Berimanlah Kepada Allah Kemudian Istiqomahlah Engkau

  “Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah perintah Allah kepadamu, agarkamu bertaqwa”. (QS. Al-An’am 6:153)
Ayat di atas merupakan peringatan Allah tentang pentingnya konsistensi dalam membela kebenaran. Karena, terlalu banyak jalan yang bisa membuat kita tidak konsisten. Apa yang dulu dikecam dan kritik, justru kemudian dilakoni.
Itulah yang kini sedang melanda para pemimpin negeri ini. Ketika kesempatan datang mereka justru berubah menjadi orang yang paling getol melakukan apa yang dahulu kerap dikritik dan dikecamnya. Kebobrokan dimana-dimana. Dari birokrasi pemerintahan, penegak hukum, MPR/DPR dan lain-lain.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, diceritakan dialog Rasulullah dengan sahabat Abu Umrah Supyan bin Abdullah. Kata Abu Umrah, “Ya Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang tidak perlu aku menanyakan hal itu kepada orang lain selain dirimu.” Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah.” “ jawab Rasulullah. Selanjutnya beliau menandaskan, “Kemudian istiqomahlah engkau.” (Riyadhus Shalihin)
Dalam nasihat di atas Rasulullah menyampaikan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, Iman dan Istiqomah. Tidak ada artinya iman yang muncul begitu kuat dipermulaan, bila ditutup dengan inkonsistensi iman. Dengan begitu anjuran Rasulullah Saw agar kita mengakhiri hidup kita dengan kesudahan yang baik (husnul khatimah) menemukan maknanya di sini.
Syeikh Abdullah Nasih Ulwan, mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan Iman adalah:
Pertama, keyakinan yang tertanam dalam lubuk hati bahwa kehidupan dan kematian itu berada dalam genggaman Allah.
“Dan apapun yang Allah SWT timpakan kepada seorang hamba tiada yang mampu mengelakkannya, sebagaimana jika Allah menghendaki untuk menyelamatkan seseorang tak ada musibah yang akan menimpanya. Demikian pula bila sekumpulan orang berhimpun untuk memberi manfaat kepadanya, mereka tidak akan dapat memberinya kecuali yang telah Allah tetapkan untuk orang tersebut.
Begitu juga jika mereka hendak menyusahkan seseorang, mereka tidak akan berhasil kecuali apa yang memang telah Allah gariskan.” Begitulah kata Rasulullah SAW kepada lbnu Abas (Riyadhus Shalihin)
Dengan demikian seorang Mukmin akan terbebas dari ketakutan, kelemahan dan keresahan. Dirinya pun terhiasi kesabaran, keperkasaan dan keberanian. Begitulah yang pernah ditampilkan generasi awal umat ini. Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqash dan lain sebagainya adalah pribadi tangguh yang tak pernah gentar menghadapi berbagai ujian.
Kedua, Iman juga berarti seorang Mukmin yakin bahwa rezeki itu berada dalam genggaman Allah semata.
“Jika Allah berkehendak melapangkan rezeki hamba-Nya, tak ada seorangpun yang mampu menghalanginya. Demikian pula sebaliknya. Jika Allah hendak membatasi rezeki seseorang, niscaya tidak seorang pun yang dapat memberinya. (QS. 17:30 dan 67:21).
Dengan begitu, pribadi Mukmin akan terbebas dari ketamakan terhadap dunia, kerakusan, kekikiran dan kebakhilan. Dirinya terhiasi dengan kemuliaan, kemurahan dan kedermawanan. Begitulah sosok Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan dan yang lainnya.
Ketiga, Iman juga berarti bahwa setiap lintasan perasaan dan kesadarannya, setiap Mukmin meyakini bahwa Allah senantiasa menyertai, mendengar dan memperhatikannya.
Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang nampak, dan Mengetahui pandangan mata yang khianat Dan yang disembunyikan hati. “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.
Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka, di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat siapa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Qs. Al- Mujadilah,58:7).
Dengan demikian, seorang mukmin akan terbebas dari kungkungan perilaku destruktif hawa nafsu, dorongan-dorongan nafsu amarah dan kejahatan, bisikan setan serta godaan fitnah harta dan wanita. Dia pun akan selalu merasakan muraqabah (pengawasan) Allah, tutur ikhlas seraya memohon pertolongan hanya kepada-Nya.
Segala aktivitas yang dilakukan dia tunaikan dengan penuh amanah, serius dan dirampungkan secara baik. Bila dia berada di tengah-tengah manusia, dia hadir dengan sepenuh kemanusiaannya, sejajar dengan manusia lainnya, penuh kebaikan dan ketaqwaan. Kehadirannya selalu membawa angin segar bagi orang lain. Saat membaur dengan masyarakat, dia tuntun masyarakat dengan penuh kearifan dan bijaksana.
Pelajaran kedua yang diberikan Rasulullah Saw kepada Abu Umrah, dan itu harus mengiringi terus keimanan seorang mukmin, adalah sikap Istiqomah. Secara harfiyah, Istiqomah berasal dari kata istaqaama, yastaqiimu, stiqaamatan, yang berarti tegak lurus.
Makna demikian pemah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ad Darami, dari Ibnu Masud, Rasulullah suatu hari membuat satu garis lurus di hadapan beberapa sahabat.
Kemudian beliau membuat pula garis melintang di kanan kiri garis lurus tersebut. Sambil menunjuk garis lurus itu, beliau bersabda, “Inilah jalan Allah.” Kemudian sambil menunjuk garis-garis yang banyak yang ada di kanan kiri garis lurus tadi, beliau bersabda lagi, Inilah jalan-jalan yang bersimpang, pada setiap jalan itu ada syetan yang selalu menggoda.” Setelah itu beliau membacakan ayat 153 dari Surat al An’am di atas.
Dalam bahasa akhlak, menurut ustadz Yunahar Ilyas, Istiqomah berarti sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman, sekalipun menghadapi berbagai tantangan dan godaan. Seorang yang istiqomah adalah laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipukul dan diterjang oleh gelombang dan ombak yang menggulung.
Lebih jauh, seorang tokoh tua gerakan Islam Indonesia, KH. Firdaus A.N, mengartikan istiqomah dengan konsisten. Artinya senantiasa beijalan dalam jalur kebenaran yang lurus menurut garis-garis yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Jadi, menurutnya, kalau seseorang telah menyatakan pengakuannya sebagai orang mukmin, maka dia harus konsekuen dan konsisten atas pernyataan dan pengakuannya, sehingga segala tindak dan langkahnya tidak menyimpang dari garis petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat.
Sebagai konsekuensi dari sikap konsisten ini, maka seorang mukmin harus siap menyongsong arus. lbarat seorang nelayan, dia memiliki tujuan yang jelas dan pasti dalam hidupnya. Karenanya, dia siap menyongsong arus sebesar apapun demi menggapai tujuan. Bukan layaknya sampah dan buih yang mengapung mengikuti kemana arah ombak dan angin bertiup.
Dengan demikian seorang mukmin tidak akan terbuai oleh bujuk-rayu dunia, harta, tahta dan wanita. Begitulah teladan Rasulullah Saw untuk orang mukmin. Ketika kaum Quraisy – melalui paman beliau Abi Thalib-mangajak kompromi dengan tawaran harta, tahta bahkan wanita.
Nabi Saw dengan tegas menjawab: “Wahai pamanku, demi Allah, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu ada di tanganku, atau aku binasa karenanya.”
Konsistensi yang diperlihatkan Nabi Saw tersebut hendaknya menjadi panduan buat langkah-langkah kita. Sebab, jika sikap istiqomah (konsisten) ini benar-benar melekat pada diri seorang mukmin, maka kelak ia akan mampu meraih husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik), bukan sebaliknya akhir kehidupan yang jelek (su’ul khatimah).
Buah Konsistensi
Konsistensi iman juga dapat tercermin dalam sikap tsabat (teguh) dan tidak mudah berubah menghadapi perubahan situasi dan kondisi. “Dia tidak ‘ima’ah,” kata Rasulullah, “jika manusia baik dia baik pula, jika manusia dzalim dia ikut dzalim . Tapi sebaliknya, seorang mukmin sejati tidak akan berubah-ubah pendiriannya (muwaththinan), dia berjuang untuk merubah status quo yang dzalim dan ketinggalan zaman.”
Menurut KH. Firdaus A.N, orang yang istiqomah dan konsisten itu selalu setia pada fitrahnya. Tidak berubah asin karena garam, tidak berubah merah karena darah, tidak berubah hitam karena tinta dan tidak berubah kuning karena kunyit.
Layaknya ikan di laut. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun tinggal di laut, dia tetap tawar rasanya, tidak berubah menjadi asin, setia kepada kepribadian dan identitasnya sesuai dengan fitrahnya semula. Ikan hanya akan berubah menjadi asin setelah mati, karena diasinkan manusia dengan garam.
Iman yang sempuraa adalah iman yang mencakup tiga dimensi: Al i’tiqadu bil jinan wal qawlu bil lisan wal ‘amalu bil arkan (keyakinan dalam hati, ungkapan dalam lisan dan diekspresikan dalam amal perbuatan). Konsistensi dan keselarasan ketiga itu mencerminkan tertanamnya sikap istiqomah.
Ia selalu menjaga kesucian hatinya dari keyakinan dan pemikiran yang merusak. Perkataannya teruji kebenarannya tidak mencla-mencle. Perilakunya selalu dalam koridor yang ditentukan Allah dan Rosul-Nya. Banyak hal yang bisa dipetik dari sikap konsisten dan istiqomah ini, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman dalam surat Fushilat (41) ayat 30-32: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan ( memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.
Kamilah pelindung- pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Orang yang istiqomah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang negatif dan tidak pada tempatnya. Takut menghadapi masa depan, takut menyatakan kebenaran, takut mengalami kegagalan dan lain sebagainya. Dia akan hadapi segala rintangan dan ujian dalam perjuangan dengan penuh keberanian dan kepercayaan yang utuh kepada pertolongan Allah.
Ia tidak merasa sedih manakala mendapatkan kesusahan dan tindak kedzaliman akibat memperjuangkan agama Allah ini. Sebaliknya ia tidak akan terjatuh dalam kesombongan dan lupa jati diri manakala memperoleh kesuksesan.
Orang yang istiqomah selalu yakin akan menuai kesuksesan hidup. Yakni dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka. Dan itulah hakikat keberhasilan yang sejati. Wallahualam

Jagalah Empat Permata Ini Agar Bisa Meraih Kebahagiaan Yang Hakiki.

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tien 4-6).

Di antara karunia Allah yang amat sangat berharga dan wajib kita syukuri adalah pemberian-Nya berupa akal, agama, rasa malu dan kemampuan untuk beramal shaleh. Dengan keempat karunia tadi, manusia dengan kehendak-Nya bisa meraih kebahagiaan yang hakiki dan abadi, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Sebaliknya, adalah sebuah tindakan yang bodoh, jika kita sudah dikaruniai empat permata tadi yang tak ternilai harganya, tetapi tidak kita syukuri, bahkan kita rusak dan bahkan disalah gunakan.
Nabi SAW penuntun perihal peri kehidupan kita pernah bersabda : “ Empat permata pada diri anak Adam yang dapat hilang karena empat perkara : 1. Akal, 2. Agama, 3. Rasa malu, dan 4. Amal shaleh. Kemarahan dapat menghilangkan akal (sehat), hasud (dengki) dapat menghilangkan agama, tamak dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah dapat menghilangkan amal shaleh.” (Imam Nawawi Al Bantani).
Mari kita cermati isi hadits tersebut tadi:
1. Karunia berupa akal fikiran.
Karunia Allah yang merupakan permata tak ternilai yang pertama adalah akal. Akal inilah yang membedakan antara kita ummat manusia dengan hewan. Dengan akal, manusia bisa membedakan dan memilih mana yang benar mana yang salah, mana yang baik, mana yang buruk, mana yang membawa manfaat dan mana yang membawa mudarat, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan, mana yang haq dan mana yang bathil.
Semakin tajam akal itu, semakin piawai dalam menentukan sikap. Sebaliknya, jika akal itu dibiarkan tumpul berkarat, tanpa diasah dengan pendidikan atau lainnya, atau dibiarkan terkena virus penyakit hati, maka akal itu semakin tak berfungsi.
Jika akal sampai tak berfungsi, tak ubahnya bagaikan hewan. Ahli Jiwa mengatakan: “Jika tanpa akal, manusia tak ubahnya bagaikan binatang.” Oleh karena itu Al Quran banyak mengingatkan kita untuk menggunakan akal secara maksimal sebagai bentuk syukur atas karunia tersebut. Ini tercermin dal am kata “ Afalaa ta’qiluun (apakah kalian tidak menggunakan akal ?) afalaa tatafakkaruun (adakah kalian tidak berfikir ?) “ dll.
Satu hal yang bisa merusak kesehatan akal adalah marah (ghodhob). Meskipun akal seseorang itu sudah diasah demikian tajam, akan tetapi jika ia tidak mampu mengendalikan nafsu amarahnya, akal sehatnya pun bisa tersisihkan. Bahkan iman pun bisa rusak karenanya.
Rasulullah Saw pernah mengingatkan Mu’awiyah yang bertemperamen tinggi untuk tidak gampang marah, dengan sabdanya: “ Wahai Mu’awiyah, jauhilah olehmu sifat gampang marah, karena marah itu bisa merusak iman, bagaikan pahitnya bratawali yang merusak manisnya madu. “ (HR. Baihaqi).
Pantas jika dalam suatu peradilan, seorang hakim tak boleh memutuskan perkara manakala ia dalam keadaan marah, karena keputusannya pasti tidak akurat.
2. Karunia berupa agama.
Allah SWT menciptakan agama adalah untuk dijadikan pedoman hidup bagi makhluq-Nya yang disebut manusia, karena hanya manusia lah yang diberi akal fikiran, dan dengan itu, hanya manusia yang berakal sehat saja, yang bisa menerima tuntunan hidup tadi. Adapun yang akalnya tak sehat misalnya orang gila, maka mereka tidak dibebani dengan ajaran agama.
“ Agama itu akal, tidak perlu beragama orang yang tak berakal”. Selanjutnya, akal untuk bisa berfikir jernih sesuai tuntunan, patokannya adalah agama, karena sebenarnya agamalah yang menjadi barometer haq dan bathil, benar salah, baik ataupun buruk. Tanpa barometer agama, akal fikiran bisa liar, bagaikan orang buta yang tidak tahu arah.
Seorang Orientalis bernama Arnold Toyn Bee pernah mengatakan: “ Sience without religion is blind Religion without science is lame artinya Ilmu pengetahuan tanpa agama itu buta “ Agama tanpa ilmu pengetahuan itu lemah.
Satu hal yang dapat merusak karunia agama adalah hasud (dengki). Hasud ini akan menimpa siapa pun, meskipun orang yang tekun beragama sekali pun. Oleh karena itu Rasulullah Saw pernah berpesan yang artinya : “Jauhilah oleh kalian hasud, karena sesungguhnya hasud itu akan memakan (pahala) kebaikan, seperti halnya api yang memakan kayu bakar. ” (HR. Abu Dawud)
3. Karunia berupa rasa malu (hayaa’).
M. Hasbi Ash shiddieqy mendefinisikan, “ Malu adalah perasaan undur seseorang sewaktu tampak dari dirinya sesuatu yang membawa ia tercela”.  Rasa malu inilah yang merupakan sendi keutamaan dan dasar budi pekerti mulia. Dengan malu kepada orang lain, orang itu tidak akan berbuat semena-mena yang membuat dirinya malu jika dilihat orang.
Dan jika malu kepada Allah, pasti dia tidak mau melanggar larangan atau mengabaikan perintahNya. Berbagai statemen yang disampaikan Rasul perihal malu ini, di antaranya :
a. “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu. ” (HR. At Timidzi)
b. “Sesungguhnya malu dan iman itu digandengkan dan tak terpisah di antara keduanya. Jika yang satu diambil, yang satu pun terambil pula ” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi).
c. “Jika kamu tidak malu, lakukan apa saja yang kau suka. ” (HR. Al Bukhari).
Adapun hal yang bisa merusak bahkan menghilangkan rasa malu bagi seseorang adalah sifat tamak kepada harta. Semakin seseorang itu tamak,dia semakin tidak tahu malu. Jika sudah tidak tau malu, luntur pula iman yang menghiasi dirinya. Jika sudah demikian, tak ubahnya bagai binatang yang tak tahu malu jalan telanjang di jalan umum.
4. Karunia berupa amal shalih.
Amal shalih juga merupakan permata pemberian Allah yang harus kita syukuri, karena dengan kita beramal shalih, kita akan mendapatkan pahala, di mana pahala inilah yang akan memperberat timbangan kebaikan kita di hari penimbangan amal kelak.
Semakin berat timbangan amal kebaikan kita, semakin gampang langkah kita menuju surga Allah. Sedangkan yang merusak amal shalih adalah ghibah (menggunjing, ngrasani). Semakin banyak kita menggunjing orang lain, semakin habis pahala kebaikan yang sempat kumpulkan. Maka setelah kita beramal shalih, jaga betul agar kita tidak menggunjing orang agar pahala amal shalih kita bermanfaat.
Demikian, semoga ke empat permata karunia Allah tadi bisa kita jaga eksistensinya dengan sebaik baiknya. Amin


Ternyata Malaikat Pun Dapat Mendoakan Kita Orang Orang Yang Beriman

  Biasanya seseorang gembira jika didoakan oleh orang lain, apalagi jika orang yang mendoakan tersebut dianggap memiliki kelebihan dari dirinya dalam hal agama.

Saling mendoakan adalah sunnah Rasulullah Saw, sehingga Beliau pernah mengatakan kepada Para Sahabatnya, “Laa tansaana bi du’aaika ya ukhayya” (Jangan engkau lupakan kami dalam doamu wahai saudaraku).
Namun demikian, bukan hanya Kaum Muslimin yang saling mendoakan satu dengan yang lain, ternyata Malaikat pun dapat mendoakan orang-orang yang beriman. Yaitu apabila syarat dan ketentuannya dipenuhi.
Beriman dan Bertaubat
Informasi tentang ketentuan doa Malaikat berasal dari Allah Ta’ala dan Rasululullah Saw. Allah Azza wa Jalla, Berfirman : Mereka para malaikat yang memikul ArRasy (Singgasana) dan yang berada di sekitarnya melantunkankan pujian kepada Tuhan Nya, beriman kepada Nya dan memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman: “Ya Tuhan kami, Begitu luasnya rahmat dan ilmu Mu, meliputi segala-galanya. Karena itu berilah ampun kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Mu, peliharalah mereka dari siksa Nyala Api Neraka” (QS. Al Mu’min: 7)
Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang doa dan permohonannya selalu dikabulkan Allah. Maka sungguh beruntung jika Malaikat mendoakan Kita. Dalam ayat di atas Allah menjelaskan bahwa para Malaikat pun selalu memuja Allah, senantiasa beriman dan memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang yang senantiasa bertaubat dan mengikuti Jalan Allah.
Dengan kata lain, orang-orang muknmin tidak akan pernah sendirian dalam beribadat kepada Allah. Mereka akan mendapatkan dukungan dan doa para Malaikat.
Adapun menurut Rasululullah Saw setidaknya ada 12 jenis orang yang kebiasaan hidupnya selalu didoakan Malaikat : 
1. Orang yang biasa tidur dalam keadaan wudhu selalu memperbaharui wudhunya di saat batal sehingga ketika menjelang tidur sekali pun dia bersuci lebih dahulu.
“Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersemayan di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si Fulan karena tidur dalam keadaan suci. ”
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat, mereka sudah duduk di Masjid sebelum adzan memanggil.
“Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampuni ia. Ya Allah sayangilah ia “  (H.R. Muslim)
3. Mereka yang berada di shaf depan dalam shalat berjamaah.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan ” (H.R. Imam Abu Dawud)
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada Shalat Berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf” (Shahih At Targhib)
5. Para Malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika Seorang Imam Selesai Membaca Al Fatihah.
“Jika seorang imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ’alaihim waladh dhaalliin maka ucapkanlah oleh kalian ‘aaamiin ’, karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu ” (HR. Imam Bukhari)
6. Seorang yang duduk di tempat shalatnya Setelah Melakukan Shalat.
“Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) untuk salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah, ampunilah dan sayangilah ia”  (HR. Ahmad)
7. Orang-orang yang melakukan shalat Subuh dan Ashar secara berjamaah.
“Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga subuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, “Bagaimana kalian meninggalkan hambaku? mereka menjawab, “Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat” (HR. Ahmad)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan” (HR. Muslim)
9. Orang-orang yang berinfak, yaitu membagikan sebagian rizki yang dia miliki kepada fakir miskin, anak-anak yatim dan orang-orang yang memerlukan bantuan.
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada pada kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak”. Dan malaikat lainnya berkata, “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Orang yang sedang makan sahur yaitu orang yang berniat berpuasa dan memulai puasanya dengan sahur.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” (Shahih Al Targhib)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit dengan niat ikhlas ingin membantu meringankan penderitaannya.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (HR. Ahmaad)
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain seperti para Ustadz dan guru yang ikhlas dalam mendidik murid-muridnya agar berakhlak mulia juga didoakan oleh para Malaikat.
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian, sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi)
Kepada Malaikat Kami Beriman
Iman kepada Malaikat tidak dapat dipisahkan dari Iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Keenam rukun iman saling mengokohkan satu dengan yang lain. Keimanan seseorang kepada Malaikat dapat mengokohkan posisi seseorang dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, meringankan yang sulit dan menghibur di kala duka.
Para Malaikat melakukan pengawasan melekat yang dapat membuat orang-orang yang mengimani pengawasan ini takut kepada Allah, tercegah dari maksiat dan tentu saja mendapatkan nilai (pahala) yang tinggi di sisi Allah. Para Malaikat ini ada yang diberi tugas menjaga orang-orang yang amalnya disenangi Allah, seperti yang dinyatakan Allah dalam hadits riwayat Ad-Dailami berikut ini,
Allah Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi) :  “Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram larangan Ku dan tidak terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing.
Semua itu dilakukan karena Aku. “Demi keagungan dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajah lebih bersinar dari matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepadaKu dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya.
Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. Bagi Ku dia sebagai surga Firdaus yang belum tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya.”
Hadits ini menegaskan bahwa ibadah sholat hendaknya diiringi dengan akhlak mulia yaitu menjaga nafsu dari perbuatan haram dan melakukan ibadah sosial dengan berbagi dan menyantuni orang-orang yang lemah. Inilah syarat ibadah khusus itu diterima di sisi Allah.
Allah mencintai orang-orang yang meninggalkan yang haram, memberi makan orang-orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang-orang yang telanjang, mengasihi orang-orang yang terkena musibah, dan menampung orang-orang yang memerlukan tempat tinggal.

 MACAM2 SABAR.

Kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian sebenarnya memberi pelajaran kepada manusia agar pandai bersikap sabar. Pada sebagian orang, sabar mungkin sulit dilakukan karena sabar sangat berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan nafsu amarahnya, berarti ia belum menerapkan sabar dalam kehidupannya.
Pada dasarnya sifat sabar dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
  1. Sabar dalam menghadapi cobaan.
  2. Sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah.
  3. Sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Pertama, sabar dalam menghadapi cobaan atau ujian (musibah). Setiap cobaan yang diberikan Allah merupakan bentuk cinta kasih Allah kepada hamba-Nya. Setiap cobaan yang datang kepada kita membuka pintu pahala bagi kita. Dan dengan sabar menghadapi setiap cobaan yang datang maka kita akan dengan mudah memperoleh pahala yang telah dijanjikan Allah. Namun bila kita tidak bisa sabar maka yang kita peroleh hanyalah cobaan tersebut tanpa ada pahala yang menyertainya. Hendaklah kita selalu ingat bahwa Allah Maha Mengetahui akan kemampuan setiap makhluk-Nya. Untuk itu Allah tidak akan memberi cobaan kepada seseorang di luar kemampuan orang tersebut. Orang yang cerdas akan selalu berjiwa besar, berpikiran lapang, berjiwa tenang dan tahan menerima cobaan. Mereka terus berusaha dan berpasrah diri pada Allah. Allah berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menghadapi musibah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya seratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara Arasy dan bumi. Allah berjanji akan memberikan jalan keluar bagi orang yang sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini Allah swt. berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ
Artinya: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2-3).
Maksudnya, segala ujian dan cobaan dalam hidup akan berakhir dengan mendapatkan hasil yang terbaik bagi seseorang yang memiliki kesabaran, dan ketakwaan yang teguh kepada Allah.
Kedua, sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Sebagai orang Islam kita memang mempunyai kewajiban menjalankan perintah-perintah Allah. Kita harus sadar bahwa di dalam setiap kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepada hamba-hamba-Nya terdapat hikmah yang baik bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Oleh karena itu, jika kita menjalankan segala apapun perintah-perintah Allah dengan sabar maka kita dapat merasakan nikmat sabar itu sendiri dan setiap ibadah yang kita lakukan akan terasa lebih indah. Allah juga berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya tiga ratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara langit dan bumi. Sabar dan taat dalam menjalankan perintah Allah terdapat dalam firman-Nya:
اِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ اِنَّهُ اَوَّابٌ
Artinya: “Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shad: 44).
Ketiga, sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Akan tetapi jika kita menjauhi hal-hal yang dilarang Allah dengan berat hati maka hal tersebut hanya akan menjadi beban bagi diri kita. Kita seharusnya juga sadar bahwa hal apapun yang dilarang Allah pasti hal tersebut membawa akibat buruk bagi kita jika tidak menjauhinya. Allah juga berjanji bahwasanya orang yang sabar dalam menjauhi dan meninggalkan larangan Allah maka pada hari kiamat nanti Allah akan memberikan kepadanya enam ratus derajat di surga dan jarak setiap derajat adalah seluas antara langit ketujuh (langit yang tertinggi) dan bumi yang ketujuh (bumi yang terbawah). Dalam firman-Nya disebutkan:
وَ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ
Artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. ali-Imran: 186).
Allah swt. juga memberi tahu kita agar berhati-hati dan tetap bertakwa menanamkan kesabaran dalam hati di saat menghadapi cobaan karena cobaan yang diberikan Allah bukan hanya berupa musibah, harta yang dimiliki juga merupakan cobaan. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
لَتُبْلَوُنَّ فِى اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَفُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا اَذَى كَثِيْرًا
Artinya: “Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik.” (QS. ali-Imran: 186).
Dari ketiga macam sabar yang telah diuraikan di atas, yang paling dikenal dalam lingkungan kita sehari-hari adalah sabar dalam menghadapi cobaan (musibah).
Untuk itu, marilah kita membiasakan diri untuk berbuat mulia, membuang jauh-jauh sifat yang hina dan tercela. Mari kita menghiasi pribadi kita dengan watak kemanusiaan yang sempurna, dengan amal perbuatan yang berguna dan bertindaklah dengan sikap ksatria. Semuanya itu dapat kita lakukan jika kita selalu dekat dan memohon petunjuk dari Allah swt. karena hidayah Allah itu akan mendorong diri untuk bermental baja, tidak mudah menyerah, sanggup melakukan hal-hal yang positif dan mampu meninggalkan hal-hal yang negatif, serta sabar dalam menghadapi segala musibah. Sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 153).
Tanam dan pupuklah sifat sabar yang ada dalam diri kita karena dengan kesabaran, kebahagiaan hidup akan dapat kita capai. Dan selalu ingatlah kepada Allah karena Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar yang selalu ingat kepada-Nya. Sabar juga akan mengangkat derajat kemanusiaan menuju taraf yang lebih tinggi.

WAKTU MUSTAJAB DALAM BERDOA

Berdo’a sebagai salah satu komunikasi kita dengan Allah seharusnya dapat dimaksimalkan untuk memohon apapun yang ingin kita minta, karena hanya kepadaNya lah kita menghamba dan meminta. Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya, maka ia pasti membutuhkan tempat untuk mencurahkannya.
Allah akan berada pada posisi terdepan untuk menghilangkan segala kesulitan yang kita alami jika kita mau untuk memohon kepadaNya. Allah sangat mencintai hambaNya yang mau meminta dan berdo’a kepadaNya, sebaliknya Allah akan menghukum seseorang yang meminta dan memohon kepada selain Allah. Ada beberapa waktu yang paling mustajab untuk berdo’a.
Pada sepertiga malam terakhir dan setelah shalat fardlu
Dari Abu Umamah ra, katanya: "Rasulullah saw ditanya: "Manakah doa yang lebih pasti untuk didengar itu-selanjutnya lalu dikabulkan?" Beliau saw menjawab: "Yaitu di tengah malam yang terakhir dan sehabis shalat-shalat yang diwajibkan". (Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan)
Salah satu diantara waktu yang terijabahi untuk berdo’a adalah pada sepertiga malam terakhir, waktu dimana Allah turun ke langit bumi untuk melihat hamba-hambaNya secara langsung. Waktu dimana para setan gencar untuk menebarkan rayuan-rayuan mereka agar terus berlindung di balik selimut mereka. Pada saat inilah Allah akan mengapresiasi hamba-hambaNya yang mampu mengalahkan rayuan setan dan mengerjakan shalat tahajud dengan mengabulkan do’a-do’a mereka.
Ketika sujud
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: "Sedekat-dekat seseorang hamba itu dari Tuhannya ialah dalam keadaan ia bersujud, maka dari itu perbanyakkanlah berdo’a ketika bersujud itu". (Riwayat Muslim)
Dalam keadaan sujud, kita berada pada titik terendah karena kepala yang menjadi bagian paling mulia seorang manusia ditempatkan pada posisi paling bawah. Hal ini menunjukkan bahwa kita sebagai seorang manusia tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan Allah Tuhan pencipta alam, maka sujud sebagai simbol ketundukan kita kepada pencipta. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya karena itu adalah selendang Allah, hanya Allah yang berhak untuk itu.
Waktu berpuasa
Rasulullah saw bersabda: Tiga kelompok yang do’anya tidak tertolak yaitu: orang yang berpuasa sampai berbuka, imam (pemimpin) yang adil, dan do’a orang yang teraniaya. Allah mengangkat do’a itu di atas awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit dan Allah berfirman: Demi keagungan-Ku Aku betul-betul akan menolongmu walaupun sesudah ini. (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Waktu antara adzan dan iqamah
Rasulullah saw bersabda: Tidak di tolak do’a yang dipanjatkan pada waktu antara adzan dan  iqamat (HR.Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad)
Waktu di antara adzan dan iqamah juga menjadi salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdo’a. Sebaiknya waktu-waktu tersebut digunakan untuk berdo’a atau untuk melaksanakan shalat-shalat tathawwu’ atau sunnah dari pada kita gunakan untuk berbincang-bincang yang tidak berguna. Wallahua’lam.

 KUMPULAN DOA

Do’a sayyidul istighfar


وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Syaddad Ibnu Aus Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau)." Riwayat Bukhari.

Do’a memohon perlindungan dari murka


وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ( اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa (artinya = Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari menghilangnya nikmat-Mu berpindahnya keselamatan-Mu kedatangan adzab-Mu yang tiba-tiba dan dari segala kemurkaan-Mu)." Riwayat Muslim.

Do’a agar terhindar dari hutang


وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ اَلدَّيْنِ وَغَلَبَةِ اَلْعَدُوِّ وَشَمَاتَةِ اَلْأَعْدَاءِ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa: "(Artinya = Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari bahaya hutang bahaya musuh dan kemenangan para musuh)". Riwayat Nasa'i. Hadits shahih menurut Hakim.

Do’a ketika pagi dan petang


وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَصْبَحَ يَقُولُ: اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ اَلنُّشُورُ ) وَإِذَا أَمْسَى قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: ( وَإِلَيْكَ اَلْمَصِيرُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ

Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila pagi berdoa: "(artinya = Ya Allah dengan kekuasaan-Mu aku memasuki pagi dengan kekuasaan-Mu aku memasuki petang dengan kekuasaan-Mu aku hidup dengan kekuasaan-Mu aku mati dan kepada-Mu-lah tempat kembali)." Bila petang hari beliau juga membaca doa tersebut namun beliau menambahkan: "(Artinya = Dan kepada-Mu-lah tempat berpulang)". Riwayat Imam Empat

Do’a memohon kebaikan dunia akhirat


وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَبَّنَا آتِنَا فِي اَلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اَلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ اَلنَّارِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Anas berkata: Kebanyakan doa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ialah: "(artinya = Ya Tuhan kami berilah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari api neraka)." Muttafaq Alaihi.

Do’a terhindar dari sifat boros


وَعَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَدْعُو: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اَللَّهُمَّ اِغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ اَلْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Musa al-Asy'ary Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca doa: "(artinya = Ya Allah ampunilah dosaku kebodohanku keborosanku dalam urusanku dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah ampunilah diriku karena kesungguhanku senda gurauku kesalahanku dan kesengajaanku semuanya itu ada padaku. Ya Allah ampunilah diriku dari dosa yang telah dan aku lakukan apa yang aku sembunyikan apa yang aku tampakkan dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau yang memajukan Engkau yang mengundurkan dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu)." Muttafaq Alaihi.

Do’a memohon ilmu yang bermanfaat


َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: اَللَّهُمَّ اِنْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَارْزُقْنِي عِلْمًا يَنْفَعُنِي ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَالْحَاكِمُ

Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah membaca doa: "(artinya = Ya Allah manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku ajarilah aku dengan apa yang bermanfaat bagiku dan limpahkanlah rizqi ilmu yang bermanfaat bagiku)." Riwayat Nasai dan Hakim.
Sumber: Kitab Bulughul Maram Karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaani

1 komentar:

Pambudi mengatakan...

Assalamualaikum...
tdk sengaja mampir. Blognya bagus, isinya padat dan berisi.
klo boleh usul, layout agak di atur sy ykin akan mkin bagus. dan org akan lbih trtarik lagi untuk membaca.
Sukses... Wasslmlkm....

Posting Komentar

 
Copyright Blog,lathifatun qalbiah 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .