarah, 2 : 286)
رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Robbanaa aatinaa minladunka rohmataw wahayya lanaa min amrinaa rosyada
“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (Q.S. Al-kahfi : 10)

[DOA] Mohon Dijadikan Hamba Yang Bersyukur


رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“..Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilniy birahmatika fiy ‘ibadikashshaalihiin..”
“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Q.S. An-Naml : 19)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“..Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihliy fii dzurriyyatiy inniy tubtu ilayka wa inniy minal muslimiin..”
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf : 15)

Firman Allah SWT:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 152)
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 172)
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran, 3 : 145)
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim, 14 : 7)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nahl, 16: 18).
“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml, 27 : 40)
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash, 28 : 73)
“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabuut, 29 : 17)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. Luqman, 31 : 12)
Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan?
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
tiga puluh satu kali Allah SWT menyatakan hal ini dalam Al-Qur’an…

[DOA] Tatkala Mengalami Kesedihan

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Yunus, 10 : 64-65]
Doa dan Adab Tatkala Mengalami Kesedihan yang Mendalam
Kesedihan biasanya timbul karena beberapa faktor :
1. Kurangnya iman dan tawakkal kepada Allah
2. Usaha yang tidak atau belum berhasil
3. Kehilangan sesuatu yang amat dicintainya
4. Cita-cita yang tidak kesampaian
5. Banyaknya hutang yang sulit dibayar
6. Banyaknya tanggungan keluarga yang amat membebani dirinya
7. Terbelenggu orang lain
8. Ketinggalan dalam beramal saleh
9. Kesempatan yang telah disia-siakan
10. Merasa jauh dari Allah, dll.
Bagi orang beriman yang tawakkal, kesedihan tidak boleh berkelanjutan. Karena orang beriman yakin bahwa segala apa yang dimiliki manusia pada hakekatnya hanya titipan sementara dari Allah, yang suatu saat pasti akan dicabut kembali.
Ketika kita mengalami kesedihan yang mendalam dan berkepanjangan, Nabi SAW menganjurkan untuk membaca doa-doa di bawah ini :

Jika kita merasa susah dan sedih, Nabi menganjurkan membaca doa:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Laa ilaha ilallaahul ’azhiimul haliimu laa ilaaha ilallahu rabuul ’arsyil ’azhiim, laa ilaaha ilallaahu rabbussamaa waati wa rabbul ardhi wa rabbal arsyil kariim
“Tiada tuhan melinkan Allah Yang Maha Besar lagi Maha penyantun. Tiada tuhan melainkan Allah Pengatur ‘Arsy Besar. Tiada tuhan melainkan Allah Pengatur langit, Pengatur bumi dan Pengatur ‘Arasy mulia.” (H.R. Bukhari-Muslim)
Jika kita sedang menghadapi urusan penting, Nabi menganjurkan untuk membaca

يا حي يا قيـوم برحمتك أستغيث
Yaa hayyu yaa qayyuum. Birahmatika Astaghist
“Ya Allah yang Maha Hidup, Ya Allah yang Maha Mengatur. Kumohon pertolongan dengan rahmat-Mu” (H.R. Tirmidzi)

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa ilaha illa anta. Subhanaka innii kuntum minazhaalimiin
“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”(Q.S.Al-Anbiya : 87)

اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك , أو أنزلته في كتابك, أو علمته أحدا من حلقك, أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرأن ربيع قلبي ونور صدري وجلاء حزني وذهب همي
“Ya Allah, aku ini adalah hamba-Mu, putera dari hamba-Mu, selanjutnya putera dari umat-Mu. Ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, menerima segala putusan-Mu, dan memandang adil apa juga hukum-Mu. Aku mohon denganasma apa juga yang Engkau sebutkan terhadap diri-Mu, atau Engkau turunkan pada kitab-Mu, atau pernah Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau Engkau simpan dalam perbendaharaan ghaib dari ilmu-Mu, agar Al-quran itu Engkau jadikan kembang hatiku, cahaya dadaku, pelenyap duka dan penghilang susahku.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Adab Agar terhindar dari Kesedihan
1. Meluruskan kembali keyakinan bahwa Allah-lah pengatur segala ciptaan-Nya
2. Kita yakini bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya
3. Kita yakini bahwa segala ujian pasti untuk meningkatkan keimanan, menghapus dosa, meninggikan derajat, dan mendekatkan hamba-Nya ke sisi-Nya.
4. Kita yakini bahwa setiap orang sudah diqadar rezkinya, ada yang diluaskan dan ada yang disempitkan
5. Keluasan dan kesempitan rezki di dunia bukan ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah
6. Setiap jatah rezki seseorang pasti akan diberikan oleh Allah sebelum orang itu dicabut nyawanya, oleh karena itu tidak boleh berikhtiar dengan terlalu memaksakan diri dan usaha yang tidak halal. Sabda Nabi SAW :

إن روح القدوس نفث في روعي أنه لن تموت نفس حتى تستكمل رزقها و أجلها
فاتقوا الله و أجملوا فى الطلب
“Sesungguhnya malaikat Jibril berbisik dalam hatiku, bahwa seseorang tidak akan mati sehingga ia menyelesaikan (jatah) rezki dan ajalnya. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan baik-baiklah dalam berusaha mencarinya.” (H.R. Ibnu Hibban)
7. Bagi orang beriman, ketenteraman hati hanya ada pada dzikir kepada Allah. Maka tiada yang dicari selain mendekatkan diri kepada Allah
8. Bagi orang beriman, menderita dalam ketaatan adalah sebuah kenikmatan hidup.
9. Mendawamkan shalat malam, shalat hajat dan shaum sunnat
10. Mendawamkan doa-doa di atas setiap saat, terutama ba’da shalat fardhu, shalat tahajjud dan shalat hajat, sebagaimana janji Allah melalui Rasul-Nya, Allah akan menghilangkan kesedihan dan menyelesaikan segala urusan.
11. Jika kesedihan itu karena hutang-hutang yang susah terbayarkan, maka Nabi mengajarkan doa berikut:

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك
“Ya Allah, cukupilah kebutuhanku dengan yang halal dengan menghindarkan yang haram, dan jadikanlah daku berkecukupan demi kemurahan-Mu daripada selain-Mu” (H.R. Tirmidzy)

اللهم إني أعوذبك من الهم والحزن, و أعوذبك من العجز والكسل,
وأعوذبك من الجبن والبخل وأعوذبك من غلبة الدين وقهر الرجال
Allahumma inni a’uudzubika minal hammi wal hazan, wa a’uudzubika minal ‘ajiz wal kasali, wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli wa a’uudzubika min ghalabatid dayni wa qahrir rajali
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan duka, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari hutang yang tak terbayar dan dari belenggu orang lain.” (H.R. Abu Umamah dan Abu Sa’id)

[Rahsia dibalik doa kesedihan]

  • Rasulullah SAW. telah mengajar umatnya supaya berdoa dan memohon kepada Allah apabila mereka sedang ditimpa oleh kesedihan. Sesuatu kesedihan lazimnya adalah timbul setelah seseorang ditimpa suatu musibah.
  • Imam Ibnu Katsir menafsirkan surat At Taghaabun ayat 11 Barangsiapa yang ditimpa suatu musibah, lalu dia menyedari bahawa musibah tersebut adalah qadha dan qadar Allah, oleh itu dia dapat sabar menghadapinya dan reda menerimanya, niscaya Allah akan memberi hidayah (petunjuk) kepada hatinya dan mengganti apa yang luput itu dengan hidayah kepada hatinya serta keyakinan yang benar. Malahan terkadang gantian dari Allah itu lebih baik daripada apa yang luput. (Tafsir Al Quran Al ‘Azim 4/375).
  • Imam Ibnul Qayyim berkata: “Hendaknya kita menyedari bahawa musibah yang menimpa kita bukanlah untuk memusnahkan kita, sesungguhnya kehadiran musibah tersebut hanyalah untuk menguji sampai dimana kesabaran kita, dengan demikian barulah jelas apakah kita layak menjadi WALI ALLAH ataupun tidak”.
  • Allah berfirman dalam surah Fathi Maksudnya: Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
[dOa untuk kesedihan yang mendalam]

[dOa beRi kekuatan hadapi kesukaRan]

  • Doa adalah ibadat dan tanda pengabdian diri kepada Allah kerana memohon kepada-Nya membuktikan pengiktirafan bahawa hanya Allah yang Maha Berkuasa memenuhi segala hajat manusia. Amalan berdoa disuruh Allah dalam firman Surah Ghafir, ayat 60.
  • Doa juga boleh menjadi kekuatan seterusnya mendatangkan kemudahan kepada umat Islam untuk berhadapan dengan kesukaran seperti sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Doa itu senjata orang mukmin.” Kita digalakkan meminta apa saja kepada Allah dengan bahasa yang mudah, namun perlu menunjukkan kesungguhan melalui usaha mencari ayat doa yang sesuai memenuhi kehendak hajat yang ingin disampaikan kepada-Nya. Sebenarnya kualiti doa itu dipengaruhi kaedah doa, kesungguhan serta keikhlasan orang yang mengucapkannya.
  • Sebaik-baik doa disertakan dengan kesungguhan kita memastikan hajat dipinta dimakbulkan Allah. Doa akan dimustajabkan Allah apabila menepati waktunya, adabnya serta berpandukan kepada munajat nabi, rasul dan golongan solihin.
[selaRik dOa tentang deRita]

  • Nabi Ayyub memaknai sebuah penderitaan. Ia memandang rasa sabar kita seharusnya berbanding lurus dengan rasa syukur kita. Penderitaan yang kita terima, selayaknya diredam dengan betapa besarnya anugerah yang telah kita dapatkan.
  • Viktor Frankl, seorang pakar psikolog humanis, dalam buku Man’s Search For Meaning ¬yang dikarangnya, ia menuliskan, “Jangan biarkan penderitaan memicu munculnya gejala penyakit jiwa, tetapi biarkan ia memicu munculnya pencapaian seseorang.”
  • Pada doalah segala yang tidak mungkin bisa terjadi. Nabi saw. sendiri bersabda, “Takdir tidak ditolak kecuali oleh doa, dan tidak ada yang menambah umur manusia kecuali kebaikan yang dilakukan olehnya….”
[sebuah dOa ketika hampiR putus asa]

  • Cerita Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan paus. Hanya ada satu pekerjaan yang dilakukannya: berzikir dan berdoa kepada Allah agar dilepaskan dari ujian berat itu. Dan Yunus pun berdoa, “La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazhalimin.” meski doa ini milik Yunus, tetapi doa ini juga milik seluruh kaum mukmin. Untuk itu, jika seorang mukmin dalam penderitaan dan kesulitan, kemudian berdoa dengan ini, maka Allah akan mengabulkanya.
  • Sebagai manusia yang imannya acapkali berfluktuasi tak menentu, penulis menghikmati dua poin penting:Pertama, Allah menguji tingkat kesabaran kita –yang seharusnya tak berbatas (soalnya sebagian kita sering komentar ‘kesabaran kan ada batasnya’)– hingga sebuah jawaban yang dijanjikan-Nya itu datang menghampiri kita. Kedua, penderitaan dan duka sejatinya bukan sebuah keputusan yang ditetapkan Allah. Ia bukan datang dari atas sana. Ia ada di dalam diri kita. Ia adalah realitas (kenyataan) subyektif kita.
[stRategi mengatasi kegundahan hati]

  • Betapa pentingnya posisi hati dalam tubuh manusia, tidak hanya sekedar daging tetapi juga penentu aqidah, penentu budi pekerti dan penentu keputusan terbesar seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits Arbain Nawawiyah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda,yang artinya“Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” (H.R Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darani).
  • Kegundahan hati yang disebabkan oleh problematika hidup yang penuh dengan konflik, persoalan dan tantangan bisa menyebabkan hati kehilangan cahaya-Nya dan nurani kebaikan sehingga perlu segera ditemukan terapinya. Olehnya Allah yang Maha Ar-Rahman dan Ar-Rahim telah memberikan solusi-solusi kegundahan hati dengan obat mujarab yaitu Al-Quran Karim.
  • Kenapa Aku Diuji? [QS. Al-Ankabut: 2-3], Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang Aku Idam-Idamkan? [QS. Al-Baqarah ayat 216], Kenapa Ujian Seberat Ini? [QS. Al-Baqarah ayat 286], Bagaimana Menyikapi Rasa Frustasi? [QS. Al-Imran ayat 139], Sungguh, Aku Tak Dapat Bertahan Lagi…!!!!! [QS. Yusuf ayat 87], Bagaimana Aku Harus Menghadapi Persoalan Hidup ? [QS. Al-Imran ayat 200], Apa Solusinya? [QS. Al-Baqarah ayat 45-46], Siapa Yang Menolong Dan Melindungiku? [QS. Ali Imran: 173], Kepada Siapa Aku Berharap? [QS. At-Taubah ayat 129], Apa Balasan Atau Hikmah Dari Semua Ini? [QS. At-Taubah ayat 111]
[nikmat...begitu banyak yang telah teRlewatkan tanpa mensyukuRinya]

  • Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Naudzubillah min Dzalik.. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. Padahal Allah selalu baik kepada saya.
[dusta yang mana lagi… ? ]

  • Dalam Surat ar-Rahman adalah surat ke 55, Allah menggunakan kata “dusta”; bukan kata “ingkari”, “tolak” dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya. Dusta berarti menyembunyikan kebenaran.
[tentang nikmat]

  • Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan. ”Dan nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang dapat engkau dustakan??”, Nikmat Sehat yaa Qowi, Nikmat waktu luang yaa Muhshi, Nikmat masa muda yaa Jalil, Nikmat keindahan yaa Badii’, Nikmat ilmu yaa Aliim, Nikmat rezeki yaa Ghani’, Nikmat mendengar yaa Samii’, Nikmat melihat yaa Bashir, Nikmat iman yaa Allah… ah, kami malu padaMu Allah..
[beRpRilaku baik melalui ucapan, peRbuatan dan segala bentuk al-ma'Ruf]

  • Diantara sarana untuk menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kegelisahan adalah : Berprilaku baik kepada orang lain melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma’ruf (kebajikan). Semua itu adalah kebaikan untuk diri dan tindak kebajikan untuk orang lain.
  • Suatu kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan menangkis keburukan. Dan bahwasanya orang mu’min yang hanya berharap pahala Allah akan dianugrahi olehNya pahala yang agung. Termasuk pahala agung itu adalah hilangnya kegundahan, kesedihan, keruwetan hati dan semacamnya.
[satu dOa ketika gelisah meRuyak]

  • Kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif
  • Bila seseorang melihat kejadian pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif.
  • Menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.
  • Kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan Sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di lidahnya, di hatinya.
[DOA] mOhOn dimudahkan segala uRusan

[DOA] Dijadikan Husnul-Khatimah

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Hadiid, 57 : 3-4)
Sebaik-baik umur adalah yang dipanjangkan umur tetapi penuh dengan taat kepada Allah dan amal saleh. Seburuk-buruk umur adalah yang panjang umurnya tetapi penuh dengan dosa dan maksiyat kepada Allah. Orang yang akan selamat di alam akhirat adalah yang selamat di alam kubur. Orang yang selamat di alam kubur adalah orang yang selamat ketika di akhir hidupnya. Akhir hidup yang baik sulit didapat jika kita sehari-harinya tidak taat kepada Allah dan taat kepada Rasul. Oleh karena itu, supaya akhir hidup kita menjadi baik (husnul-khatimah) maka mulai sekarang kita harus menjadi orang yang taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan selalu beramal saleh. Orang yang doanya akan dimakbul oleh Allah adalah mereka yang beriman, taat, mengamalkan sunnah Rasul, banyak beramal saleh, banyak berjasa kepada orang lain dan menjauhi dosa dan maksiyat kepada Allah. Mintalah kepada Allah untuk akhir hidup kita yang baik dengan doa-doa di bawah ini :
Di antara doa-doa yang perlu didawamkan adalah :
هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
Hablii hukmaw wa al hiqniy bish shoolihiin
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh” (Q.S. Asy-Sy’araa: 83)
اللهم اجعل خير عمري أخره و خير عملي خواتيمه و خير أيامي يوم لقائك
Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa’ika
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan (jadikanlah) sebaik-baik hariku yaitu hari ketika aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat)” (H.R. Ibnus Sunny)

اللهم اختم لنا بحسـن الخاتمة ولا تختم علينا بسـوء الخاتمة
“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul-khatimah (akhir yang baik), dan jangan Kau akhiri hidup kami dengan suu-ul-khatimah (akhir yang buruk)”
Adab Supaya Dikaruniai Husnul Khatimah
1. Sebaik-baik umur adalah umur yang panjang dan penuh dengan amal saleh. Dan seburuk-buruk umur menurut Allah adalah yang panjang umurnya tetapi diisi dengan dosa dan maksiyat kepada Allah.
2. Keadaan di akhir hayat seseorang bergantung kepada amalan sehari-hari. Oleh karena itu, isilah hari-hari kita dengan selalu meningkatkan iman dan amal saleh.
3. Selain berusaha untuk selalu meningkatkan ibadah fardhu dan sunnat, maka perlu memperbanyak amalan ihsan, yaitu amalan yang memberi kebaikan kepada orang banyak, baik berupa ajakan untuk kembali kepada Allah (dakwah ilallaah), menyebarkan ilmu, menyebarkan kasih sayang, menyebarkan amal saleh, dan selalu tawa shaubil wa tawaa shaubish-shabr.
4. Tidak meminta mati kacuali karena telah terjadi fitnah yang mengancam keselamatan diri dan agamanya.
5. Jangan sekali-kali berfikir untuk mengakhiri hidup dengan jalan pintas karena adanya tekanan hidup yang berat. Orang yang mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas (bunuh diri) tidak akan diterima amalnya dan dipastikan dia akan masuk neraka.
6. Ajal adalah sebuah misteri, merupakan rahasia Allah. Bisa datang secepat kilat, tetapi bisa tidak datang-datang walaupun telah dinanti-nantikan setiap saat. Namun jika ajal telah datang, tidak bisa ditunda atau dimajukan walaupun sedetik.
7. Mendawamkan doa untuk dijadikan orang yang husnul-khatimah pada setiap akhir shalat fardhu.
8. Selalu menumbuhkan perasaan khauf dan rajaa (takut dan harap), yaitu takut akan tidak diampuninya dosa-dosanya dan berharap bahwa Allah itu Maha Rahman dan Rahim yang akan selalu memberikan rahmat kepada orang-orang yang dikehendakinya.
9. Ketika sudah ada tanda-tanda kan dipanggil oleh Allah, perbanyaklah membaca kalimat thayyibah, karena siapa yang ucapan terakhirnya adalah Laa Ilaaha illallah orang itu dijamin masuk sorga.
Links:
[tanda-tanda husnul khatimah]

  • Tanda – tanda Husnul Khatimah: [1] Mengucapkan syahadat menjelang kematiannya, [2] Meninggal dalam keadaan berkeringat di dahi (keningnya), [3] Meninggal pada malam Jum’at atau siangnya, [4] Mati syahid di medan jihad, [5] Mati sebagai tentara di jalan Allah, [6] Meninggal dengan sebab sakit tha’un (pes/sampar), [7] Meninggal dengan sebab sakit perut, [8] Meninggal karena tenggelam, [9] Meninggal karena keruntuhan bangunan, [10] Seorang wanita yang meninggal di dalam masa nifasnya yaitu meninggal karena melahirkan anaknya, [11] Meninggal dengan sebab terbakar, [12] Meninggal dengan sebab sakit dzatul jambi (radang selaput dada), [13] Meninggal dengan sebab sakit paru-paru (TBC), [14] Meninggal dalam rangka mempertahankan harta yang akan dirampas, [15-16] Meninggal dalam rangka mempertahankan agama dan jiwa, [17] Mati sebagai murabith (pasukan yang berjaga di daerah perbatasan) di dalam perang di jalan Allah, [18] Meninggal di atas amalan shalih.

[husnul khatimah]


  • Husnul khatimah tidak selalu bisa dilihat dari amaliah keseharian kita.
  • Nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk tidak jemu dalam mengerjakan perbuatan baik dan tidak menyombongkan amal baik kita. Karena, belum tentu amal baik kita diterima. Untuk itu, kita mesti memiliki dua sikap: sikap takut yang besar pada Allah dan sikap yang membentuk tekad untuk terus beramal sebaik mungkin.
  • Orang yang cerdas adalah orang yang sudah memperhitungkan sendiri amal-amal yang dilakukannya, sebelum Allah memperhitungkan amal-amalnya itu di akhirat kelak. Ia takut akan akibat dari dosa-dosanya, sebelum dosa-dosanya itu menjadi penyebab kehancurannya.
[tanda-tanda husnul khatimah]


[dzikRul maut]


  • Ingatlah kematian. Demi Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.(Rasulullah SAW).
  • Sehalus-halus kehinaan di sisi Allah adalah tercerabutnya kedekatan kita dengan-Nya. Awalnya terlihat dari menurunnya kualitas ibadah. Ilmu yang dapat membuatnya takut kepada Allah tidak bertambah. Maksiat pun mulai dilakukan. Kalau ibadah sudah tercerabut satu persatu, maka inilah tanda mulai tercerabutnya hidayah dari Allah.
  • Sahabat Hudzaifah berkata lirih, “Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu.
[kematian !!!! siap menjemput]

  • Ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau su’ul-khotimah.
  • Husnul-khotimah adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Alloh dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa.
  • Su’ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka secara kekal kalau tidak diampuni oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Sebab-sebab su’ul-khotimah secara ringkas antara lain adalah perasaan ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan atau perkara dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallAllohui ‘alaihi wa sallam, menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.
  • Kita diperintahkan untuk beramal sholih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman, Alloh akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Alloh menghindarkan kita dari jalan yang celaka.
[kematian dan alam kubuR]

  • “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati”. Kerana itu kita jangan terlalu asyik dengan kehidupan dunia ini sehingga lalai dan lupa akan akhirat, sedangkan akhirat itulah tempat kekal abadi.
  • Sebenarnya tanda-tanda orang yang mati dalam husnul khatimah itu boleh dilihat semasa hayat atau hidup seseorang itu, iaitu mereka taat dan patuh kepada perintah Allah Subhanahu Wataala dan menjauhi larangan-Nya, mengamalkan perkara berkebajikan dan menjauhi kemaksiatan.
  • Faktor penyebab seseorang itu tergolong dalam golongan yang mendapat suul khatimah: [1] : Mengabaikan ibadat sembahyang, [2] Minum arak, [3] Derhaka kepada ibu bapa, [4] Menyakiti orang Islam.
  • Kubur tempat singgah sementara sebelum tibanya Hari Akhirat. Itulah tempat yang akan menjadi Taman Syurga bagi orang-orang yang beriman, tetapi menjadi lubang Neraka bagi orang-orang yang jahat yang ingkar perintah Allah Subhanahu Wataala dan yang menyekutukan Allah Subhanahu Wataala.
[[keluaRga-islam] takut mati su’ul khatimah]

  • Kebanyakan orang-orang yang mati suul khotimah disebabkan karena ia mengabaikan shalat fardhu, zakat, suka memecah-belah kaum muslimin, suka mengurangi takaran dan timbangan, suka menipu kaum muslimin, menyusahkan dan mengelincirkan mereka, suka mengaku-ngaku sebagai wali Allah atau juga mengingkari para wali-Nya, dan melakukan perkara-perkara yang keji lainnya. Selain itu mereka adalah para ahli bid’ah dalam agama, yang menanamkan rasa ragu-ragu kepada Allah dan Rasul-Nya serta keberadaan hari akhir.
  • Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
[kRiteRia khusnul khOtimah]


[DOA] Adab membaca Al-qur’an + cara menghafal Qur’an

“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?”
[QS. Al Waaqi'ah, 56 : 77-81]
Setelah membaca Qur’an , bacalah doa berikut:

اللهم ارحمنى بالقرأن واجعله لى إماما و نـورا و هدى ورحـمة. اللهم ذكرنى منه ما نسـيت وعلمني منه ما جهلت وارزقنى تلاوته أناء الليل و أطراف النهار واجعله لى حجة يا رب العالمـين
“Allahummar hamnii bil qur’aan waj’alhu lii imaamaaw wa nuuraw wa hudaw wa rahmah. Allahumma dzakkirnii minhumaa nasiita wa ‘alimna minhuma jahiltu wardzuknii tilaawatahu anaa allayli wa athraafan nahaari waj’alhulii hujjatallana laa hujjata yaa rabbil ‘aalamiin..”

“Ya Allah, rahmatilah aku dengan (barakah) Al-Quran. Jadikanlah ia pimpinan bagiku, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah aku dengan (melalui) Al-Quran apa-apa yang aku terlupa; ajarkan kepadaku melaluinya apa-apa yang aku tidak tahu; berilah aku kefahaman dari pembacaannya pada waktu malam dan tepian siang. Jadikanlah dia bagiku hujjah, Ya Tuhan semesta alam.”
(H.R. Abu mansyur dari Abi Dzar )
Adab Membaca Quran
1.Disunnahkan berwudhu
2.Menghadap kiblat
3.Ada sikap penghormatan hati untuk :
a.Mengagungkan dan memuliakan Al-Quran,
b.Membenarkan dan meyakini
c.dan berniat mengamalkan Al-Quran
d.berniat untuk menyampaikan/mengajarkan lagi kepada orang lain
4.Memilih tempat yang bersih
5.Disunnahkan membaca Ta’awwudz pada permulaan bacaan.
Firman Allah :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (Q.S. An-Nahl : 98)
6.Sebagaimana memulai setiap perkataan dan perbuatan yang baik yang lain, maka memulai membaca Al-Quran pun dengan membaca Basmallah.
7.Sabda Nabi SAW :


كل أمر لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمـن الرحـيم فهو أجذم
Setiap perkara (amalan) yang tidak dimulai dengan membaca Bismillahirrahmanirrahiim, maka terputus berkahnya (bagaikan anggota badan yang terkena kusta) (H.R. Ahmad, Nasai, dan Ibnu Mardawaih)
8.Membaca dengan tartil dan tajwid yang benar
9.Berusaha untuk menangis atau pura-pura menangis
10.Membaca dengan suara merdu
11.Boleh membaca jahar (dikeraskan) tetapi lebih baik dipelankan (terdengar oleh sendiri)
12.Memenuhi hak-hak Al-Quran
13.Tidak memotong bacaan dengan kegiatan lain
14.Al-Quran ditaruh di tempat yang dialas tinggi
15.Tidak menjadikan Al-Quran untuk bantal


[kewajiban membaca al-quRan]

  • Membaca Al-Quran Al-Kariem merupakan kewajiban tiap muslim, paling tidak di dalam shalat. Yaitu surat Al-Fatihah yang wajib dibaca saat melaksanakan ibadah shalat 5 waktu.
  • Dalil/perintah untuk membaca Al-Quran: “..Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan..” [QS Al-Muzzammil: 1-4], “..Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab dan dirikanlah shalat..” [QS Al-Ankabut: 45], “..karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an..” [QS Al-Muzzammil: 20], “..Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu..” [Al-Qiyamah:17-18], “..Barang siapa membaca satu huruf dari Quran, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat..” [HR Tirimizy dan Baihaqi].
  • Bila terjemahan Al-Quran itu dibaca, tidak mendatangkan pahala secara khusus. Berbeda dengan teks aslinya dalam bahasa Arab yang mendatangkan pahala.
[al-quR’an beRbicaRa tentang al-quR’an]

  • Penjelasan keagungan dan kemuliaan Al-Qur’an: [1]. Al-Qur’an Merupakan Obat dan Rahmat [QS. 17:82], [2]. Al-Qur’an adalah Petunjuk dan Cahaya [QS. 5:16], [3]. Al-Qur’an Merupakan Kabar Gembira bagi Orang-Orang Beriman [QS. 17:9], [4]. Al-Qur’an Merupakan Hikmah yang Amat Agung [QS. 3:58], [5].Al-Qur’an Merupakan Peringatan dan Pelajaran [QS. 50:45, 10:57], [6]. Al-Qur’an adalah Ruh dan Kehidupan, [7]. Al-Qur’an Merupakan Samudra Ilmu Pengetahuan dan Penjelasan [QS. 6:38, 18:54, 16:89] [8]. Allah Telah Bersumpah dengan Al-Qur’an dan Menyifatinya dengan Kemuliaan [QS. 50:1, 47:24].
  • Keutamaan Mempelajari Al-Qur’an dan Mengajarkannya: “Orang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Al-Bukhari).
  • Keutamaan Membaca Al-Qur’an: QS. 35:29, “Bacalah oleh kalian Al-Qur’an, sesung-guhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi yang membacanya.” (HR. Muslim), “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka dia bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata serta ia mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih).
  • Rasulullah juga bersabda tentang orang yang tidak pernah membaca Al-Qur’an, “Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak terdapat sesuatu dari Al-Qur’an, ibarat rumah kosong dan rusak.” (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hasan Shahih”).
  • Adab-Adab Membaca Al-Qur’an: [1]. semata-mata karena Allah, [2]. Bersuci dan bersiwak sebelum membaca Al-Qur’an, [3]. Jangan membaca Al-Qur’an di tempat-tempat kotor, seperti kamar mandi/tempat wudhu dan jangan membacanya dalam keadaan junub, [4]. Memulai membaca-nya mengucap ta’awudz, [5]. Membaca basmallah pada setiap permulaan surat, kecuali surat At-Taubah, [6]. Membaguskan bacaan sesuai kemampuan, [7]. Bersujud ketika melewati ayat-ayat Sajadah, [8]. Menghentikan bacaan ketika keluar angin, dan merasa ngantuk, [9]. Membaca dengan tartil dengan memperhatikan hukum-hukum tajwid, [10]. Membaca Al-Qur’an dengan niat untuk mengamalkannya, [11]. Disunnahkan bagi yang membaca Al-Qur’an, ketika melewati ayat-ayat tentang rahmat supaya memohonnya kepada Allah, dan berlindung kepada-Nya tatkala melewati ayat-ayat adzab.
  • Bentuk sikap menjauhi Al-Qur’an, di antaranya sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayim: 1. Tidak mau mendengarkan, meng-imani dan perhatian terhadapnya, 2. Tidak mau mengamalkannya, dan tidak menerima apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkan, 3. Tidak mau berhukum dan memu-tuskan perkara dengannya, baik dalam masalah ushul (pokok) agama maupun cabang-cabangnya, 4. Tidak mau mentadaburi, memahami serta mempelajari Al-Qur’an, 5. Tidak mau mempergunakannya sebagai penyembuh dan obat bagi berbagai penyakit hati.
[adab teRhadap al-quRan]

  • Setiap muslim harus meyakini kesucian Kalam Allah, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). Al-Qur’anul Karim itu Kalam Allah yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Al-Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Allah Ta’ala.
  • Wajib bagi kita menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an dan meng-haramkan apa yang diharamkannya. Diwajibkan pula beradab dengannya dan berakhlaq terhadapnya.
  • Adab-adab membaca Al-Qur’an: [1] Membacanya dalam keadaan yang sempurna, suci dari najis, dan dengan duduk yang sopan dan tenang. [2] Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca. [3] Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’. [4] Agar membaguskan suara di dalam membacanya. [5] Dimulai dengan Isti’adzah. [6] Berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalamnya. [7] Tidak mengganggu orang yang sedang shalat, tidak perlu membacanya dengan suara yang keras. Bacalah dengan suara yang lirih atau dalam hati secara khusyu’. [8] Jika ada yang membaca Al-Qur’an, maka dengarkanlah bacaannya itu dengan tenang. [9] Membaca Al-Qur’an dengan saling bergantian. [10] Berdo’a setelah membaca Al-Qur’an.
  • Setiap orang Islam wajib mengatur hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan harus dipelihara kesucian dan kemuliaannya, serta dipelajari ayat-ayatnya, dipahami dan dilaksanakan sebagai konsekuensi kita beriman ke-pada Al-Qur’an. (Abu Habiburrahman)
[disunnahkan mempeRbanyak membaca al-quR'an]

  • Allah telah menurunkan Al-Qur’an untuk diimani, dipelajari, dibaca, ditadabburi, diamalkan, dijadikan sandaran hukum, dijadikan rujukan dan untuk dijadikan obat dari berbagai penyakit dan kotoran hati serta untuk hikmah-hikmah lain yang Allah kehendaki dari penurunannya.
  • Hendaknya seorang hamba bertakwa kepada Allah dalam (rangka menyelamatkan) dirinya dan hendaknya dia berkemauan keras untuk mengambil manfaat dari Al-Qur’an dalam segala hal.
  • Membaca Al-Qur’an disyari’atkan dan disunnahkan memperbanyak membacanya serta mengkhatamkannya sebulan sekali, namun ini tidak wajib.
[ta'awudz dan basmalah tidak peRlu untuk membaca al-quR'an??]

  • Membaca ta’awwudz yaitu lafadz a’udzu billahi minasysyaithanirrajim adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada setiap kali kita membaca Al-Quran.
  • Sama sekali tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa masing-masing juz itu terkait dengan tanggal kelahiran seseorang. para shahabat hingga para tabi’in dan para pengikut mereka yang shalih sepanjang zaman tidak pernah mengaitkan urutan juz dalam Al-Quran dengan tanggal kelahiran seseorang. Perbuatan ini tidak lebih dari bid’ah yang dibuat-buat oleh para zindiq yang bertujuan mengacaukan ilmu Al-Quran. Dan hanya orang awam saja yang akan tertipu dengan pola pembagian juz Al-Quran dengan menggunakan tanggal kelahiran.
[meRenungkan isi al-quR'an]

  • Merenungkan makna al-Qur’an pada prinsipnya adalah dengan cara mentadabburi dan memikirkannya. Seorang yang bagus bacaannya adalah apabila hatinya telah melunak dengan kalam Rabbnya, konsentrasi dalam mendengarkan dan menghadirkan segenap hati terhadap makna-makna sifat dari Dzat yang berbicara kepadanya, memperhatikan kekuasaan Nya, meninggalkan ketergantungan terhadap pengetahuan dan akalnya, melepas segala rasa keberdayaan dan kekuatan diri, mengagungkan Dzat yang berfirman kepadanya, merasa hina dengan kemampuan pemahaman nya.
  • Selayaknya seseorang yang membaca al-Qur’an mengetahui bahwa dirinya adalah yang sedang menjadi obyek sasaran dari pembicaraan al-Qur’an itu, dan dirinyalah yang mendapat ancaman. Dan kisah-kisah yang ada memberikan pelajaran. Maka ketika itu dia membaca al-Qur’an seperti membaca nya seorang budak, dan dirinya sedang menjadi sasaran dari tulisan tuannya. Maka hendaklah dia merenungkan al-Kitab dan mengamal kan apa yang menjadi tuntutannya.
  • Merupakan kewajiban bagi siapa saja -yang dikhususkan oleh Allah dengan menghafal al-Qur’an- agar membaca dengan bacaan yang sebenarnya (haqqa tilawatih), mentadabburi dengan hakikat ibrah dan pelajarannya, memahami segela keistimewaannya dan mencari tahu apa yang asing baginya. [Al-Imam al-Qurthubi]
  • Hendaknya dibaca dengan tenang, pelan-pelan dan tartil, dan merupakan kemuliaan al-Qur’an hendaknya (dalam membaca) dengan mencurahkan ingatan dan segenap pemahaman sehingga dapat mencerna apa yang difirmankan itu. Termasuk memuliakan al-Qur’an juga hendaknya berhenti pada ayat-ayat janji (wa’d) dan berharap kepada Allah subhanahu wata’ala serta memohon keutamaan dari-Nya, berhenti pada ayat ancaman (wa’id) dan memohon perlindungan kepada Allah darinya. [Al-Hakim at-Tirmidzi]
  • Apabila membaca al-Qur’an dengan tafakkur sehingga tatkala melewati ayat yang dia (pembaca) butuh terhadap ayat itu untuk mengobati hatinya, maka hendaknya dia mengulang-ulang ayat itu. Karena membaca satu ayat dengan tafakkur dan pemahaman, lebih baik daripada menghatamkan bacaan dengan tanpa tadabbur dan pemahaman. Dan juga lebih bermanfaat bagi hati, lebih dapat menghantarkan kepada tercapainya kesempurnaan iman serta rasa manisnya al-Qur’an.[Imam Ibnul Qayyim]
  • Kriteria minimal tartil adalah dengan meninggalkan ketergesaan dalam membaca al-Qur’an, dan yang sempurna adalah tartil di dalam membaca, merenungi ayat-ayat itu, memahaminya, serta mengambil pelajaran darinya meskipun sedikit di dalam membaca, dan ini lebih baik daripada terus membaca dengan tanpa pemahaman sama sekali. [Ibnu Muflih]
  • Seseorang yang membaca al-Qur’an hendaknya memperbagus suaranya dan membacanya dengan rasa takut dan dengan tadabbur. [Imam Ahmad bin Hanbal]
  • Hendaknya hati sibuk memikirkan makna-makna ayat yang dilafazhkan, sehingga mengetahui masing masing ayat, lalu merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangannya, serta berkeyakinan untuk menerima itu semua. Jika pada masa lalu ia termasuk orang yang tidak perhatian terhadap masalah itu, maka dia meminta ampun dan beristighfar, jika melewati ayat rahmat maka dia gembira dan memohonnya, atau melewati ayat adzab maka merasa takut dan meminta perlidungan, atau melewati ayat tentang penyucian atau tasbih kepada Allah subhanahu wata’ala,ƒnmaka hendak nya menyucikan dan mengagungkan-Nya, atau melewati ayat yang berisikan doa, hendaknya merendah diri dan memintanya. [Imam as-Suyuthim]
  • Dalam membaca al-Qur’an hendaknya menjadikan makna sebagai tujuan, sedangkan lafazh sebagai sarana untuk memahami makna, maka hendaknya melihat kepada siyaqul kalam (arah pembicaraan) serta kepada siapa pembicaraan itu ditujukan, lalu mempertemukan antara yang dia baca itu dengan pendapatnya dalam ayat yang lainnya. Dan hedaknya dia mengetahui bahwa al-Qur’an ditujukan untuk memberi petunjuk kepada seluruh manusia. Jika seorang memang telah mencurahkan seluruh perhatian dalam mentadabburi dan memahami Al-Qur’an maka Allah swt akan memuliakan hamba-Nya, dan Allah swt tentu akan membukakan ilmu-Nya berupa hal-hal yang tadinya tidak mampu dia usahakan. [al-’Allamah as-Sa'di]
[tidak taRtil dalam membaca al-quRan, bOlehkah?]

  • Dalam membaca al-Qur’an disunnahkan membacanya dengan tartil, yaitu pelan dan membaguskan bacaannya (sesuai tuntunan tajwid) serta bertadabbur (mengangan-angan maknanya) dalam hati akan isi setiap ayat yang dibaca. [QS. Al-Muzammil:4], [QS. Shad:27].
  • Apabila kurang fasih membacanya, atau sering salah melafalkan dengan tanpa sengaja, maka hukumnya tidak apa-apa. Namun bukan berarti boleh terus membaca apa adanya. Anda harus berlatih terus demi meningkatkan kemampuan membaca, sampai akhirnya bisa fasih sesuai dengan tuntunan tajwid. Karena kesalahan membaca (hurufnya dan panjang-pendeknya) tentu akan merubah makna dan tujuan yang tersirat. Juga hendaknya tidak melupakan hal lain yang paling urgen dalam membaca al-Qur’an yaitu bertadabbur (mengangan-angan) akan makna dan maksud setiap ayat.
[hukum tidak membaca al-quran
  • Disunnahkan bagi seorang mukmin dan mukminah untuk memperbanyak bacaan terhadap Kitabullah disertai dengan tadabur dan pemahaman, baik melalui mushaf ataupun hafalan.
  • Agar memperbanyak bacaan Al-Qur’an dengan cara mentadabburi, memahami dan berbuat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala disertai tujuan untuk mendapatkan faedah dan ilmu. Dan, hendaknya pula dapat mengkhatamkannya setiap bulan sekali dan bila ada keluangan, maka lebih sedikit dari itu lagi sebab yang demikian itulah kebaikan yang banyak. Boleh mengkhatamkannya kurang dari seminggu sekali dan yang utama agar tidak mengkhatamkannya kurang dari tiga hari sekali karena hal seperti itu yang sesuai dengan petunjuk Nabi SAW kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan karena membacanya kurang dari tiga hari akan menyebabkan keterburu-buruan dan tidak dapat mentadabburinya.
  • Tidak boleh membacanya dari mushaf kecuali dalam kondisi suci, sedangkan bila membacanya secara hafalan (di luar kepala) maka tidak apa-apa sekalipun tidak dalam kondisi berwudhu’./
[beRusahalah untuk mempeRbaiki bacaan al-quR'an]

  • Berusahalah untuk memperbaiki bacaanmu dengan cara belajar kepada salah seorang ahli Al-Qur’an (Al-Qura) yang sudah mu’tabar (dianggap keberadaannya) dan perbanyaklah membaca apa-apa yang telah engkau kuasai.
[wajib sungguh-sungguh dalam mengeluaRkan semua huRuf dari makhRajnya]

  • Wajib bagi orang yang tidak mampu melafalkan [dhadh] dari makhrajnya berusaha semaksimal mungkin dan mengerahkan kemampuannya untuk melatih lidah melafalkan [dhadh] dari makhrajnya dan mengucapkannya dengan ucapan yang benar. Bila ia tetap tidak mampu padahal sudah berusaha semampunya, maka dia itu dimaafkan dan tidak ada kewajiban. Kecuali mengucapkan sesuai kemampuannya.
[bisakah mengaji lewat mp3 playeR?]

  • Yang lebih penting dari Al-Quran itu bukan semata-mata kemampuan kita mengejanya, melainkan mampu membunyikannya dengan benar, sesuai dengan hak masing-masing huruf. Seseorang mampu membaca Al-Quran tanpa mengeja, berarti dia hafal Al-Quran. Dan hal itu tentu lebih utama dari sekedar mampu mengeja hurufnya semata.
  • Memang tidak salah bila anda memanfaatkan MP3 player untuk belajar Al-Quran, tapi ketahuilah bahwa masih ada satu fungsi mendasar yang belum bisa dicover olehnya. Yaitu fungsi untuk mengevaluasi atau membetulkan bacaan si murid. Padahal fungsi ini sangat vital dan tidak mungkin ditinggalkan.
[peRbaikilah niat anda dan peRbanyaklah membaca al-quR'an]

  • Obat lupa dalam menghapal Qur’an: Perbaiki niat anda dalam membaca Al-Qur’an. Jika telah hafal satu surat, maka seringlah membaca dan mengulang-ngulangnya sampai mantap dan kuat, jangan pindah ke surat lain, kecuali bila engkau sudah menghafalnya dengan itqan (mantap).
[membaca al-quR'an bagi wanita haid]

  • Yang lebih utama bagi seorang wanita haidh adalah tidak membaca Al-Qur’an kecuali jika hal itu dibutuhkan, seperti seorang guru wanita atau seorang pelajar putri atau situasi-situasi lain yang serupa dengan guru dan pelajar itu.
[hukum membaca al-quR'an bagi yang sedang junub]

  • Tidak boleh bagi orang yang sedang junub untuk membaca Al-Qur’an sebelum ia mandi junub, baik dengan cara melihat Al-Qur’an ataupun yang sudah dihafalnya. Dan tidak boleh baginya membaca Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci yang sempurna, yaitu suci dari hadats yang paling besar sampai hadats yang paling kecil.
  • Tidak diharamkan bagi orang yang sedang junub atau sedang haidh atau yang tidak berwudhu untuk menyentuh buku atau majalah yang didalamnya terdapat ayat-ayat Al-Qur’an , karena buku-buku dan majalah-majalah itu bukan Al-Qur’an.
[seyOgyanya menjaga hafalan al-quR'an sehingga tidak lupa]

  • Tidak selayaknya seorang hafizh lalai dari membacanya dan tidak maksimal dalam menjaganya. Seyogyanya dia mempunyai wirid (muraja’ah) harian agar dapat menghindari dari lupa sambil mengharap pahala dan mengambil pelajaran hukum-hukumnya, baik yang berupa aqidah maupun amalan. Namun orang yang hafal sedikit dari Al-Qur’an lalu lupa, karena banyak kesibukan atau karena lalai, maka dia tidak berdosa. Adapun hadits yang mengandung ancaman bagi orang yang menghafal kemudian lupa, tidak benar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[hukum mengucapkan shadaqallahul azhim ketika selesai membaca al-quR'an]

  • Ucapan, “Shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an adalah bid’ah, karena Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya, demikian juga para khulafa’ur rasyidin, seluruh sahabat radhiyallaHu ‘anHum dan imam para salafus shalih, padahal mereka banyak membaca Al Qur’an, sangat memelihara dan mengetahui benar masalahnya. Jadi, mengucapkannya dan mendawamkan pengucapannya setiap kali selesai membaca Al Qur’an adalah perbuatan bid’ah yang diada – adakan.
[hukum membaca al-quR'an beRsama-sama, membagi bacaan al-quR'an untuk ORang-ORang yang hadiR]

  • Pada dasarnya membaca Al-Qur’an haruslah dengan tatacara sebagaimana Rasullah SAW mencontohkannya bersama para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satupun riwayat dari beliau dan para shabatnya bahwa mereka membacanya dengan cara bersama-sama dengan satu suara. Akan tetapi mereka membacanya sendiri-sendiri atau salah seorang membaca dan orang lain yang hadir mendengarkannya.
  • Jika yang dimaksud adalah bahwasanya mereka membacanya dengan satu suara dengan ‘waqaf’ dan berhenti yang sama, maka ini tidak disyariatkan. Paling tidak hukumnya makruh, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah SAW maupun para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apabila bertujuan untuk kegiatan belajar dan mengajar, maka saya berharap hal tersebut tidak apa-apa.
  • Adapun apabila yang dimaksudkan adalah mereka berkumpul untuk membaca Al-Qur’an dengan tujuan untuk menghafalnya, atau mempelajarinya, dan salah seorang membaca dan yang lainnya mendengarkannya, atau mereka masing-masing membaca sendiri-sendiri dengan tidak menyamai suara orang lain, maka ini disyari’atkan.
  • Membagi juz-juz Al-Qur’an untuk orang-orang yang hadir dalam perkumpulan, agar masing-masing membacanya sendiri-sendiri satu hizb atau beberapa hizb dari Al-Qur’an, tidaklah dianggap secara otomatis sebagai mengkhatamkan Al-Qur’an bagi masing-masing yang membacanya. Adapun tujuan mereka dalam membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan berkahnya saja, tidaklah cukup. Sebab Al-Qur’an itu dibaca hendaknya dengan tujuan ibadah mendekatkan diri kepada Allah dan untuk menghafalnya, memikirkan dan mempelajari hukum-hukumnya, mengambil pelajaran darinya, untuk mendapatkan pahala dari membacanya, melatih lisan dalam membacanya dan berbagai macam faedah-faedah lainnya.
[memuliakan al-quR`an bukan dengan menciumnya]

  • Kebanyakan orang mengatakan bahwa perbuatan mengecup mushaf Quran tersebut tidak lain kecuali untuk menampakkan pemuliaan dan pengagungan kepada Al-Qur`anul Karim. Namun bentuk pemuliaan dan pengagungan seperti itu tidak dilakukan oleh generasi yang awal dari umat ini, yaitu para shahabat Rasulullah SAW, demikian pula oleh tabi’in dan atba’ut tabi’in” Tanpa ragu jawabannya adalah sebagaimana kata ulama salaf, “Seandainya itu adalah kebaikan, niscaya kami lebih dahulu mengerjakannya.” Jadi perbuatan mencium Al-Qur’an merupakan perbuatan bid’ah.
[caRa mudah hafal al quRan]

  • Cara menghafal Al-Qur’an: [1]. Niat ikhlas, [2]. Hatinya bersih, perbanyak ber-istighfar, [3]. Mohon kepada Allah agar Ia tolong kita mudah hafalkan AlQuran letakkan kefahaman itu dalam hati kita, [4]. Hafalkan sedikit demi sedikit, 1 ayat sehari, [5]. Setelah beberapa hari gabung ayat2 yang sudah dihafalkan. [6]. Demikian seterusnya sampai khatam seluruh AlQuran.
  • Kuncinya: • niat ikhlas, • istighfar sungguh, • minta tolong Allah fahamkan, • sedikit demi sedikit, • diulang-ulang, • istiqamah dan shabar.
[hafizh qur’an]

  • Para hafiz al-qur’an memiliki kemulian tersendiri dimata Allah Swt, Imam Thabrani rah.a telah meriwayatkan, bahwa Anas ra mengatakan Rasululah saw bersabda, “Barangsiapa mengajarkan anaknya membaca Al-Qur’an, maka dosa-dosanya yang akan datang dan yang telah lalu akan diampuni. Dan barangsiapa mengajarkan anaknya menjadi hafizh Al-Qur’an, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan wajah yang bercahaya seperti cahaya bulan purnama, dan dia akan berkata kepada anaknya, ‘Mulailah membaca Al-Qur’an,’ Ketika anaknya mulai membaca satu ayat Al-Qur’an, maka bapaknya dinaikkan satu derajat oleh Allah Swt, sehingga terus bertambah tinggi hingga tamat.”


Ya Allah , baguskanlah untukku agamaku yang jadi pangkal urusanku , baguskan pula duniaku yang menjadi tempat penghidupanku , dan baguskanlah akhiratku yang padanya tempat kembaliku nanti , jadikanlah hidup itu menjadi bekal/tambahan bagiku dalam segala kebaikan , serta jadikanlah mati itu pelepas segala keburukan bagiku . (HR.Muslim)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui. (QS. Al Baqarah:261)

 
Copyright Blog,lathifatun qalbiah 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .